Kenapa Rohingya ke Aceh? Sohidul Islam, “Karena Indonesia Orangnya Baik!”

Kondisi para pengungsi Rohingya di Balai Meuseraya Aceh, (Riska Zulfira/masakini.CO)

Bagikan

Kenapa Rohingya ke Aceh? Sohidul Islam, “Karena Indonesia Orangnya Baik!”

Kondisi para pengungsi Rohingya di Balai Meuseraya Aceh, (Riska Zulfira/masakini.CO)

MASAKINI.CO – Fajar terbit, kapal kayu itu berlabuh. Tepatnya di Desa Ulam, Dusun Blang Ulam, Gampong Lamreh, Kecamatan Masjid Raya, Aceh Besar.

Mereka melompat ke air, berkumpul di pantai. Peristiwa itu terjadi pada Minggu, (10/11/2023) pagi.

Sontak seketika kabar kedatangan mereka viral di media sosial. Masyarakat berbondong-bondong untuk menyaksikan pengungsi Rohingya.

Mereka membawa gulungan kain yang berisi baju serta peralatan lainnya. Lari dari negaranya dengan kondisi yang memprihatinkan.

Kali ini mereka berjumlahnya 135 orang, yang terdiri dari 15 orang anak laki-laki, 20 orang anak perempuan, 35 orang laki-laki dewasa, dan 65 orang perempuan dewasa dalam satu kapal kayu yang telah renta.

Mereka berjalan sekitar 100 meter jauh dari permukiman. Di sana cuma ada tambak ikan dan kebun warga.

“Tampaknya mereka sengaja berjalan kaki ke mari (Dusun Blang Ulam, Gampong Lamreh). Kapal ditinggal di sana,” kata Kapolres Krueng Raya, Ipda Rolly Yuiza Away.

Tak sampai 24 jam di Lamreh, mereka terpaksa diangkut ke kantor Gubernur Aceh oleh warga setempat saat malam hari. Menggunakan empat truk yang dibantu dan pengawalan aparat kepolisian.

Tak berlangsung lama, pengungsi asal Myanmar ini kembali diarahkan ke Kamp Pramuka Seulawah, Saree, Aceh Besar. Dengan harapan mereka dapat segera beristirahat di sana.

Tapi, ketika tiba di Bumi Perkemahan Saree, para pengungsi itu sudah ditunggu oleh masyarakat yang sudah bersiap melakukan penolakan. Bahkan, tidak sedikit kendaraan roda dua yang melakukan penghadangan.
Mereka lantas diungsikan sementara di Taman Sultanah Safiatuddin, Senin (11/12/2023). Masih belum ada persetujuan, petugas berinisiatif memindahkan ke UPTD Dinas Sosial Aceh di Ladong, Aceh Besar.

Naas, warga di sana juga menolak pengungsi ini. Hingga kemudian dikembalikan ke Banda Aceh tepatnya di halaman Balai Meuseuraya Aceh (BMA).

Pengungsi Rohingya, Muhammad Sohidul Islam.(Riska Zulfira/masakini.co)

Bukan Malaysia atau Australia

Aceh memang kerap dijadikan tujuan pelarian mereka. Maka tak heran kini jumlah pengungsi Rohingya telah mencapai 1.684 orang.

Alasannya sederhana, “karena Indonesia orangnya baik,” kata seorang pengungsi Rohingya, Muhammad Sohidul Islam saat diwawancarai masakini.co, Selasa (12/12/2023).

Ia seorang diantara seribuan pengungsi Rohingya yang berlabuh di Aceh. Kondisi tak aman menjadi alasan mereka untuk pergi dari kamp pengungsian Cox’s Bazar, Bangladesh.

“Tidak aman, karena ada tiga geng yang berperang satu sama lain,” ucapnya.

Menurut pengakuan dirinya, Aceh menjadi tempat akhir mereka untuk berlabuh setelah sebulan terombang-ambing di lautan. Dengan tujuan mencari keamanan dan perlindungan.

“Kami datang ke sini untuk kehidupan yang lebih baik,” sebutnya.

Muhammad Sohidul hanya pasrah. Kendala utama mereka, mesin kapal yang kadang-kadang rusak.

“Berencana menetap di sini, niatnya memang ke Indonesia, bukan Malaysia, Australia ataupun negara lain,” sebutnya.

Sohidul hanya sendiri. Ia mengaku tidak satu kapal dengan orang tuanya. Kata dia, ayahnya telah tiba lebih dulu di Aceh tepatnya di Minaraya, Pidie.

“Keluarga saya tiba sebelum saya tiba, kami berbeda kapal,” ucapnya.

Untuk biaya perjalanan pun, kata dia, ia dibantu oleh sang ayah untuk mengurus proses pemindahan.

“Itu tidak tahu, ayah saya yang mengurusnya sewaktu ia akan berangkat,” katanya.

Laki-laki berusia 24 tahun ini, masih menunggu informasi dari orang tuanya yang sama-sama berada di Aceh. Serta membutuhkan kehidupan yang lebih baik.

TAG

Bagikan

Berita Terkait

Tinggalkan Komentar

Berita Terbaru

Berita terpopuler

Add New Playlist