Kisah Abu dan Separuh Jiwanya yang Pergi

Abu seorang serati gajah di CRU Trumon, Aceh Selatan. (foto: masakini.co/Missanur Refasesa)

Bagikan

Share on facebook
Share on twitter
Share on telegram
Share on whatsapp

Kisah Abu dan Separuh Jiwanya yang Pergi

Bagikan

Share on facebook
Share on twitter
Share on telegram
Share on whatsapp
Abu seorang serati gajah di CRU Trumon, Aceh Selatan. (foto: masakini.co/Missanur Refasesa)

MASAKINI.CO –Hana le, hana le!” laki-laki bertubuh tambun itu menirukan seruan Abu di hari kematian Intan. Bola matanya membesar, ia yang mengulang pekikan Abu itu adalah Hendra, salah satu mahout atau serati gajah yang bekerja di Conservation Response Unit (CRU) Trumon, Aceh Selatan.

Saat itu beberapa mahout yang berada di CRU Trumon terkesiap, pikiran mereka tertuju pada mahout yang pergi bersama Abu ke hutan di seberang jalan untuk melihat Intan makan.

Kalau-kalau Intan kalap dan si mahout jadi korban, mereka sudah siap mendengar itu keluar dari mulut si pembawa kabar.

Abu, pemuda berperawakan mungil dengan sinar mata tegas itu terus mengulang pesan yang sama, air matanya semakin deras.

Gusar, Hendra mendesak Abu dengan pertanyaan “So yang hana le?” Air mata Abu tak berhenti, terbata ia menjawab “Intan.” Tangisnya kian pecah.

Syahdan, kedekatan Abu dengan Intan bermula dari sang ibu, Siska. Sejak kelas enam Sekolah Dasar Abu sudah dekat dengan Siska.

Diingatan Abu masih melekat kuat kapan dan di mana Intan lahir. Katanya, “di bawah pohon rambe di depan camp CRU.”

Intan dilahirkan empat tahun yang lalu oleh sang induk, gajah yang diberi nama Siska. Abu waktu itu belum menjadi asisten mahout. Meski begitu, bersama teman sebayanya, Sam, CRU Trumon selalu menjadi tempat bermain mereka.

“Kami bilang kalau belum bisa membaca, enggak usah main kemari. Jadi mereka belajar membaca biar bisa main ke sini. Memang mereka udah suka sama gajah dari dulu,” kata Hendra tertawa, mengingat kelakukan dua bocah, Abu dan Sam yang kini bekerja sebagai asisten mahout itu.

Abu, sekarang seorang pemuda berusia 21 tahun. Perawakannya tak terlalu tinggi. Rambutnya hitam legam, kontras sekali dengan baju dan celana jins yang ia kenakan hari itu.

Abu (21 tahun) serati gajah di CRU Trumon. (foto: masakini.co/Missanur Refasesa)
Abu (21 tahun) serati gajah di CRU Trumon. (foto: masakini.co/Missanur Refasesa)

Bagi Abu, gajah yang diberi nama Intan tersebut adalah teman baru. Seperti pada gajah Siska, Ia memberi kasih sayang yang sama kepada Intan.

“Oh udah tinggi dia, kalau kita lagi duduk-duduk gini dia keliling ni, ditaroknya kakinya di sini,” mata Abu berbinar, menceritakan tingkah Intan.

Beberapa bulan sebelumnya, jika Abu duduk di bawah pohon di sekitar CRU Trumon sambil menunggui Intan bermain, Intan pasti menghampirinya.

Intan akan berputar-putar mengelilingi Abu, sesekali kakinya dinaikkan ke paha Abu.

Soal makanan Intan mirip sekali dengan ayahnya, gajah bernama Tuah. “Dia itu sehat, soalnya mau makan apa aja. Enggak pemilih, sama kayak ayahnya, si Tuah,” kenang Abu.

Abu ingat, Maret lalu Intan ulang tahun. Intan suka keramaian. Abu bilang, jika ramai orang gajah tersebut akan berjalan ke sana kemari, menggoyang-goyangkan ekornya, berkeliling di sekitar pengunjung.

Namun ulang tahun Intan lima bulan yang lalu tidak meriah seperti sebelumnya. Sebabnya, semenjak pandemi Covid-19 melanda, donasi yang diterima CRU Trumon semakin menipis. Itu jadi ulang tahun terakhir Intan sebelum berkalang tanah dan bikin separuh jiwa Abu ikut pergi.

***

Di bawah pohon tempat biasanya ia bermain dengan Intan, Abu terkenang kembali tentang hari dimana hatinya laksana tersayat-sayat sembilu. Pedih tak terperi.

Tongkat gancu yang sejak tadi ia pegang dihentak-hentakannya ke tanah. Kepalanya mendongak, ia berusaha keras menahan air mata. Suaranya bergetar.

Dia memulai cerita. Dua bulan yang lalu, pagi itu seperti biasa Patok dan Abu, serati gajah di sana, memeriksa Intan ke hutan di seberang jalan dari lokasi CRU Trumon. Biasanya disitu gajah Intan makan. Pasokan makanan untuk gajah di sana tersedia banyak.

Mereka berdua meninggalkan Intan di situ. Sebelumnya mereka telah sepakat membawa gajah itu kembali ke camp CRU pada sore hari.

Pukul 3 sore mereka menghampiri Intan. 50 meter dari lokasi Intan makan Abu dan Patok melihat gajah tersebut sedang tertidur. Patok nyeletuk, “tidur dia tu.”

Melihat Intan tertidur begitu firasat Abu tak enak. Dia tahu betul Intan tak pernah tidur siang.

Dari tempatnya berdiri, Abu tidak bergerak sama sekali. Tungkainya lemas. Ia terduduk.

Tapi Patok masih berusaha meyakinkan Abu. “Kayaknya Siska itu bukan Intan,” katanya.

Patok kemudian mendekat ingin memastikan kondisi gajah itu. Dia seketika terkesiap. Gajah yang dilihatnya dari dekat ini adalah Intan. Dan kondisinya telah mati.

Di ujung sana, Abu masih belum beranjak. Dia terduduk lemas. Tak kuasa untuk mendekat.

Dipandanginya saja gajah itu dari kejauhan sampai akhirnya Patok memintanya kembali ke camp CRU untuk memberi tahu kepada teman-teman di sana.

Sepanjang jalan menuju camp air mata Abu terus menetes. Langkah kakinya pelan. Pikirannya melayang membayangkan rencana-rencana yang sudah ia rancang jika nanti Intan besar.

Abu ingin mengajarkan Intan banyak hal. “Intan harus menjadi gajah yang cerdas,” begitu angannya.

Setelah menyampaikan kabar kematian Intan, mahout dan petugas CRU langsung bergegas ke hutan. Yang lainnya langsung menghubungi dokter untuk nekropsi.

Esok paginya patugas nekropsi datang dan membedah perut Intan. Abu minta izin balik ke rumah, katanya ia perlu mengambil cangkul untuk menggali kuburan Intan.

Hingga matahari naik dan Intan selesai dikuburkan Abu tidak juga kembali. Abu asal saja bilang ingin mengambil cangkul kepada rekannya waktu itu, sebab dalam relung hatinya terdalam, dia tak kuasa melihat Intan dikuburkan. Gajah mungil kesayangannya itu kini sudah tiada.

Kepergian Intan menyisakan kenangan bagi Abu. Siang hari mereka acap bermain bersama. Di waktu subuh, Intan sering kali usil menaiki tangga menuju kamar tidur Abu dan rekan yang lain. Menganggu tidur mereka.

Kematian gajah Intan tersebut bikin Abu sepekan terus berurai air mata. Hingga kini dia mengaku belum pernah menyambangi pusara Intan. “Saya belum sanggup,” ujarnya.

Kini Abu merasa, gajah yang dirawat dan dicintainya sepenuh hati itu, belum rezeki saja untuk ia melihatnya tumbuh dewasa. Rekan-rekan mahout di CRU Trumon bilang, gajah umur segitu memang rentan terserang penyakit. Mereka juga menasehati Abu agar tak berlarut-larut dalam kesedihan ditinggal mati Intan.

“Belum rezeki aja kita sama Intan,” ungkap Abu tegar, mengulang petuah seniornya di CRU Trumon.

Reporter: Missanur Refasesa

TAG

Bagikan

Share on facebook
Share on twitter
Share on telegram
Share on whatsapp

Berita Terkait

Tinggalkan Komentar

Berita Terbaru

Berita terpopuler

Add New Playlist