MASAKINI.CO – Memasuki 10 malam terakhir Ramadan, intensitas ibadah seharusnya semakin meningkat bukan menurun, melainkan mencapai puncaknya. Salah satu cara terbaik untuk mencapai puncak kedekatan dengan Allah adalah melalui i’tikaf.
I’tikaf bukan hanya sekadar ritual berdiam diri, melainkan benteng yang kokoh untuk menjaga hawa nafsu dari hal-hal yang tidak pantas di hadapan Allah.
Dilansir dari NU Online, Sabtu (!4/3/2026), para ulama telah mendefinisikan i’tikaf sebagai upaya sadar seorang hamba untuk mengurung diri dalam ketaatan di dalam masjid.
Ibadah i’tikaf juga telah disebutkan dalam Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 187. Allah berfirman;
وَلَا تُبَاشِرُوْهُنَّ وَاَنْتُمْ عٰكِفُوْنَۙ فِى الْمَسٰجِدِ ۗ تِلْكَ حُدُوْدُ اللّٰهِ فَلَا تَقْرَبُوْهَاۗ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ اٰيٰتِهٖ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُوْنَ
Artinya: “Jangan campuri mereka ketika kamu (dalam keadaan) beri’tikaf di masjid. Itulah batas-batas (ketentuan) Allah. Maka, janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia agar mereka bertakwa.”
I’tikaf bukanlah ibadah musiman yang tanpa dasar, melainkan sunnah yang sangat ditekankan (sunnah muakkadah). Rasulullah mencontohkan i’tikaf secara konsisten, khususnya pada sepuluh hari terakhir Ramadhan. Beliau menjaga tradisi ini sampai wafat. Para istrinya juga melanjutkan amalan tersebut setelah beliau wafat.
Tujuan utama i’tikaf adalah membersihkan hati dengan mendekatkan diri kepada Allah. I’tikaf merupakan ibadah yang dilaksanakan dengan berdiam diri di masjid dan mengisi waktu dengan amal saleh.
Ketika i’tikaf, kita fokus pada salat, membaca Al-Qur’an, berdzikir, berdoa, bersalawat, serta melakukan muhasabah diri. Dengan i’tikaf bisa mengurangi interaksi yang tidak perlu dan menahan diri dari kesibukan dunia. Dari situ lahir kejernihan hati dan kekuatan ruhani.
Dengan berdiam di masjid, kita sedang membangun ruang privat yang sangat intim untuk berdialog langsung dengan Allah dan terhindar dari hiruk pikuk dunia yang tidak baik.
Syekh Zakariya al-Anshari mengatakan:
لِاَنَّهُ أَقْرَبُ لِصَوْنِ النَّفْسِ عَنْ ارْتِكَابِ مَا لَا يَلِيْقُ
Artinya, “Karena i’tikaf dapat menjaga hawa nafsu dari perbuatan-perbuatan yang tidak baik.” (Zakariya al-Anshari, Asnal Mathalib,









Discussion about this post