MASAKINI.CO – Menjelang hari raya di kota Madinah, suasana penuh kegembiraan terasa di setiap sudut. Anak-anak tampak riang karena telah memiliki pakaian baru untuk dikenakan pada hari kemenangan.
Dalam bukunya “Jangan Terlalu Berlebihan dalam Beribadah hingga Melupakan Hak-Hak Tubuh” karya Nur Hasan, mengisahkan sebuah cerita menyentuh hati tentang dua cucu Rasulullah, Hasan ibn Ali dan Husain ibn Ali, yang juga menantikan kebahagiaan yang sama. Kisah ini tidak hanya menggambarkan kegembiraan menyambut Idul Fitri, tetapi juga memperlihatkan ketulusan hati seorang ibu, kesabaran dalam keterbatasan, serta pertolongan Allah yang datang pada waktu yang paling tepat.
Di sebuah rumah sederhana, dua cucu tercinta dari Nabi Muhammad, yaitu Hasan ibn Ali dan Husayn ibn Ali, merasakan kegelisahan kecil di hati mereka. Mereka melihat teman-temannya telah bersiap dengan pakaian baru, sementara mereka belum memilikinya.
Dengan polos dan penuh harap, keduanya bertanya kepada ibunda mereka, Fatimah az-Zahra. “Wahai ibunda, anak-anak di Madinah telah memiliki baju lebaran. Mengapa kami belum?”
Pertanyaan itu tentu bukan sekadar pertanyaan bagi seorang ibu. Di balik kelembutan wajahnya, Fatimah menyimpan kegundahan. Saat itu, beliau memang tidak memiliki cukup harta untuk membeli pakaian baru bagi kedua putranya.
Namun dengan penuh kasih, beliau menjawab lembut bahwa pakaian mereka sedang berada di “tukang jahit”. Jawaban sederhana itu sebenarnya adalah cara seorang ibu menjaga hati anak-anaknya agar tidak merasa sedih.
Di dalam hatinya, Fatimah berserah diri dan berdoa kepada Allah SWT. Ia berharap Allah tidak mengecewakan harapan kecil kedua putranya yang masih belia.
Malam Idul Fitri pun tiba.
Di tengah kesunyian malam, terdengar ketukan di pintu rumah. Seorang pria datang membawa sebuah bingkisan. Ia mengatakan bahwa dirinya adalah utusan yang mengantarkan titipan pakaian untuk Hasan dan Husein.
Ketika bingkisan itu dibuka, isinya ternyata dua stel pakaian yang sangat indah, lengkap dengan sorban. Hasan dan Husein pun sangat gembira menerima pakaian tersebut.
Bagi mereka, pakaian itu bukan sekadar baju baru untuk hari raya. Di baliknya tersimpan doa seorang ibu, kesabaran, serta pertolongan Allah yang datang pada waktu yang paling tepat.
Keesokan harinya, mentari 1 Syawal bersinar cerah di langit Madinah. Kebahagiaan Hasan dan Husein semakin sempurna ketika kakek tercinta, Nabi Muhammad SAW, datang berkunjung ke kediaman mereka.
Mata utusan Allah itu berbinar melihat kedua cucu kesayangannya tampak begitu tampan nan rupawan dalam balutan pakaian baru yang sangat istimewa tersebut. Namun, di balik keindahan kain pakaian itu, Rasulullah mengetahui sebuah rahasia besar. Beliau kemudian menatap putrinya dan bertanya dengan lembut, untuk menguji apakah Fatimah menyadari kebesaran di balik kejadian malam itu.
“Wahai Fatimah, apakah engkau tahu siapa ‘tukang jahit’ yang mengantarkan baju itu?” tanya Rasulullah.
Dengan raut wajah tulus dan tanpa kecurigaan, Sayyidah Fatimah menggeleng pelan. “Tidak, wahai Ayahanda,” jawabnya. Ia hanya tahu bahwa Allah telah menjawab doa dan kepasrahannya semalam.
Mendengar kepolosan sang putri yang begitu tawakal, hati Rasulullah pun luruh. Sambil meneteskan air mata haru yang tak terbendung, manusia paling mulia itu akhirnya menyingkap tabir rahasia dari sang pembawa bingkisan misterius tersebut.
Ketahuilah wahai Fatimah, sabda Rasulullah dengan suara bergetar menahan haru, “dia bukanlah tukang jahit biasa.”
Rasulullah terdiam sejenak, lalu melanjutkan, “Dia adalah Malaikat Ridwan (penjaga surga) yang diutus Allah untuk mengantarkan pakaian dari surga. Karena Allah tidak ingin melihat kedua cucuku bersedih di hari raya.”
Kisah ini mengajarkan bahwa kebahagiaan tidak selalu lahir dari kemewahan. Terkadang, ia hadir dari kesabaran, ketulusan, dan keyakinan kepada Allah.
Menjelang hari raya, kisah Hasan dan Husein ini menjadi pengingat bahwa Idul Fitri bukan hanya tentang pakaian baru, tetapi tentang hati yang penuh syukur, kesabaran, dan kasih sayang dalam keluarga.








Discussion about this post