MASAKINI.CO
No Result
View All Result
Kamis, Maret 26, 2026
  • Beranda
  • News
  • Daerah
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Beranda
  • News
  • Daerah
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
MASAKINI.CO
Home Cerita

Nuansa Berziarah ke Makam Tanpa Nisan

Masa Kini by Masa Kini
5 Maret 2023
in Cerita
0
Nuansa Berziarah ke Makam Tanpa Nisan

Suasana di komplek kuburan massal Siron, Ingin Jaya, Aceh Besar. (foto: dok masakini.co)

Share on FacebookShare on Twitter

MASAKINI.CO – Sebuah tugu berdiri tegak di dalam taman seluas hampir dua kali lapangan bola itu. Tingginya sekitar dua meter. Bentuknya lebar di bagian bawah dan meruncing di bagian atas, persis seperti segitiga sama kaki. Keramik dengan ukiran beberapa kata pesan petuah, dipacak pada bagian tengahnya.

“Bala tasaba, nikmat tasyuko. Di sinan le ureung bahagia,” begitu petuah tersebut terangkai. Terjemahan dalam bahasa Indonesia dan Inggris turut dibubuhkan pula di bawahnya. Sebuah pesan sederhana namun sarat makna tentang tentang nilai-nilai kehidupan. “Bersabar saat mendapat bala, bersyukur saat mendapat nikmat. Di situlah letaknya kunci kebahagiaan.”

RelatedPosts

Sambut Idul Fitri, Kak Na Keliling Kota Berbagi Daging Meugang

Cinta Ibu yang Mengetuk Pintu Surga: Kisah di Balik Baju Lebaran Hasan dan Husein

Warga Gampong Leu Ue Aceh Besar Mulai Tunaikan Zakat Fitrah

Tugu itu berada dalam komplek kuburan massal tsunami di Gampong Siron, Kecamatan Ingin Jaya, Aceh Besar. Tidak terlalu mencolok memang, namun letaknya akan mudah ditemui saat menyusuri komplek kuburan tanpa nisan itu.

Saya dan seorang teman Ikbal Fannika, pada satu pagi yang cerah beberapa waktu yang lalu berziarah ke sana. Kami menyebutnya Ziarah tsunami. Sebuah perjalanan spiritual. Mengenang masa lampau, memetik pelajaran untuk masa depan.

Seperti namanya, Kuburan Massal Siron berada di Gampong Siron, di sisi kanan jalan menuju Bandara Sultan Iskandar Muda. Dari pusat kota Banda Aceh, komplek kuburan ini dapat ditempuh kurang dari setengah jam perjalanan. Dari Bundaran Lambaro menuju bandara, jaraknya hanya beberapa ratusan meter.

Meski namanya kuburan massal, tempat ini jauh dari kesan mistis dan seram. Nuansa taman justru lebih kental terasa. Rumput-rumput hijau yang terpotong rapi memenuhi area komplek makam. Pohon-pohon yang ditanam rapi tumbuh merindang, mulai dari palem, bunga kamboja, hingga yang berpokok keras seperti sangon dan kelapa.

“Cukup nyaman,” kata Iqbal. Saya mengiyakan.

Sebuah lorong dengan pavin block bercat merah membelah komplek kuburan ini menjadi dua bagian. Lorong itu bisa digunakan untuk menyusuri seluruh area makam tanpa nisan ini. Pepohonan ditanam di sepanjang sisi kanan dan kiri lorong sehingga membuat suasana cukup adem dan tenang. Beberapa jambo (saung) ada di sana.

Pun demikian, di balik rupanya yang indah, komplek kuburan massal ini menyimpan kenangan paling suram dari sejarah bencana paling dahsyat yang pernah melanda tanoh indatu: gempa dan tsunami 26 Desember 2004. Bencana ini merenggut lebih dari 200 ribu nyawa. Memorak-porandakan provinsi paling barat Indonesia ini. Salah satu bencana alam paling besar yang pernah tercatat dalam sejarah dunia.

Komplek kuburan menjadi tempat peristirahatan terakhir bagi hampir seperempat jumlah korban. Tepatnya, 46.718 korban dimakamkan secara massal di tanah ini. Tak ada gundukan tanah dan liang khusus seperti layaknya kuburan biasa. Apalagi nisan dengan ukiran identitas serta tanggal lahir dan meninggal. Semua tertimbun di bawah tanah rata yang kini dipenuhi dengan rumput-rumput yang menghijau.

Muhammad Kasim, penjaga makam, menuturkan kuburan ini rutin dikunjungi oleh masyarakat untuk melakukan ziarah. “Biasanya ramai pada peringatan tsunami dan hari raya. Baik Idul Fitri maupun hari raya Idul Adha,” katanya. “Kadang juga ada pengunjung dari Malaysia hingga Thailand.”

Dari Kasim kami juga tahu luas komplek kuburan ini hanya kurang 50 meter dari dua hektare. Jumlah itu barangkali merupakan area terluas untuk komplek kuburan massal di Aceh, bahkan mungkin juga Indonesia.

Monumen berbentuk gelombang laut di kuburan massal Siron. (foto: dok masakini.co)

Di bagian belakang komplek makam, ingatan sejarah dibangun dalam wujud monumen berbentuk gelombang laut. Gelompang ini merepresentasikan tsunami yang menerjang daratan. Satu penggalan ayat dalam surat Yaasin terpampang di sana. Innamaaa amruhuu idzaa araada syaian an yaquula lahuu kun fayakuun. “Sesungguhnya urusan-Nya, jika dia (Tuhan) menginginkan sesuatu, Dia hanya mengatakan kepadanya: ‘Jadilah’, maka jadilah sesuatu itu.”

Kuburan massal Siron bukan satu-satunya kuburan massal korban gempa dan tsunami. Di Ulee Lheue, Banda Aceh, kuburan serupa juga dibangun untuk korban lainnya.

Seperti di Siron, kuburan ini juga mirip dengan taman dengan pohon-pohon hias yang ditanam berjejar. Bedanya, luas dan jumlah korban yang dimakamkan di sini lebih sedikit dibanding kuburan massal Siron.

Kuburan massal Ulee Lheue dibangun di depan eks rumah sakit Meuraxa. Rumah sakit ini hancur dihantam gempa dan gelombang tsunami. Reruntuhan gedungnya tetap dibiarkan berdiri di bagian belakang komplek makam. Adapun rumah sakit Meuraxa kini sudah dipindahkan ke Desa Mibo di kecamatan yang sama.

Di kuburan massal ini, dimakamkan kurang lebih 14.800 korban jiwa. Jasad korban dewasa dimakamkan di sisi kanan serta sisi kiri bagian depan makam, sedangkan jasad anak-anak berada di bagian belakang sisi kiri. Di sekeliling makam, terpacak tembok yang saling terpisah dengan tulisan asmaul husna yang sekaligus berfungsi sebagai area pagar komplek kuburan seluas 15.800 meter persegi itu.

Di seputaran Banda Aceh dan Aceh Besar, kuburan massa yang lebih kecil tersebar di berbagai tempat, dari Lhoknga hingga Kajhu. Di Lhoknga saja misalnya, ada enam titik yang tersebar mulai dari jalan Mon Ikeun-Lampuuk hingga dekat masjid Lhoknga. Sebagian di antaranya tak begitu terawat dan tertutup semak-semak. Itu belum termasuk kuburan massal di Kajhu maupun kawasan-kawasan lain yang tidak diketahui.

Kuburan massal ini menjadi penanda bahwa Aceh pernah mengalami salah satu bencana alam terbesar dalam sejarah kontemporer manusia. Ia menjadi perekat antara masa lalu dan masa kini, sekaligus pengingat untuk masa depan.

Tak bisa dipungkiri bahwa tanah Aceh memang berada di zona bencana, dan seyogyanya masyarakat harus belajar hidup berdamai dengan itu. Karena, pada akhirnya, seperti yang terpatri di tugu makam massal Siron: bala tasaba, nikmat tasyuko, di sinan le ureung bahagia. [Rahmat Taufik]

Tags: Kuburan Massal SironKuburan Massal Ulee LheueMakamTsunami Aceh 2004WisatawanZiarah
Previous Post

Air Hujan Bisa Picu Penyakit Parah Jika Diminum

Next Post

Bantai MU 0-7, Liverpool Cetak Sejarah Baru

Related Posts

Lonjakan Wisatawan ke Sabang, Trip Kapal Ditambah hingga Malam

by Riska Zulfira
23 Maret 2026
0

MASAKINI.CO - Arus penumpang penyeberangan di Pelabuhan Ulee Lheue menuju Pelabuhan Balohan, Sabang, melonjak signifikan selama libur Idulfitri 1447 Hijriah....

Monumen Tugu Kilometer Nol Sabang Ditutup Sementara

Monumen Tugu Kilometer Nol Sabang Ditutup Sementara

by Riska Zulfira
24 Mei 2025
0

MASAKINI.CO - Destinasi wisata Monumen Tugu Kilometer Nol di Taman Wisata Alam Pulau Weh Sabang ditutup sementara sesuai arahan Balai...

Ketua PKK Aceh Ziarah dan Bersilaturahmi di Seunuddon

Ketua PKK Aceh Ziarah dan Bersilaturahmi di Seunuddon

by Alfath Asmunda
2 April 2025
0

MASAKINI.CO - Ketua Tim Penggerak PKK (TP PKK) Aceh, Marlina Muzakir, mengisi momentum Idulfitri 1446 Hijriah dengan mengunjungi Kecamatan Seunuddon,...

Next Post
Bantai MU 0-7, Liverpool Cetak Sejarah Baru

Bantai MU 0-7, Liverpool Cetak Sejarah Baru

4 Pulau di Aceh Singkil Masuk Wilayah Sumut, DPRA Protes

Kasus Warga Racuni Harimau, DPR Aceh Minta Polisi Selesaikan Lewat RJ

Discussion about this post

CERITA

Sambut Idul Fitri, Kak Na Keliling Kota Berbagi Daging Meugang

Sambut Idul Fitri, Kak Na Keliling Kota Berbagi Daging Meugang

19 Maret 2026

Cinta Ibu yang Mengetuk Pintu Surga: Kisah di Balik Baju Lebaran Hasan dan Husein

15 Maret 2026
Warga Gampong Leu Ue Aceh Besar Mulai Tunaikan Zakat Fitrah

Warga Gampong Leu Ue Aceh Besar Mulai Tunaikan Zakat Fitrah

14 Maret 2026

Menunggu Lebaran di Tenda Pengungsian

12 Maret 2026

TERPOPULER

Plugin Install : Popular Post Widget need JNews - View Counter to be installed
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy

Copyright © 2025 - masakini.co

No Result
View All Result
  • Daerah
  • News
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video

Copyright © 2025 - masakini.co

 

Memuat Komentar...