MASAKINI.CO
No Result
View All Result
Rabu, Februari 18, 2026
  • Beranda
  • News
  • Daerah
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Beranda
  • News
  • Daerah
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
MASAKINI.CO
Home Cerita

Bertahan Tanpa Nasi dan Air Bersih: Kisah Fitriani Melawan Banjir Pidie Jaya

Redaksi by Redaksi
19 Desember 2025
in Cerita
0

Fitriani, warga Gampong Dayah Husen, Kecamatan Meurah Dua, Pidie Jaya. Salah satu korban yang tinggal dipengungsian wilayah tersebut | Foto: Aininadhirah

Share on FacebookShare on Twitter

MASAKINI.CO – Fitriani tak pernah menyangka air akan datang secepat itu. Siang itu, rumahnya di Gampong Dayah Husen, Kecamatan Meurah Dua, Kabupaten Pidie Jaya, masih terlihat seperti biasa. Tidak ada tanda-tanda bahwa banjir besar akan mengepung rumah dan mengubah hidupnya dalam hitungan jam.

Air pertama kali masuk hanya setinggi mata kaki. Fitriani mengira banjir itu akan segera surut, seperti kejadian-kejadian sebelumnya. Namun tanpa disadari, air terus naik. Dalam waktu singkat, lantai rumahnya sudah tak terlihat lagi.

RelatedPosts

Air Mata Hasanah, Luka yang Tak Terlihat dalam Film Noeh

Menembus Batas Negeri, Perjalanan Naufal Maulana Menggapai Beasiswa Pemerintah Rusia

Meugang, Tradisi Turun-Temurun Aceh Menyambut Ramadan

“Kami tidak sadar airnya naik cepat kali. Tahu-tahu sudah setinggi dada,” ujar Fitriani.

Saat itu, ia bersama putrinya yang masih berusia lima tahun dan ayahnya yang sudah lanjut usia berada di dalam rumah. Kepanikan mulai melanda ketika air semakin meninggi dan arus mulai terasa kuat. Fitriani berusaha tetap tenang, meski ketakutan perlahan menguasai dirinya.

Ia sadar, menyelamatkan diri keluar rumah bukanlah pilihan mudah. Ayahnya sudah tidak mampu berjalan. Membopongnya di tengah arus banjir adalah hal yang mustahil.

“Kami bisa saja keluar, tapi saya ada abu yang sudah lansia, sudah tidak bisa dibawa lari lagi,” katanya lirih.

Saat air terus naik, Fitriani hanya memikirkan satu hal, keselamatan anaknya. Ia mengangkat sang putri dan menaikkannya ke atas lemari, satu-satunya tempat yang masih kering di dalam rumah.

“Saat air naik, kami terjebak di dalam rumah. Air naik, saya bawa naik anak ke atas lemari,” tuturnya.

Malam datang bersama dingin dan ketakutan. Selama dua hari dua malam, Fitriani dan keluarganya bertahan di dalam rumah yang terendam banjir. Tidak ada makanan, tidak ada air bersih. Perut kosong dan tubuh yang kedinginan menjadi bagian dari hari-hari panjang itu.

Untuk minum, mereka hanya mengandalkan air hujan yang ditadah seadanya. Sementara sang anak terus merengek, meminta nasi.

“Anak saya sudah minta makan, minta nasi. Hati saya hancur,” ujarnya sambil menahan air mata.

Dalam kelelahan dan rasa takut, Fitriani sempat merasa putus asa. Ia tak tahu sampai kapan mereka bisa bertahan dalam kondisi tersebut.

“Saya sudah pasrah. Saya berpikir, anak sekecil ini bisa bertahan berapa lama tanpa makan dan minum,” katanya.

Ketika air akhirnya surut dan bantuan mulai datang, yang tersisa hanyalah kehancuran. Rumah Fitriani nyaris tak bisa dikenali. Lumpur dan air banjir mengendap hingga setinggi dada orang dewasa.

“Rumah saya tertanam sampai dada, tidak bisa dibersihkan lagi,” ujarnya. 

Kini, Fitriani hanya bisa berharap akan ada uluran tangan untuk memulihkan hidupnya. Namun satu hal yang pasti, ia bersyukur masih bisa memeluk anaknya sebuah kemenangan kecil dari perjuangan panjang seorang ibu di tengah amukan banjir Pidie Jaya.

Bagi Fitriani, dua hari di dalam rendaman banjir bukan sekadar ujian fisik, tetapi juga ujian batin. Setiap menit berlalu dengan rasa cemas, antara berharap air segera surut dan takut air kembali meninggi. Ia harus terus meyakinkan anaknya agar tidak menangis, sementara di dalam hatinya sendiri ia berusaha tetap kuat di tengah ketidakpastian.

Banjir Pidie Jaya meninggalkan trauma yang sulit dihapus. Bukan hanya rumah yang rusak, tetapi juga rasa aman yang selama ini ia miliki. Fitriani kini harus memulai kembali dari nol, memikirkan tempat tinggal sementara, kebutuhan anaknya, serta perawatan bagi ayahnya yang lanjut usia.

Di tengah puing-puing dan lumpur yang tersisa, kisah Fitriani menjadi potret keteguhan seorang ibu. Di atas lemari, di tengah air yang terus meninggi, ia bertahan demi anaknya. Sebuah cerita tentang cinta, ketabahan, dan harapan yang tetap hidup meski bencana telah merenggut hampir segalanya.

 

Penulis: Aininadhirah

Tags: Fitrianikorban banjirpengungsiPidie JayaRumah Rusak
Previous Post

Gubernur Aceh Minta Warga Perbanyak Doa dan Gelar Salat Ghaib untuk Korban

Next Post

2.924 Personel Disiagakan Amankan Perayaan Natal dan Tahun Baru di Aceh

Related Posts

Banjir Kembali Rendam Permukiman Warga Pidie Jaya

by Aininadhirah
17 Februari 2026
0

MASAKINI.CO – Menjelang dua hari sebelum bulan suci Ramadan, kondisi permukiman warga di kawasan SP 4, Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya...

Pemerintah Salurkan Bantuan Stimulan Rumah Rusak ke 23 Kabupaten/Kota di Aceh

by Ulfah
13 Februari 2026
0

MASAKINI.CO - Pemerintah menyerahkan bantuan stimulan bagi rumah rusak ringan (RR) dan rusak sedang (RS) akibat bencana banjir dan longsor...

Ramadan di Tenda: Harapan Pengungsi Kalasegi untuk Rumah yang Terlambat Datang

by Riska Zulfira
3 Februari 2026
0

MASAKINI.CO - Dalam dinginnya malam dan panasnya siang, tenda darurat itu menjadi satu-satunya tempat yang melindungi 14 kepala keluarga yang...

Next Post

2.924 Personel Disiagakan Amankan Perayaan Natal dan Tahun Baru di Aceh

Pemerintah Aceh Imbau Pengamanan Kendaraan Korban Banjir

Discussion about this post

CERITA

Ismatul Rahmi pemeran Hasanah dalam dokudrama NOEH | Foto: dok pribadi

Air Mata Hasanah, Luka yang Tak Terlihat dalam Film Noeh

17 Februari 2026

Menembus Batas Negeri, Perjalanan Naufal Maulana Menggapai Beasiswa Pemerintah Rusia

14 Februari 2026

Meugang, Tradisi Turun-Temurun Aceh Menyambut Ramadan

4 Februari 2026

Ramadan di Tenda: Harapan Pengungsi Kalasegi untuk Rumah yang Terlambat Datang

3 Februari 2026

TERPOPULER

Plugin Install : Popular Post Widget need JNews - View Counter to be installed
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy

Copyright © 2025 - masakini.co

No Result
View All Result
  • Daerah
  • News
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video

Copyright © 2025 - masakini.co