MASAKINI.CO
No Result
View All Result
Rabu, Mei 20, 2026
  • Beranda
  • News
  • Daerah
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Beranda
  • News
  • Daerah
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
MASAKINI.CO
Home Cerita

Ramadan di Tenda: Harapan Pengungsi Kalasegi untuk Rumah yang Terlambat Datang

Riska Zulfira by Riska Zulfira
3 Februari 2026
in Cerita
0

Salmawati korban bencana longsor Desa Kalasegi, Kecamatan Bintang, Aceh Tengah sedang berada di pengungsian. | Foto: Riska Zulfira/masakini.co

Share on FacebookShare on Twitter

MASAKINI.CO – Dalam dinginnya malam dan panasnya siang, tenda darurat itu menjadi satu-satunya tempat yang melindungi 14 kepala keluarga yang masih mengungsi setelah bencana longsor menerjang Desa Kalasegi, Kecamatan Bintang, Aceh Tengah.

Mereka bertahan, dengan harapan, di tenda yang penuh dengan kegetiran dan ketidakpastian.

RelatedPosts

Dari Dapur Rumahan ke Tanah Suci, Keumamah Aceh Diburu Jemaah Haji

Menabung dari Lumpur Sawah, Halimah Berangkat Haji di Usia 85 Tahun

Ranup yang Perlahan Asing di Tanahnya Sendiri

Dua bulan lebih berlalu sejak bencana itu, namun di mata Salawati, rasa sakit itu seakan masih segar seperti baru kemarin. 

Bersama 14 kepala keluarga lainnya, ia kini tinggal di sebuah tenda darurat yang jauh dari kenyamanan. Rumahnya yang dulu berdiri tegak kini sudah tak tersisa, hancur diterjang longsor yang tak kenal ampun.

“Kami baru tinggal di tenda seminggu lalu, setelah bencana yang terjadi sejak November lalu. Sebelumnya, kami tinggal di rumah saudara, tapi akhirnya dipindahkan ke sini,” cerita Salawati, Selasa (3/2/2026). 

Sementara dunia luar sibuk mempersiapkan suasana Ramadan, mereka harus menghadapi kenyataan pahit bahwa puasa tahun ini akan dijalani di tengah tenda, tanpa rumah, tanpa kebun kopi yang selama ini menjadi andalan hidup. Kebun yang dulu menghijau dengan tanaman kopi, kini hancur begitu saja, seolah segala yang mereka perjuangkan selama ini sirna dalam sekejap. 

“Kebun kopi kami yang dulu sudah bisa dipanen, sekarang hancur, tak ada lagi. Usaha kami hilang dalam bencana itu,” kata Salawati dengan suara yang tercekat, mencoba menahan isak. 

Kepercayaan dirinya yang dulu begitu kuat kini menguap bersama keruntuhan rumah dan kebun mereka.

Hari-hari di tenda terasa semakin berat, terutama saat Ramadan dan Lebaran yang sudah semakin dekat. Salawati dan para pengungsi lainnya merasakan dilema yang sulit diungkapkan bagaimana menjalani ibadah puasa dalam keadaan seperti ini, di tengah kesulitan dan ketidakpastian?

 “Kami berharap pemerintah segera membangun rumah untuk kami, ini Ramadhan dan Lebaran di depan mata. Harta benda tak ada lagi. Hanya rumah yang kami harapkan,” harapnya. 

Mereka tak meminta banyak, hanya sebuah tempat untuk berteduh, tempat untuk merayakan kebahagiaan bersama keluarga di tengah bulan penuh berkah.

Keadaan di dalam tenda semakin menggambarkan betapa sulitnya hidup yang mereka jalani. Tenda-tenda yang sesak, dengan udara dingin yang menusuk tulang, menjadi tempat tinggal mereka sementara waktu.

Anak-anak yang harusnya menikmati masa kecil di rumah yang aman, kini harus beradaptasi dengan kehidupan serba terbatas. Mereka bermain di tanah, tanpa ruang yang layak untuk belajar atau beristirahat dengan tenang.

Tenda pengungsi yang masih ditempati warga di Desa Kalasegi, Kecamatan Bintang, Aceh Tengah | Foto: Riska Zulfira/masakini.co

Begitu juga Santi, seorang pengungsi lainnya mengungkapkan rasa yang sama.

“Saya baru dua minggu di sini. Sebelumnya kami tinggal di tempat pengungsian yang ramai. 

Bagi mereka, desa ini bukan sekadar tempat tinggal. Ini adalah tanah kelahiran mereka, tempat di mana generasi demi generasi menanam harapan dan impian. “Saya terdata menerima Huntara. Tapi kami tetap ingin dibangun di desa Kalasegi ini. Tanah kelahiran kami. 

Keseharian mereka yang dulu sederhana, menanam cabe, kini terhenti begitu saja. Tanpa kebun, tanpa hasil, mereka terjebak dalam lingkaran ketidakpastian.

Menjelang bulan Ramadan, pertanyaan besar menghantui mereka: apakah mereka akan mampu merayakan kebahagiaan dengan kondisi seperti ini? Ketika keluarga lain bersiap-siap untuk beribadah di rumah yang aman, mereka harus bertahan di tenda, merasakan dinginnya malam tanpa kehangatan yang biasa didapatkan dari rumah.

Makanan yang hanya cukup untuk bertahan, bukan untuk merayakan. Kebersamaan yang seharusnya diisi dengan sukacita, kini dipenuhi oleh keresahan dan kerinduan akan kehidupan yang lebih baik.

Namun meski dihimpit kesulitan, harapan mereka tak padam. Mereka tetap menunggu janji pemerintah untuk membangun rumah hunian sementara yang sudah dijanjikan. Namun waktu terus berjalan, dan Ramadan semakin dekat. 

Bagi Salawati, Santi, dan seluruh pengungsi di Kalasegi, Ramadan kali ini akan menjadi ujian batin yang tak mudah. Tetapi mereka tetap bertahan, karena di balik tenda darurat ini, ada sebuah harapan yang terus menyala. 

Tags: Aceh TengahKalasegiPascabencanapengungsiRamadan 2026
Previous Post

Bukan Messi, Endrick Malah Pilih Ronaldo Sebagai Idolanya

Next Post

MBG Dipastikan Tetap Jalan Selama Ramadan

Related Posts

TNI Bangun Jembatan Aramco, Akses Warga Aceh Tamiang Pulih Pascabencana

by Redaksi
20 April 2026
0

MASAKINI.CO - Akses transportasi warga di Kecamatan Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang, kembali normal setelah personel TNI dari Kodim 0117/Aceh...

Ketidakpastian Biaya Listrik Huntara, Pengungsi Aceh Utara Kebingungan

by Aininadhirah
27 Maret 2026
0

MASAKINI.CO – Ketidakjelasan kebijakan pembayaran listrik di hunian sementara (huntara) memicu kebingungan di kalangan pengungsi di Aceh Utara. Hingga kini,...

Sekda Warning Pemanfaatan Dana TKD Harus Tepat Sasaran dan Berdampak Nyata

by Riska Zulfira
26 Maret 2026
0

MASAKINI.CO – Pemerintah Aceh menegaskan penggunaan tambahan Transfer Keuangan Daerah (TKD) pascabencana tidak boleh melenceng dari tujuan utama. Sekretaris Daerah...

Next Post
MBG Dipastikan Tetap Jalan Selama Ramadan

MBG Dipastikan Tetap Jalan Selama Ramadan

Tujuh Terdakwa Korupsi Pengadaan Wastafel di Aceh Didakwa Merugikan Negara Rp2,97 Miliar

Discussion about this post

CERITA

Dari Dapur Rumahan ke Tanah Suci, Keumamah Aceh Diburu Jemaah Haji

19 Mei 2026

Menabung dari Lumpur Sawah, Halimah Berangkat Haji di Usia 85 Tahun

12 Mei 2026

Ranup yang Perlahan Asing di Tanahnya Sendiri

7 Mei 2026

Dari Kuli Panggul ke Pencerita Visual, Perjalanan Sunyi Yulzi di Balik Lensa

1 Mei 2026

TERPOPULER

Plugin Install : Popular Post Widget need JNews - View Counter to be installed
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy

Copyright © 2025 - masakini.co

No Result
View All Result
  • Daerah
  • News
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video

Copyright © 2025 - masakini.co

 

Memuat Komentar...