MASAKINI.CO
No Result
View All Result
Minggu, Juni 21, 2026
  • Beranda
  • News
  • Daerah
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Beranda
  • News
  • Daerah
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
MASAKINI.CO
Home Cerita

Ranup yang Perlahan Asing di Tanahnya Sendiri

Aininadhirah by Aininadhirah
7 Mei 2026
in Cerita
0

Hantaran Sirih untuk Acara Sakral di Aceh | Foto : Aininadhirah/masakini.co

Share on FacebookShare on Twitter

MASAKINI.CO — Dulu, masyarakat Aceh tidak selalu memulai percakapan penting dengan kata-kata. Ada cara yang lebih halus, lebih tenang, tetapi langsung dipahami. Cukup dengan membawa ranup susunan daun sirih lengkap dengan isiannya pesan sudah sampai bahkan sebelum pembicaraan dimulai.

Orang yang menerima tahu, akan ada hal penting yang dibicarakan.

RelatedPosts

Dari Lahan Penggembalaan ke Destinasi Favorit, Savana Indrapuri Sedot Ribuan Pengunjung

Dari Dapur Rumahan ke Tanah Suci, Keumamah Aceh Diburu Jemaah Haji

Menabung dari Lumpur Sawah, Halimah Berangkat Haji di Usia 85 Tahun

Tradisi itu hidup bertahun-tahun dalam masyarakat Aceh. Ranup bukan hanya suguhan. Ia adalah tanda penghormatan, pembuka hubungan, sekaligus simbol komunikasi sosial yang sangat lekat dengan kehidupan masyarakat.

Namun waktu berubah. Di tengah kehidupan yang semakin cepat dan modern, makna ranup perlahan mulai menjauh dari generasi mudanya sendiri.

Budayawan Aceh, Tarmizi Abdul Hamid, melihat perubahan itu dengan rasa khawatir. Baginya, yang mulai hilang bukan sekadar tradisi, tetapi cara masyarakat Aceh menjaga hubungan antarmanusia.

“Sirih itu menjadi makanan cemilan orang dulu, orang tua kita dulu suka makan sirih, jadi di setiap acara-acara itu sirih menjadi pembuka dan pemulai komunikasi juga,” ujarnya, Kamis (7/5/2026).

Di masa lalu, ranup hadir hampir di setiap momentum penting. Dari pembicaraan keluarga, pertemuan adat, hingga urusan besar antarwarga. Tidak perlu undangan resmi. Tidak perlu banyak penjelasan.

Ketika seseorang berkata, “jak mee ranup ke rumah si pulan,” masyarakat langsung memahami bahwa ada persoalan penting yang akan dibahas.

Ranup menjadi bahasa yang tidak diucapkan, tetapi dimengerti bersama.

“Sirih ini merupakan lambang ikatan sosial, penghormatan, kemuliaan dan juga sebagai alat komunikasi,” kata Tarmizi.

Di balik tampilannya yang sederhana, ranup menyimpan susunan yang sarat makna. Ada daun sirih, kapur, bunga cengkeh, hingga boh cuko yang ditempatkan dengan aturan tertentu. Semuanya bukan sekadar pelengkap, tetapi bagian dari simbol keseimbangan dan keteraturan hidup masyarakat Aceh.

Tradisi itu kemudian berkembang. Ranup tidak lagi hanya disusun biasa, tetapi mulai dirangkai menjadi karya seni. Bentuknya beragam, dari menyerupai kupiah Aceh hingga hiasan bertingkat yang dipamerkan dalam prosesi adat dan penyambutan tamu.

Bentuk boleh berubah, kata Tarmizi, tetapi makna tidak boleh hilang.

“Secara filosofi dan makna sama seluruh Aceh, berbagai bentuk hiasan besar kecilnya itu tergantung pada kreativitas tertentu,” ujarnya.

Ia tidak mempermasalahkan inovasi dalam bentuk ranup. Yang ia takutkan justru ketika generasi muda hanya mengenalnya sebagai pajangan adat tanpa memahami nilai yang dikandungnya.

Ketika ranup hanya dipandang sebagai dekorasi, maka yang hilang bukan sekadar benda tradisi, tetapi identitas budaya Aceh itu sendiri.

“Hilang identitas budaya Aceh yang identik dengan nilai-nilai agama, hilang kemuliaan dan ikatan sosial dalam masyarakat,” katanya.

Kekhawatiran itu bukan tanpa alasan. Di banyak acara adat hari ini, ranup masih hadir di atas dulang atau dibawa dalam tarian Ranup Lampuan. Tetapi tidak semua orang lagi memahami mengapa daun sirih itu begitu dihormati dalam budaya Aceh.

Padahal, di balik setiap susunannya, ada cara masyarakat Aceh mengajarkan sopan santun, penghormatan, dan etika sosial.

Ranup mengajarkan bahwa komunikasi tidak harus keras. Bahwa hubungan bisa dijaga lewat simbol-simbol kecil yang penuh makna. Bahwa penghormatan dapat disampaikan dengan cara yang sederhana.

Nilai-nilai itulah yang menurut Tarmizi perlu diwariskan kembali kepada generasi muda.

“Agar hantaran ranup dan tarian ranup lampuan tidak hilang, generasi Aceh harus tekun mempelajari nilai-nilai budayanya sendiri,” ujarnya.

Di tengah dunia digital yang serba instan, ranup mungkin terlihat kuno bagi sebagian orang. Tetapi justru di situlah letak kekuatannya. Ia mengingatkan bahwa ada budaya yang dibangun bukan dengan kebisingan, melainkan dengan ketulusan dan penghormatan.

Mungkin suatu hari nanti ranup tidak lagi dibawa berjalan dari rumah ke rumah seperti dulu. Namun selama maknanya masih dipahami, tradisi itu belum benar-benar hilang.

Ia hanya sedang menunggu untuk kembali dimengerti.

Tags: Budaya Acehmakna sirih AcehRanup LampuanTarmizi Abdul HamidTradisi Ranup Aceh
Previous Post

QRIS BSI Kini Bisa Dipakai di China

Next Post

Banjir Rendam Tiga Kecamatan di Nagan Raya, Jalur Meulaboh–Tapak Tuan Tergenang

Related Posts

Bahasa Aceh Terancam, Sekolah Diminta Wajibkan Penggunaan Setiap Kamis

by Ahmad Mufti
18 Juni 2026
0

MASAKINI.CO - Pemerintah Kabupaten Aceh Besar mendorong seluruh satuan pendidikan memperkuat penggunaan Bahasa Aceh di lingkungan sekolah sebagai langkah menjaga...

Tribute untuk Nyawöung Digelar di Banda Aceh, Musik Etnik Jadi Ruang Rawat Identitas Budaya

by Redaksi
17 Mei 2026
0

MASAKINI.CO – Komunitas Endatu Kreatif akan menggelar perhelatan budaya bertajuk Gema Tanah Rencong: Harmoni Etnik Aceh (Tribute to Nyawöung) pada...

Workshop Meususon Ranup Kenalkan Budaya Aceh ke Generasi Z

by Aininadhirah
2 Mei 2026
0

MASAKINI.CO - Workshop meususon ranup yang digelar selama dua hari mendapat respons positif dari peserta. Kegiatan ini merupakan bagian dari...

Next Post

Banjir Rendam Tiga Kecamatan di Nagan Raya, Jalur Meulaboh–Tapak Tuan Tergenang

Dekranasda Aceh Besar Ditantang Hasilkan Kerajinan Berdaya Saing Nasional

Discussion about this post

CERITA

Dari Lahan Penggembalaan ke Destinasi Favorit, Savana Indrapuri Sedot Ribuan Pengunjung

24 Mei 2026

Dari Dapur Rumahan ke Tanah Suci, Keumamah Aceh Diburu Jemaah Haji

19 Mei 2026

Menabung dari Lumpur Sawah, Halimah Berangkat Haji di Usia 85 Tahun

12 Mei 2026

Ranup yang Perlahan Asing di Tanahnya Sendiri

7 Mei 2026

TERPOPULER

Plugin Install : Popular Post Widget need JNews - View Counter to be installed
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy

Copyright © 2025 - masakini.co

No Result
View All Result
  • Daerah
  • News
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video

Copyright © 2025 - masakini.co