MASAKINI.CO — Dulu, masyarakat Aceh tidak selalu memulai percakapan penting dengan kata-kata. Ada cara yang lebih halus, lebih tenang, tetapi langsung dipahami. Cukup dengan membawa ranup susunan daun sirih lengkap dengan isiannya pesan sudah sampai bahkan sebelum pembicaraan dimulai.
Orang yang menerima tahu, akan ada hal penting yang dibicarakan.
Tradisi itu hidup bertahun-tahun dalam masyarakat Aceh. Ranup bukan hanya suguhan. Ia adalah tanda penghormatan, pembuka hubungan, sekaligus simbol komunikasi sosial yang sangat lekat dengan kehidupan masyarakat.
Namun waktu berubah. Di tengah kehidupan yang semakin cepat dan modern, makna ranup perlahan mulai menjauh dari generasi mudanya sendiri.
Budayawan Aceh, Tarmizi Abdul Hamid, melihat perubahan itu dengan rasa khawatir. Baginya, yang mulai hilang bukan sekadar tradisi, tetapi cara masyarakat Aceh menjaga hubungan antarmanusia.
“Sirih itu menjadi makanan cemilan orang dulu, orang tua kita dulu suka makan sirih, jadi di setiap acara-acara itu sirih menjadi pembuka dan pemulai komunikasi juga,” ujarnya, Kamis (7/5/2026).
Di masa lalu, ranup hadir hampir di setiap momentum penting. Dari pembicaraan keluarga, pertemuan adat, hingga urusan besar antarwarga. Tidak perlu undangan resmi. Tidak perlu banyak penjelasan.
Ketika seseorang berkata, “jak mee ranup ke rumah si pulan,” masyarakat langsung memahami bahwa ada persoalan penting yang akan dibahas.
Ranup menjadi bahasa yang tidak diucapkan, tetapi dimengerti bersama.
“Sirih ini merupakan lambang ikatan sosial, penghormatan, kemuliaan dan juga sebagai alat komunikasi,” kata Tarmizi.
Di balik tampilannya yang sederhana, ranup menyimpan susunan yang sarat makna. Ada daun sirih, kapur, bunga cengkeh, hingga boh cuko yang ditempatkan dengan aturan tertentu. Semuanya bukan sekadar pelengkap, tetapi bagian dari simbol keseimbangan dan keteraturan hidup masyarakat Aceh.
Tradisi itu kemudian berkembang. Ranup tidak lagi hanya disusun biasa, tetapi mulai dirangkai menjadi karya seni. Bentuknya beragam, dari menyerupai kupiah Aceh hingga hiasan bertingkat yang dipamerkan dalam prosesi adat dan penyambutan tamu.
Bentuk boleh berubah, kata Tarmizi, tetapi makna tidak boleh hilang.
“Secara filosofi dan makna sama seluruh Aceh, berbagai bentuk hiasan besar kecilnya itu tergantung pada kreativitas tertentu,” ujarnya.
Ia tidak mempermasalahkan inovasi dalam bentuk ranup. Yang ia takutkan justru ketika generasi muda hanya mengenalnya sebagai pajangan adat tanpa memahami nilai yang dikandungnya.
Ketika ranup hanya dipandang sebagai dekorasi, maka yang hilang bukan sekadar benda tradisi, tetapi identitas budaya Aceh itu sendiri.
“Hilang identitas budaya Aceh yang identik dengan nilai-nilai agama, hilang kemuliaan dan ikatan sosial dalam masyarakat,” katanya.
Kekhawatiran itu bukan tanpa alasan. Di banyak acara adat hari ini, ranup masih hadir di atas dulang atau dibawa dalam tarian Ranup Lampuan. Tetapi tidak semua orang lagi memahami mengapa daun sirih itu begitu dihormati dalam budaya Aceh.
Padahal, di balik setiap susunannya, ada cara masyarakat Aceh mengajarkan sopan santun, penghormatan, dan etika sosial.
Ranup mengajarkan bahwa komunikasi tidak harus keras. Bahwa hubungan bisa dijaga lewat simbol-simbol kecil yang penuh makna. Bahwa penghormatan dapat disampaikan dengan cara yang sederhana.
Nilai-nilai itulah yang menurut Tarmizi perlu diwariskan kembali kepada generasi muda.
“Agar hantaran ranup dan tarian ranup lampuan tidak hilang, generasi Aceh harus tekun mempelajari nilai-nilai budayanya sendiri,” ujarnya.
Di tengah dunia digital yang serba instan, ranup mungkin terlihat kuno bagi sebagian orang. Tetapi justru di situlah letak kekuatannya. Ia mengingatkan bahwa ada budaya yang dibangun bukan dengan kebisingan, melainkan dengan ketulusan dan penghormatan.
Mungkin suatu hari nanti ranup tidak lagi dibawa berjalan dari rumah ke rumah seperti dulu. Namun selama maknanya masih dipahami, tradisi itu belum benar-benar hilang.
Ia hanya sedang menunggu untuk kembali dimengerti.









Discussion about this post