MASAKINI.CO – Indonesia masih bergantung pada sekitar 3,2 juta ton impor kedelai setiap tahun. Angka itu bukan sekadar data perdagangan, tetapi cermin rapuhnya kemandirian pangan nasional. Di Aceh, kegelisahan atas ketergantungan itu mendorong lahirnya sebuah upaya kecil, mengganti kedelai dengan kacang koro.
Bagi Rivan Rinaldi, angka impor tersebut menjadi titik awal. Ia melihatnya sebagai celah sekaligus peluang bahwa bahan pangan lokal sebenarnya masih bisa diolah dan dikembangkan.
“Dari situ kami mulai berpikir, apakah ada alternatif yang bisa dibangun dari potensi lokal,” ujarnya, Jumat (1/5/2026).
Pencarian itu membawanya ke Rumah Pangan Nusantara di Bogor. Di sana, ia menemukan bahwa kacang koro yang selama ini kurang dilirik memiliki potensi sebagai bahan baku tempe.
Namun, membawa ide pulang ke Aceh bukan berarti semuanya berjalan mulus.
Produksi dimulai pada 2025 dalam skala kecil, hanya 10 kilogram per hari. Lebih sebagai uji coba daripada usaha. Di tahap ini, tantangan datang dari berbagai arah: proses fermentasi yang belum stabil, adaptasi bahan baku, hingga keraguan pasar terhadap tempe non-kedelai.
Semua dijalani tanpa pola pasti. Resep diubah, teknik diperbaiki, dan cara memperkenalkan produk terus dicari. Tidak ada formula instan semuanya berkembang seiring proses.
Perlahan, hasil mulai terlihat. Produksi meningkat menjadi 20 kilogram per hari, lalu terus naik hingga mencapai 50 kilogram per hari saat ini.
“Sekarang produksi sudah 50 kilo per hari. Dari awalnya 10 kilo, lalu 20 kilo, dan terus berkembang,” kata Rivan.
Namun, perubahan terbesar bukan pada angka produksi.
Tempe koro mulai melibatkan lebih banyak pihak. Produksi tidak lagi terpusat, melainkan menyebar ke rumah-rumah produksi. Di Alue Naga dan Desa Naga Umbang, sekitar 20 ibu rumah tangga kini terlibat langsung dalam proses produksi.

Di sisi lain, permintaan bahan baku turut menggerakkan petani. Kacang koro yang sebelumnya bukan komoditas utama kini mulai ditanam kembali. Hingga kini, lebih dari 120 petani di delapan wilayah Aceh telah bergabung dalam rantai produksi.
Rantai yang dulu terpisah kini mulai terhubung dari petani, pengolah, dan pasar.
Di pasar tradisional seperti Ulee Kareng, Rukoh, hingga Lamdingin, tempe koro mulai hadir. Ia belum menggantikan tempe kedelai, tetapi memberi alternatif sekaligus membuka ruang baru bagi pangan lokal.
Sekolah-sekolah pun mulai memesan dalam jumlah tertentu, menandakan bahwa produk ini perlahan mendapatkan kepercayaan.
Meski demikian, perjalanan ini masih panjang. Produksi yang meningkat menghadirkan tantangan baru yaitu menjaga kualitas, memperluas pasar, dan memastikan pasokan bahan baku tetap stabil.








Discussion about this post