MASAKINI.CO – Tidak banyak yang menyangka hamparan padang penggembalaan sapi di Kecamatan Indrapuri, Aceh Besar, kini menjadi tujuan akhir pekan bagi ratusan orang.
Kawasan yang awalnya dirancang untuk mendukung pembibitan ternak itu justru menarik perhatian karena bentangan rumput hijaunya yang luas, suasana yang tenang, dan pengalaman melihat langsung aktivitas peternakan dari dekat.
Dari pusat Kota Banda Aceh, perjalanan menuju lokasi hanya sekitar 40 hingga 45 menit. Namun sesampainya di sana, suasana yang ditemui terasa jauh berbeda. Hamparan savana terbuka membentang di depan mata, menghadirkan pemandangan yang selama ini lebih sering terlihat di layar ponsel daripada di sekitar kota.
Tidak ada bangunan ikonik atau wahana buatan yang menjadi daya tarik utama di tempat ini. Justru kesederhanaannya yang membuat banyak orang tertarik datang. Hamparan rumput hijau membentang luas dengan kontur lahan yang bergelombang ringan.
Di beberapa bagian terlihat kelompok sapi yang sedang merumput, sementara deretan pepohonan menjadi pemecah pemandangan di tengah padang terbuka.
Kawasan tersebut menawarkan pengalaman yang berbeda dibandingkan tempat wisata pada umumnya. Pengunjung tidak datang untuk mengejar atraksi atau hiburan tertentu, melainkan menikmati suasana alam yang terbuka dan tenang.

Banyak yang berjalan santai menyusuri jalur yang tersedia, menikmati udara segar, atau sekadar duduk memandang bentangan padang rumput yang luas.
Di tengah maraknya destinasi wisata berbasis komersial, Savana Indrapuri justru tumbuh dari fungsi yang sangat sederhana, yakni sebagai area penggembalaan ternak.
Kepala BPTU-HPT Indrapuri, Dayat, mengatakan meningkatnya minat masyarakat untuk berkunjung menjadi peluang untuk memperkenalkan sektor peternakan kepada publik, khususnya generasi muda yang selama ini mungkin hanya mengenal dunia peternakan dari media sosial atau buku pelajaran.
“Kami berupaya agar masyarakat masih bisa menikmati pemandangan tapi aktivitas di Balai tidak terganggu,” kata Dayat, Minggu (24/5/2026).
Menurutnya, keberadaan pengunjung memberikan manfaat lebih luas karena kawasan tersebut dapat berfungsi sebagai sarana edukasi.
“Mudah-mudahan anak-anak muda juga tertarik untuk mengenal dan mengembangkan usaha peternakan, khususnya sapi Aceh,” ujarnya.
Untuk menjaga kesehatan ternak, sejumlah area tetap dibatasi bagi pengunjung. Setiap orang yang masuk juga diwajibkan mengikuti prosedur biosekuriti sebagai langkah pencegahan terhadap risiko penyebaran penyakit pada ternak.
Meski menerapkan pembatasan, jumlah kunjungan terus meningkat. Sejak dibuka untuk umum pada April hingga Mei, kawasan ini telah menerima sekitar 2.400 pengunjung. Pada hari Sabtu dan Minggu, jumlah pengunjung dapat mencapai 400 hingga 500 orang per hari.
“Pembatasan ini demi menjaga ekosistem disini. Kami juga meminta pengunjung untuk membuang sampah pada tempatnya,” ujarnya.








Discussion about this post