MASAKINI.CO – Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal, mengajak para konten kreator, influencer, komunitas media sosial, dai, dan daiyah untuk mengambil peran aktif dalam menyebarkan syiar Islam melalui platform digital. Langkah tersebut dinilai penting karena ruang digital kini menjadi tempat utama masyarakat, khususnya generasi muda, memperoleh informasi dan membentuk pola pikir.
Ajakan itu disampaikan Illiza saat memberikan materi tentang digitalisasi syiar Islam dalam pelatihan dakwah digital yang digelar Dinas Syariat Islam Kota Banda Aceh.
Menurut Illiza, perkembangan teknologi telah mengubah cara masyarakat berinteraksi dan menerima pesan keagamaan. Karena itu, dakwah tidak lagi hanya berlangsung di mimbar masjid atau majelis taklim, tetapi juga harus hadir secara aktif di media sosial dan berbagai platform digital.
“Hari ini syiar Islam telah berpindah ruang. Generasi muda tumbuh dan membangun cara berpikirnya di ruang digital,” kata Illiza.
Ia menyebut Indonesia saat ini memiliki sekitar 221 juta pengguna internet dan 143 juta pengguna media sosial. Dengan rata-rata waktu penggunaan media sosial lebih dari tiga jam per hari, ruang digital menjadi sarana strategis untuk menyebarkan nilai-nilai Islam yang moderat, edukatif, dan inspiratif.
Menurutnya, generasi muda memiliki peluang besar menjadi pelaku utama dakwah digital melalui konten kreatif yang mampu menjangkau masyarakat luas, terutama kalangan anak muda yang aktif di media sosial.
Illiza menegaskan modernisasi yang sedang berlangsung di Banda Aceh tidak boleh menggeser identitas kota sebagai daerah yang menerapkan syariat Islam. Sebaliknya, teknologi harus dimanfaatkan untuk memperkuat nilai-nilai keislaman dan meningkatkan kualitas pelayanan publik.
“Banda Aceh sedang bergerak menuju digital Islami. Teknologi adalah alat, sedangkan syariat menjadi arah pembangunan,” ujarnya.
Ia juga mengajak seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, ulama, akademisi, komunitas, media hingga dunia usaha, untuk membangun ekosistem dakwah digital yang kuat dalam mendukung terwujudnya Banda Aceh sebagai Islamic Smart City.
Menurut Illiza, Banda Aceh memiliki modal sosial dan keagamaan yang kuat untuk mengembangkan syiar Islam berbasis digital. Saat ini kota tersebut memiliki 120 masjid, 130 mushalla dan meunasah, 40 dayah, 272 taman pendidikan Al-Qur’an, 186 balai pengajian, serta 95 majelis taklim yang didukung ribuan guru dan pengajar agama.
Selain memperkuat infrastruktur syiar Islam, Pemerintah Kota Banda Aceh juga terus mengembangkan berbagai program berbasis teknologi, salah satunya gerakan ASN Mengaji melalui aplikasi digital untuk membangun budaya Qurani di lingkungan birokrasi.
Illiza berharap semakin banyak anak muda memanfaatkan media sosial untuk menghasilkan konten positif, meningkatkan literasi digital Islami, dan menyebarkan pesan-pesan dakwah yang menyejukkan serta membawa manfaat bagi masyarakat.
“Islamic Smart City tidak bisa dibangun sendiri. Dibutuhkan kolaborasi seluruh elemen agar teknologi benar-benar menjadi sarana kemaslahatan umat,” katanya.








Discussion about this post