MASAKINI.CO – Deretan durian memenuhi sisi Jalan Jembatan Peunayong, Banda Aceh. Aroma khas buah berduri itu menyebar ke udara, mengundang para pembeli yang datang silih berganti. Musim durian kembali menghadirkan keramaian di kawasan tersebut. Tawa pembeli, suara pedagang menawarkan dagangan, dan bunyi durian yang dibelah menjadi pemandangan yang hampir tak pernah berhenti sejak pagi hingga malam.
Di tengah hiruk-pikuk itu, seorang pria paruh baya tampak mondar-mandir memikul durian, menyusun buah di lapak, lalu bergegas melayani pembeli yang meminta duriannya dibelah. Tubuhnya tak lagi sekuat anak muda. Langkahnya pun sedikit tertatih. Namun ia terus bekerja tanpa banyak bicara.
Warga sekitar mengenalnya sebagai Apa Yan.
Pria asal Lhokseumawe itu bukan pemilik lapak durian. Ia hanya membantu pedagang lain selama musim panen berlangsung. Pekerjaan musiman itulah yang kini menjadi sumber penghasilannya untuk bertahan hidup.
Sejak pagi, Apa Yan sudah berada di lokasi. Saat truk pengangkut durian datang, ia membantu menurunkan buah satu per satu. Setelah itu, ia menyusun durian agar terlihat rapi dan menarik pembeli. Ketika pengunjung berdatangan, ia kembali sibuk memilihkan durian, mengangkatnya, lalu membelah buah yang sudah dibeli.
Aktivitas itu dijalaninya hingga larut malam.
Bagi pembeli, Apa Yan mungkin hanya sosok pekerja yang membantu di lapak. Namun di balik kesibukannya, tersimpan kisah hidup yang tidak mudah.
Langkahnya yang terlihat lebih lambat ternyata menyimpan luka lama yang belum benar-benar sembuh.
Beberapa waktu lalu, saat hujan deras mengguyur Banda Aceh, kecelakaan menimpanya ketika sedang bekerja di lapak durian. Sebuah mobil melindas kakinya hingga mengalami cedera.
“Kaki saya tergiling sama mobil waktu lagi jualan, saat itu hujan sangat deras,” ujarnya pelan, Sabtu (27/6/2026).
Cedera itu masih menyisakan rasa sakit hingga sekarang. Namun Apa Yan tidak punya banyak pilihan selain terus bekerja.
Baginya, berhenti bekerja berarti kehilangan penghasilan.
Tidak ada gaji bulanan yang menunggu di akhir bulan. Tidak ada jaminan kesehatan yang siap menanggung biaya pengobatan. Semua harus ditanggung sendiri dari hasil membantu menjual durian.
“Sekali saya berobat biayanya Rp50 ribu,” katanya.
Nominal itu mungkin terdengar kecil bagi sebagian orang. Namun bagi Apa Yan, uang Rp50 ribu memiliki arti yang berbeda. Uang itu bisa menjadi biaya berobat, bisa juga menjadi biaya makan untuk beberapa hari.
Karena itu, setiap rupiah yang diperoleh dari musim durian menjadi sangat berharga.
Penghasilannya pun tidak menentu.
Saat pembeli ramai, ia bisa membawa pulang uang lebih banyak. Namun ketika dagangan sepi, pendapatannya ikut menyusut. Tidak ada angka pasti yang bisa ia harapkan setiap hari.
Meski begitu, Apa Yan tetap datang ke lapak sejak pagi. Sebab ia tahu, rezeki tidak akan datang jika ia hanya duduk menunggu.
Kesulitan hidup yang dihadapi Apa Yan tidak berhenti pada persoalan pekerjaan dan kesehatan.
Selama berada di Banda Aceh, ia bahkan tidak memiliki tempat tinggal yang layak.
Sebuah tenda sederhana di dekat lapak durian menjadi tempatnya beristirahat setiap malam. Di situlah ia melepas lelah setelah seharian bekerja.
Ketika cuaca cerah, tenda itu masih bisa digunakan untuk tidur. Namun saat hujan turun, kondisinya berubah.
Air dapat masuk kapan saja, membuatnya terpaksa mencari tempat lain untuk berteduh.
“Biasanya saya tidur di tenda ini. Kalau hujan saya pindah ke toko bangunan orang lain sebentar, tidak ada tempat tinggal di sini,” ujarnya.
Hari-hari Apa Yan nyaris seluruhnya dihabiskan di sekitar lapak durian.
Pagi hingga malam ia bekerja. Setelah itu ia beristirahat di tempat seadanya, lalu kembali menjalani rutinitas yang sama keesokan hari.
Di tengah keterbatasan tersebut, ia tetap menunjukkan keramahan kepada para pembeli. Senyum tak pernah lepas dari wajahnya ketika melayani orang yang datang memilih durian.
Mungkin karena ia memahami bahwa di balik setiap durian yang terjual, ada harapan yang ikut hidup.
Harapan untuk membeli makan.
Harapan untuk membayar biaya berobat.
Dan harapan untuk bertahan hingga musim durian berakhir.
Bagi banyak orang, musim durian adalah waktu menikmati buah favorit bersama keluarga. Namun bagi Apa Yan, musim ini memiliki makna yang jauh lebih dalam.
Di balik tumpukan durian yang terus berkurang setiap hari, tersimpan perjuangan seorang lelaki yang terus bekerja meski kaki yang menopang tubuhnya belum sepenuhnya pulih.
Di balik manisnya daging durian yang dinikmati pembeli, ada kisah tentang keteguhan hidup yang jarang terlihat.
Apa Yan mungkin bukan pemilik lapak terbesar di Peunayong. Ia juga bukan pedagang yang meraup keuntungan besar setiap hari.
Namun di antara ramainya musim durian tahun ini, kisahnya menjadi pengingat bahwa bagi sebagian orang, bekerja bukan sekadar mencari nafkah, melainkan cara untuk terus bertahan menjalani hidup.
Dan selama musim durian masih berlangsung, Apa Yan akan tetap berada di sana, di antara tumpukan buah berduri, menjaga harapan agar tidak ikut gugur sebelum waktunya.








Discussion about this post