MASAKINI.CO – Di tengah derasnya persaingan industri kopi, sebuah jenis kopi langka dari pedalaman Kabupaten Pidie mulai kembali diperhitungkan. Namanya kopi liberika Tangse, kopi yang tumbuh di kawasan pegunungan dan selama bertahun-tahun belum mendapatkan perhatian layaknya kopi arabika maupun robusta.
Bagi masyarakat Tangse, kopi ini bukan barang baru. Mereka mengenalnya sebagai kopi panah (Nangka).
Namun, nilai dan potensi besarnya belum penuh terlihat karena selama ini lebih banyak dijual sebagai komoditas biasa dengan harga rendah di tingkat petani.
Kini, kopi tersebut mulai diangkat dengan wajah baru. Dari kebun-kebun Tangse, kopi liberika perlahan dibawa menuju pasar yang lebih luas melalui proses hilirisasi, mulai dari pengolahan biji hingga penyajian dalam konsep kedai kopi modern.
Owner Barika Cafe, Anugrah Pratama, menyebut kopi liberika Tangse sebagai salah satu kekayaan Aceh yang selama ini tersembunyi.
“Tangse punya emas hijau yang sustainable, namanya kopi liberika. Ini salah satu kopi langka di dunia yang selama ini belum banyak dikenal,” ujar Anugrah di kedai kopi Barika Batoh, Senin (20/6/2026).
Menurutnya, liberika memiliki rasa yang unik, creamy, fruity, dan smoky. Karakternya berbeda dibandingkan jenis kopi lain. Populasinya sangat kecil hanya 1 persen di dunia.
Melihat peluang tersebut, Kedai Kopi Barika mulai mengembangkan kopi liberika Tangse dalam bentuk yang lebih dekat dengan tren konsumsi saat ini.

Tidak hanya menjual biji kopi hasil roasting, tetapi juga menghadirkannya sebagai minuman kopi modern dengan beragam rasa seperti sanger liberika, americano liberika, dan kopi susu liberika.
Saat ini, kopi liberika Tangse dapat dinikmati di Kedai Kopi Barika Lambaro, Aceh Besar, dan Barika kawasan Batoh, Banda Aceh.
“Di Aceh ini pertama kali adanya di Kedai Kopi Barika,” sebutnya.
Anugrah mengatakan, masuknya liberika ke kedai kopi modern menjadi salah satu cara agar kopi lokal tersebut lebih mudah dikenal, terutama oleh generasi muda yang kini banyak mengenal kopi melalui coffee shop.
“Kalau hanya dijual dengan cara lama, jangkauannya terbatas. Kami ingin kopi liberika Tangse masuk ke pasar kopi modern,” katanya.
Namun, yang membuat liberika berbeda bukan hanya cara penyajiannya. Kopi ini memiliki karakter rasa yang terus berkembang setelah proses roasting.
Anugrah menjelaskan, kopi liberika dapat mengalami perubahan rasa berdasarkan usia penyimpanan. Pada periode tertentu, rasa yang muncul bisa menyerupai buah nangka, kemudian berubah menjadi karakter durian, hingga muncul sensasi seperti kacang dan buah lainnya.
“Ini yang menarik dari liberika. Rasanya tidak berhenti di satu karakter, ada perjalanan rasa setelah proses roasting,” ujarnya.
Keunikan tersebut menjadi salah satu alasan kopi liberika memiliki peluang untuk masuk ke pasar kopi spesialti, pasar yang biasanya mencari kopi dengan karakter unik dan cerita asal yang kuat.
Namun, perjalanan mengangkat kopi liberika Tangse tidak hanya soal rasa. Persoalan terbesar justru berada di tingkat petani.
Selama ini, kopi liberika belum dianggap sebagai kopi bernilai tinggi. Akibatnya, harga jual di tingkat petani rendah dan proses budidaya maupun pasca panen belum mendapatkan perhatian serius.
Menurut Anugrah, banyak petani belum melakukan pemilahan kualitas saat panen karena tidak ada perbedaan harga yang signifikan antara kopi berkualitas dan kopi campuran.
Padahal, kualitas biji sangat menentukan cita rasa akhir kopi.
Karena itu, Barika mulai membangun pola kemitraan dengan petani Tangse. Salah satu upaya yang dilakukan adalah mendorong petani melakukan panen buah kopi merah dan memperbaiki proses pengeringan agar kualitas kopi meningkat.
“Kami ingin petani melihat bahwa kopi ini punya nilai. Kalau kualitasnya dijaga, maka harga dan pasar juga akan berubah,” katanya.
Bagi Anugrah, pengembangan kopi liberika bukan hanya tentang menjual produk, tetapi bagaimana menciptakan rantai ekonomi yang ikut menguntungkan masyarakat di daerah asalnya.
Dari Tangse untuk Dunia
Kopi liberika Tangse memiliki peluang besar karena tidak hanya menawarkan rasa, tetapi juga cerita. Ia tumbuh di kawasan pegunungan Aceh dengan karakter tanaman yang berbeda dari kopi pada umumnya.
Pohon liberika dapat tumbuh tinggi dan berdampingan dengan vegetasi lain, sehingga memiliki potensi dikembangkan dengan konsep pertanian yang lebih berkelanjutan.
Kini, kopi liberika Tangse mulai diperkenalkan dalam bentuk biji roasting dan minuman siap saji. Tidak berhenti di pasar lokal, kopi tersebut juga mulai menarik perhatian luar daerah hingga pasar internasional.
Malaysia menjadi salah satu negara yang mulai melirik pengembangan kopi liberika tersebut.
Bagi Barika, langkah ini merupakan bagian dari perjalanan panjang memperkenalkan salah satu kekayaan Aceh yang hampir terlupakan.







Discussion about this post