MASAKINI.CO – Setiap Agustus datang, ada rutinitas yang selalu dinanti Safura Yulinda. Bukan sekadar menyambut peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia, tetapi juga kembali menghidupkan usaha musiman yang telah menjadi bagian dari hidupnya selama satu dekade.
Di sela kesibukannya sebagai dosen, perempuan asal Blower, Banda Aceh itu kembali membuka lapak bendera merah putih di sejumlah sudut kota, melanjutkan tradisi yang telah ia jalani sejak masih duduk di bangku kuliah.
Perjalanan itu dimulai ketika Safura masih menjadi mahasiswi Fakultas Ushuluddin UIN Ar-Raniry. Berbekal semangat mencari tambahan penghasilan, ia mencoba berjualan bendera menjelang peringatan 17 Agustus. Siapa sangka, usaha yang awalnya hanya dilakukan saat masih kuliah itu justru bertahan hingga sekarang dan menjadi sumber pendapatan yang menjanjikan setiap musim kemerdekaan.
“Sudah 10 tahun mulai berjualan bendera ini, di masa saya masih kuliah sampai sekarang,” ujarnya, Selasa (4/8/2026).
Setiap tahun, Safura membuka lapak di tiga titik yang ramai dilalui masyarakat, yakni di depan Taman Budaya Aceh, kawasan Gunongan, dan dekat Kuburan Belanda.
Ketiga lokasi itu dipilih karena dinilai strategis, terutama saat masyarakat mulai mencari atribut merah putih untuk dipasang di rumah, kantor, sekolah, maupun tempat usaha. Sejak pagi hingga sore, ia setia melayani pembeli yang datang. Bahkan, ketika permintaan masih tinggi, lapaknya kembali dibuka pada malam hari agar masyarakat yang baru selesai beraktivitas tetap dapat membeli bendera.
“Kami buka mulai dari pagi sampai sore, sesekali juga kami bukanya malam, karena malam juga ada yang beli,” ujarnya.
Di balik ribuan lembar bendera yang berkibar di lapaknya, ada kerja sama keluarga yang menjadi kekuatan utama usahanya. Safura tidak menjahit seluruh bendera seorang diri. Ia dibantu oleh orang tua dan anggota keluarga lainnya, sehingga proses produksi dapat diselesaikan lebih cepat sebelum musim kemerdekaan tiba.
“Proses jahit bendera itu cuma memakan waktu dua minggu saja,” katanya.
Kerja keras tersebut sebanding dengan hasil yang diperoleh. Menurut Safura, musim Agustus selalu menjadi waktu paling dinanti karena mampu memberikan keuntungan yang jauh lebih besar dibanding hari-hari biasa.
“Penghasilannya banyak, sehari bisa dapat Rp3 juta. Itu kami bagi lagi sama orang tua, jadinya per orang dapat Rp1 juta, itu untuk untungnya saja,” ungkapnya.
Di lapaknya, bendera dijual dengan berbagai ukuran. Harga paling murah dibanderol sekitar Rp20 ribu hingga Rp50 ribu, sementara ukuran terbesar yang biasa digunakan untuk kantor dijual seharga Rp350 ribu. Variasi ukuran itu membuat pembeli memiliki banyak pilihan sesuai kebutuhan.
“Bendera kami jual ini mulai dari harga Rp20 ribu, Rp50 ribu hingga yang paling besar itu bendera kantor di harga Rp350 ribu,” ujarnya.
Menariknya, berjualan bendera bukanlah pekerjaan utama Safura. Di luar musim Agustus, ia menjalani profesinya sebagai dosen di Akademi Manajemen Informatika dan Komputer Indonesia (AMIKI) Simpang Mesra. Namun, baginya usaha musiman ini justru mampu memberikan pemasukan yang sangat berarti.
“Selain jualan ini, saya juga dosen di AMIKI. Kalau penghasilan dari dosen tidak mencukupi, enak jualan seperti ini,” katanya sambil tersenyum.
Selama sepuluh tahun, ia menjaga tradisi itu tetap hidup, mengubah selembar kain merah putih menjadi sumber rezeki bagi keluarganya, sekaligus menjadi pengingat bahwa setiap perayaan kemerdekaan selalu membawa cerita tentang harapan, kerja keras, dan perjuangan kecil yang sering luput dari perhatian.









Discussion about this post