MASAKINI.CO – Tidak pernah ada dalam rencana awal Muhammad Reza (29) untuk menghabiskan empat bulan di pelosok Papua Barat. Alumni Komunikasi Penyiaran Islam UIN Ar-Raniry itu bahkan mengaku awalnya hanya iseng mendaftar Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Universitas Indonesia (UI).
Namun, pengalaman di bidang pendampingan sosial, riset lapangan hingga kegiatan menulis membawanya lolos sebagai salah satu peserta. Penempatan kemudian membawanya jauh dari Banda Aceh, menuju Kampung Werianggi–Werabur, Distrik Nikiwar, Kabupaten Teluk Wondama.
“Awalnya tidak sengaja daftar dan ikut program ini, cuman persyaratan yang diminta juga sesuai dengan pengalaman yang saya miliki,” kata Reza, Rabu (12/8/2026).
Kesempatan itu akhirnya menjadi perjalanan panjang yang tidak hanya mempertemukannya dengan bentang alam Papua, tetapi juga dengan kehidupan masyarakat yang selama ini hanya ia kenal dari cerita dan pemberitaan.
Untuk mencapai lokasi, perjalanan tidak selesai setelah pesawat mendarat di Manokwari. Reza bersama rombongan harus melanjutkan perjalanan laut sekitar enam jam menuju Pelabuhan Windesi. Dari sana, perjalanan kembali dilanjutkan melalui jalur darat sekitar 50 menit menuju Kampung Werianggi.
Perjalanan tersebut menjadi awal dari kehidupan baru yang jauh berbeda dari keseharian di Banda Aceh. Sebanyak 120 peserta TEP UI 2026 ditempatkan di kawasan transmigrasi Werianggi–Werabur dan terbagi dalam 20 tim dari berbagai disiplin ilmu. Mereka tinggal bersama masyarakat selama empat bulan untuk memetakan potensi sekaligus menjalankan program pemberdayaan.
Bagi Reza, ekspedisi ini bukan sekadar kesempatan bepergian ke tempat baru. Ada pekerjaan yang harus diselesaikan dan kondisi lapangan yang menuntut kesiapan fisik maupun mental.
“Kesempatan ini cukup menarik karena kita bisa jalan-jalan sambil belajar. Dan semua biaya ditanggung oleh program, namun fisik dan mental kita harus siap tempur dalam menjalani tugas riset, pengabdian dan memberi rekomendasi hasil penelitian yang berdampak untuk menggali potensi wilayah yang bisa dijadikan sumber ekonomi baru,” ujarnya.
Hidup dengan Listrik yang Tak Selalu Menyala
Menjelajah alam Papua ternyata datang bersama tantangan yang tidak sedikit. Kawasan tempat Reza bertugas berada di wilayah pegunungan dengan akses jalan yang belum memadai. Transportasi menuju desa harus menggunakan kendaraan tertentu, sementara kebutuhan sehari-hari tidak selalu mudah didapat.
Listrik, misalnya, hanya tersedia pada waktu tertentu. Jaringan internet juga menjadi persoalan tersendiri. Untuk tetap terhubung dengan informasi dan menjalankan pekerjaan, tim bahkan harus membawa perangkat Starlink dari Jakarta.
Di tengah musim kemarau, persoalan lain muncul. Suhu disebut bisa mencapai 42 derajat Celsius, sementara air bersih sulit diperoleh untuk kebutuhan sehari-hari.
Kondisi tersebut membuat aktivitas yang bagi sebagian orang terlihat sederhana menjadi tantangan tersendiri bagi para peserta ekspedisi.
Namun, keterbatasan itu justru menjadi bagian dari pengalaman yang tidak akan didapat jika penelitian hanya dilakukan dari balik meja.
Dari Pala hingga Kayu Lawang
Di balik berbagai keterbatasan itu, Reza melihat sesuatu yang jauh lebih besar: kekayaan alam yang berpotensi menjadi sumber ekonomi baru bagi masyarakat.
Hasil eksplorasi awal tim menunjukkan sejumlah komoditas unggulan di kawasan Werianggi–Werabur, seperti pala, pisang, kakao, sagu, durian dan kayu lawang.
Potensi tersebut tidak berhenti pada pemanfaatan sebagai bahan pangan. Tim juga melihat peluang pengembangan komoditas tersebut melalui pendekatan bioprospeksi.
Kakao, misalnya, tidak hanya berpotensi sebagai bahan makanan, tetapi juga memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai bahan baku produk kesehatan. Begitu pula pisang yang dalam sejumlah penelitian telah dikaji untuk potensi antidiabetes, antiinflamasi, antioksidan dan penyembuhan luka.
Sementara itu, sagu dan kayu lawang juga menyimpan peluang lain. Kayu lawang, misalnya, dapat dimanfaatkan minyaknya untuk aromaterapi serta dikaji terkait potensi antiinflamasi dan antioksidan.
Meski begitu, Reza menegaskan temuan tersebut masih bersifat awal. Tim masih akan melakukan penelitian dan skrining lebih lanjut untuk menentukan komoditas mana yang benar-benar paling prospektif.
“Untuk sekarang masih tentatif, karena keadaan di lapangan pasti berbeda. Nanti akan kami update kembali terkait hasil temuan lanjutan di bulan kedua terkait komoditas dan skrining potensinya,” jelasnya.
Ekspedisi yang dijadwalkan berlangsung hingga Desember 2026 itu diharapkan tidak berakhir hanya dengan laporan penelitian.
Tim menargetkan adanya peta potensi bahan hayati lokal, daftar komoditas yang paling prospektif, data ilmiah awal hingga kemungkinan prototipe produk turunan. Hasil tersebut nantinya dapat menjadi pijakan untuk pengembangan produk herbal, kosmetik alami, pangan fungsional maupun produk berbasis sumber daya hayati lainnya.
Lebih jauh, tim juga ingin memetakan rantai nilai ekonomi agar masyarakat tidak hanya menjual hasil alam dalam bentuk bahan mentah dengan nilai tambah rendah. Harapannya, komoditas lokal dapat diolah menjadi produk yang memberikan nilai ekonomi lebih besar bagi masyarakat.
Bagi Reza, di situlah makna ekspedisi ini berada. Bukan hanya menemukan apa yang tumbuh di tanah Papua, tetapi mencari cara agar kekayaan tersebut dapat memberi manfaat bagi masyarakat yang menjaganya.
“Portofolio ini bagus untuk ke depannya. Apalagi kegiatan ini juga ke depannya akan terus berlanjut untuk melihat potensi-potensi yang belum diteliti, karena banyak sekali SDA yang masih belum maksimal dimanfaatkan dan akan terus dievaluasi,” tuturnya.
Empat bulan di Teluk Wondama pada akhirnya bukan hanya perjalanan dari Banda Aceh menuju Papua Barat. Bagi Reza, perjalanan itu menjadi ruang belajar tentang alam, masyarakat, keterbatasan, sekaligus tentang bagaimana sebuah kekayaan yang selama ini tumbuh begitu saja dapat diubah menjadi peluang tanpa harus mengorbankan lingkungan.









Discussion about this post