MASAKINI.CO – Mantan Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh, Prof Dr Warul Walidin AK MA, meninggal dunia di Rumah Sakit Umum Daerah Zainoel Abidin (RSUDZA) Banda Aceh, Rabu (12/8/2026) sekitar pukul 08.30 WIB. Ia berpulang pada usia 67 tahun.
Kepergian akademisi yang pernah memimpin UIN Ar-Raniry periode 2018–2022 itu meninggalkan duka mendalam bagi keluarga besar kampus dan masyarakat Aceh. Rektor UIN Ar-Raniry Prof Dr Mujiburrahman MAg menyebut Warul sebagai sosok guru bangsa dan rektor senior yang meninggalkan banyak gagasan bagi perkembangan pendidikan Islam di Aceh.
“Beliau guru bangsa, rektor senior. UIN sangat merasa kehilangan,” ujar Mujiburrahman.
Menurut Mujiburrahman, Warul bukan hanya dikenal sebagai mantan pimpinan perguruan tinggi, tetapi juga sebagai intelektual yang pemikirannya masih dibutuhkan, terutama dalam pengembangan UIN Ar-Raniry ke depan.
“Di periode kedua ini kita masih membutuhkan ide dan gagasan besar beliau untuk UIN Ar-Raniry, untuk visi besar UIN Ar-Raniry periode 2026-2030,” katanya.
Warul memiliki perjalanan panjang bersama UIN Ar-Raniry. Pengabdiannya sebagai akademisi dimulai sejak 1983 ketika menjadi dosen di Fakultas Syariah IAIN Ar-Raniry sebelum kemudian mengabdi di Fakultas Tarbiyah.
Karier akademiknya terus berkembang hingga dipercaya menduduki sejumlah posisi strategis. Ia pernah menjabat Ketua Jurusan Kependidikan Islam Fakultas Tarbiyah periode 1997–2000, kemudian menjadi Dekan Fakultas Tarbiyah pada 2000–2001.
Setelah menyelesaikan pendidikan doktor pada 1997, Warul juga aktif mengajar di Program Pascasarjana IAIN Ar-Raniry. Pengalaman panjang di dunia akademik mengantarkannya dipercaya menjadi Rektor UIN Ar-Raniry.
Pada 2 Juli 2018, Menteri Agama saat itu, Lukman Hakim Saifuddin, melantik Warul sebagai Rektor UIN Ar-Raniry periode 2018–2022 menggantikan Prof Dr Farid Wajdi Ibrahim MA.
Selain berkiprah di lingkungan kampus, Warul juga aktif dalam berbagai ruang pengabdian publik. Ia pernah terlibat dalam Majelis Pendidikan Daerah (MPD) Aceh dan Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh.
Keterlibatan tersebut memperlihatkan perannya sebagai akademisi yang tidak hanya fokus pada dunia perguruan tinggi, tetapi juga ikut memberi perhatian terhadap persoalan pendidikan, keislaman, dan pembangunan masyarakat Aceh.
Mujiburrahman menilai pengalaman dan pemikiran Warul membuatnya menjadi salah satu tokoh akademik penting yang kontribusinya melampaui lingkungan kampus.
“Pemikiran beliau masih sangat kita butuhkan. Bukan hanya untuk UIN Ar-Raniry, tetapi juga untuk Aceh,” ujarnya.
Selama pengabdiannya, Warul dikenal sebagai sosok yang menempatkan pendidikan sebagai fondasi penting dalam membangun masyarakat. Pemikirannya mengenai pendidikan Islam, pengembangan perguruan tinggi, serta hubungan antara ilmu dan kehidupan sosial menjadi bagian dari jejak panjang yang ia tinggalkan.
Kini, setelah wafatnya Prof Warul Walidin, UIN Ar-Raniry dan Aceh kehilangan salah satu akademisi senior yang telah mendedikasikan hidupnya untuk pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia.








Discussion about this post