MASAKINI.CO – Kekayaan hayati di Kabupaten Teluk Wondama, Papua Barat, mulai dipetakan untuk melihat peluang pengembangannya menjadi produk bernilai ekonomi. Hutan hujan tropis, mangrove hingga ekosistem pesisir dan laut di wilayah tersebut dinilai menyimpan potensi bahan baku bioprospeksi.
Potensi itu menjadi fokus Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Universitas Indonesia (UI) yang mulai melakukan riset dan pemetaan di Kampung Werianggi–Werabur, Kabupaten Teluk Wondama, sejak Kamis (6/8/2026). Penelitian dijadwalkan berlangsung selama empat bulan hingga Desember 2026.
Ketua Tim TEP UI, Tri Wahyuni mengatakan kekayaan ekosistem di Teluk Wondama membuka peluang untuk menemukan berbagai komoditas lokal yang dapat dikembangkan menjadi produk unggulan.
“Potensi kawasan hutan hujan tropis, hutan mangrove, serta ekosistem pesisir dan laut menjadikan daerah ini memiliki potensi besar sebagai sumber bahan baku bioprospeksi,” ujar Tri Wahyuni.
Dalam penelitian tersebut, tim akan melakukan skrining, observasi dan eksplorasi untuk mengidentifikasi komoditas yang memiliki potensi untuk dikembangkan. Pendekatan bioprospeksi digunakan untuk meningkatkan nilai ekonomi sumber daya hayati dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan.
Tri menjelaskan, senyawa aktif yang ditemukan dari tumbuhan lokal nantinya berpeluang dikembangkan menjadi berbagai produk, mulai dari herbal, obat modern, kosmetik alami hingga pangan fungsional.
“Bioprospeksi memberikan peluang besar dalam meningkatkan nilai ekonomi hasil hutan melalui inovasi berbasis penelitian. Senyawa aktif yang diperoleh dari tumbuhan lokal dapat dikembangkan menjadi produk herbal, obat modern, kosmetik alami, atau hasil pangan fungsional,” katanya.
Selain meneliti potensi sumber daya alam, tim yang terdiri dari dosen, profesor dan alumni UI tersebut juga akan melihat kondisi sosial masyarakat serta peluang pengembangan komoditas unggulan di kawasan transmigrasi.
Kegiatan ini merupakan kerja sama TEP UI dengan Kementerian Transmigrasi. Hasil riset dan pemetaan nantinya diharapkan menjadi bahan dalam penyusunan kebijakan pembangunan kawasan transmigrasi yang lebih inklusif, produktif dan berkelanjutan.
Pendekatan tersebut diarahkan agar pemanfaatan sumber daya alam dapat memberikan nilai tambah bagi masyarakat tanpa mendorong eksploitasi hutan secara berlebihan.










Discussion about this post