MASAKINI.CO – Memasuki 21 tahun perdamaian Aceh, Bupati Aceh Besar H. Muharram Idris atau Syech Muharram meminta pemerintah tidak menjadikan peringatannya sebatas seremoni.
Ia mendorong capaian perdamaian ditampilkan secara nyata agar masyarakat dapat melihat manfaat yang diperoleh setelah konflik berakhir.
Menurut Muharram, peringatan 21 tahun perdamaian harus menjadi momentum untuk menjawab pertanyaan mendasar, apa yang berubah dan apa yang dirasakan masyarakat setelah Aceh hidup dalam kondisi damai selama lebih dari dua dekade.
“Jangan cuma perdamaian namanya saja, tetapi pencapaiannya tidak ada. Dengan adanya perdamaian apa hasilnya? Dengan adanya perdamaian apa untungnya bagi rakyat?” tegasnya, Selasa (11/8/2026).
Ia meminta materi peringatan, termasuk video yang akan ditampilkan, tidak hanya berisi program pembangunan pemerintah.
Menurutnya, materi tersebut perlu memperlihatkan capaian Aceh setelah kesepakatan perdamaian sehingga masyarakat dapat melihat hubungan antara perdamaian dan perubahan yang terjadi di daerah.
Muharram juga menilai peringatan tahun ini penting untuk memperkuat pemahaman generasi muda tentang sejarah perdamaian Aceh. Sebab, generasi yang lahir setelah konflik semakin banyak dan sebagian tidak mengalami langsung konflik maupun tsunami.
“Perdamaian itu lahir dengan pengorbanan ratusan ribu jiwa akibat tsunami. Karena adanya tsunami maka lahirlah perdamaian. Ini perlu kita ingat supaya anak-anak kita tahu kenapa harus berdamai dan bagaimana perdamaian itu terjadi,” katanya.
Ia mengusulkan sejumlah tokoh yang terlibat dalam proses perdamaian Aceh dihadirkan dalam rangkaian kegiatan. Nama yang disebut antara lain Jusuf Kalla, Hamid Awaluddin, Bakhtiar Abdullah, Nur Juli, Susilo Bambang Yudhoyono serta perwakilan Crisis Management Initiative (CMI).
Menurut Muharram, kehadiran para tokoh tersebut dapat membantu generasi muda memahami proses panjang yang melahirkan perdamaian Aceh.
“Perdamaian sudah 21 tahun. Itu sudah melahirkan anak yang dewasa. Mereka tidak tahu apa itu damai, tsunami pun mereka tidak tahu. Karena itu perlu edukasi berkelanjutan kepada masyarakat Aceh,” ujarnya.
Sementara itu, Asisten I Sekda Aceh Drs. Syakir, M.Si., meminta Ketua BRA Jamaluddin membangun komunikasi dengan perbankan, BUMN dan berbagai lembaga di Aceh untuk mendukung rangkaian kegiatan Hari Damai Aceh.
Syakir berharap kolaborasi lintas sektor dapat memperkuat pelaksanaan agenda peringatan, termasuk zikir dan doa bersama di Masjid Raya Baiturrahman.
Ketua BRA Jamaluddin turut memaparkan rencana rangkaian kegiatan dan meminta dukungan seluruh SKPA serta jajaran terkait.
Bagi Muharram, peringatan 21 tahun perdamaian seharusnya tidak berhenti pada mengenang masa lalu. Momentum tersebut harus digunakan untuk menunjukkan hasil perdamaian, memperkuat pemahaman sejarah dan memastikan manfaatnya terus dirasakan masyarakat Aceh.










Discussion about this post