MASAKINI.CO – Ketika nama Ghaisya Ulya dipanggil sebagai peraih medali emas pada Taekwondo Aceh Student Championship 2.0 di GOR KONI Aceh, sorak tepuk tangan memenuhi arena pertandingan. Remaja 16 tahun itu melangkah menuju podium dengan senyum yang sulit disembunyikan.
Ia menggenggam medali emas pertamanya, hadiah dari keputusan yang baru berani ia ambil dua tahun lalu.
Tidak banyak atlet yang mampu naik ke podium tertinggi hanya pada kejuaraan keduanya. Ghaisya melakukannya. Padahal, pada debutnya ia hanya membawa pulang medali perunggu.
“Alhamdulillah senang sekali, akhirnya dapat emas yang sebelumnya cuma dapat perunggu,” katanya, Kamis (8/7/2026).
Medali itu bukan datang karena keberuntungan. Ada proses yang berjalan diam-diam di baliknya.
Sejak kecil, Ghaisya sebenarnya menyukai olahraga bela diri. Namun, ketertarikan itu hanya berhenti sebagai keinginan. Ia belum cukup yakin untuk benar-benar mencoba.
Keberanian itu baru muncul ketika ia duduk di bangku kelas X SMA Negeri 5 Banda Aceh.
“Sudah dari kelas 1 SMA. Sebenarnya dari dulu suka bela diri, tapi baru berani waktu masuk SMA,” ujarnya.
Keputusan sederhana untuk mulai berlatih kemudian mengubah banyak hal. Dari seorang siswi yang hanya menyukai bela diri, Ghaisya perlahan tumbuh menjadi atlet yang terbiasa menghadapi tekanan pertandingan.
Kejuaraan pertama menjadi pelajaran berharga. Medali perunggu memang berhasil diraih, tetapi ia merasa masih banyak yang harus diperbaiki.
“Ini pertandingan yang kedua saya ikuti. Sebelumnya event BMA yang dibuat oleh Sekda, alhamdulillah kali ini dapatnya medali emas,” tuturnya.
Perubahan itu dibangun melalui rutinitas yang disiplin. Sepulang sekolah, ia tidak langsung menikmati waktu luang seperti kebanyakan remaja seusianya. Setelah beristirahat sejenak, ia kembali mengenakan dobok dan berangkat ke tempat latihan.
“Pulang sekolah jam setengah tiga, jadi ada waktu untuk istirahat satu jam setengah. Habis salat Asar langsung berangkat ke tempat latihan,” katanya.
Latihan menjadi bagian dari kesehariannya. Setiap sore ia mengulang gerakan yang sama, memperbaiki teknik, dan membangun kepercayaan diri sedikit demi sedikit. Dukungan keluarga membuatnya tetap bertahan menjalani proses itu.
Kini, medali emas menjadi penanda bahwa kerja kerasnya mulai membuahkan hasil. Namun, bagi Ghaisya, kemenangan tersebut bukan tujuan akhir.
Ia justru melihatnya sebagai langkah pertama untuk mengejar prestasi yang lebih tinggi.
Di usianya yang masih 16 tahun, Ghaisya juga ingin berbagi pesan kepada anak-anak muda yang masih ragu memulai sesuatu.
“Merasa ragu berarti kamu peduli dengan mimpimu. Ubah pola pikirmu dan jangan biarkan apa yang tidak dapat kamu lakukan mengganggu apa yang dapat kamu lakukan.”






Discussion about this post