MASAKINI.CO – Aroma rempah khas Aceh menyeruak dari sebuah dapur produksi sederhana yang kini tak pernah sepi aktivitas. Di tengah musim haji 2026, permintaan terhadap keumamah atau ikan kayu khas Aceh melonjak drastis. Makanan tradisional yang selama ini identik dengan bekal perjalanan masyarakat Aceh itu kini ikut berangkat ke Tanah Suci bersama ribuan jemaah haji Indonesia.
Fenomena ini dirasakan langsung oleh pelaku usaha lokal, Keumamah Cut Kak. Usaha rumahan yang dirintis dengan semangat menjaga kuliner tradisional Aceh tersebut kini kewalahan memenuhi lonjakan pesanan dari berbagai daerah di Indonesia.
Founder Keumamah Cut Kak, Irvadiarni Falka, mengatakan musim haji tahun ini menjadi salah satu momen dengan peningkatan permintaan tertinggi sejak usaha tersebut berdiri.
“Alhamdulillah meningkat pesat. Dalam bulan haji ini kurang lebih sudah 2.000 pcs,” ujar Irvadiarni, Selasa (19/5/2026).
Menurutnya, peningkatan pesanan tidak hanya datang dari masyarakat Aceh, tetapi juga dari calon jemaah asal luar daerah seperti Jakarta, Palembang, Kalimantan hingga beberapa kota lain di Indonesia. Sebagian besar pembeli mengetahui produk tersebut melalui marketplace dan media sosial.
“Yang dari marketplace itu banyak juga jemaah luar Aceh. Mereka cari makanan yang praktis, tahan lama dan cocok dibawa ke Arab Saudi,” katanya.
Keumamah sendiri bukan makanan biasa bagi masyarakat Aceh. Kuliner yang dikenal dengan sebutan ikan kayu ini memiliki sejarah panjang dan erat dengan budaya hidup masyarakat pesisir. Terbuat dari ikan tuna pilihan yang direbus, dikeringkan, lalu dimasak kembali dengan bumbu rempah khas Aceh, keumamah dikenal memiliki daya tahan tinggi tanpa mengurangi cita rasa.
Di masa lalu, makanan ini menjadi bekal utama nelayan Aceh saat melaut dalam waktu lama. Kini, fungsi itu seolah bertransformasi menjadi bekal perjalanan spiritual para jemaah haji.
Bagi para calon tamu Allah, keumamah dianggap sangat praktis. Produk siap saji itu bisa langsung disantap tanpa perlu dipanaskan, sehingga memudahkan jemaah di tengah padatnya aktivitas ibadah di Tanah Suci.
Tak hanya soal kepraktisan, rasa juga menjadi alasan utama. Gurih ikan tuna yang berpadu dengan rempah khas Aceh menghadirkan rasa “rumah” bagi para jemaah yang berada jauh dari kampung halaman.
“Banyak yang bilang kalau makan keumamah di sana seperti mengobati rindu kampung,” ujar Irvadiarni sambil tersenyum.
Menariknya lagi, lonjakan permintaan bukan hanya berasal dari pembelian pribadi jemaah. Sejumlah instansi pemerintah juga mulai menjadikan keumamah sebagai bagian dari tradisi pelepasan calon jemaah haji.
“Beberapa waktu lalu kami dapat order dari kantor Wali Kota untuk peusijuk jamaah haji Banda Aceh,” katanya.

Permintaan yang terus meningkat membuat aktivitas produksi di dapur Keumamah Cut Kak ikut berubah drastis. Jika pada bulan biasa mereka hanya memproduksi sekitar 1.500 kemasan, selama musim haji jumlahnya meningkat hingga menembus 2.000 kemasan dengan berbagai ukuran.
Produk yang dipasarkan pun semakin variatif, mulai dari travel size yang praktis dibawa dalam koper jemaah hingga kemasan 500 gram untuk konsumsi keluarga. Pilihan rasa juga disesuaikan dengan selera konsumen, mulai dari original hingga varian pedas khas Aceh.
Harga yang ditawarkan bervariasi, mulai Rp35 ribu hingga Rp180 ribu tergantung ukuran dan jenis produk.
Selain rasa dan kepraktisan, daya tahan menjadi keunggulan utama produk tersebut. Keumamah siap saji mampu bertahan hingga enam bulan pada suhu ruang dan bisa mencapai satu tahun jika disimpan dalam kondisi beku.
Di tengah gempuran makanan modern dan instan, meningkatnya permintaan keumamah menjadi angin segar bagi pelestarian kuliner tradisional Aceh. Produk yang dulunya hanya dikenal di kalangan masyarakat lokal kini perlahan mendapat tempat di pasar nasional.
Bagi Irvadiarni, keberhasilan itu bukan sekadar soal bisnis atau peningkatan omzet. Ada kebanggaan tersendiri ketika makanan tradisional Aceh bisa ikut menemani perjalanan ibadah para jemaah di Tanah Suci.
“Ini bukan hanya soal jualan. Kami senang karena kuliner Aceh tetap hidup, dikenal lebih luas dan bisa menjadi bagian dari perjalanan ibadah para tamu Allah,” tutupnya.









Discussion about this post