MASAKINI.CO – Tidak banyak yang tahu, di balik video-video rapi dengan alur cerita yang kuat, ada perjalanan panjang yang dimulai dari keterbatasan. Yulzi Muammar Qhadafi tidak langsung tumbuh sebagai kreator. Ia membangunnya perlahan dari nol, dari pinjaman alat, dan dari kerja fisik yang jauh dari dunia kamera.
Ia berkisah, ketertarikannya pada dunia visual muncul sejak bangku sekolah menengah pertama. Awalnya sederhana hanya memotret jalanan. Tanpa konsep besar, tanpa tujuan yang jelas, sampai akhirnya ia masuk SMK dan melihat langsung bagaimana seniornya bekerja di bidang videografi.
Di situlah titiknya berubah.
Ia mulai belajar. Bukan dari fasilitas yang memadai, tapi dari apa yang ada. Kamera pinjaman, laptop pinjaman, bahkan perangkat editing seadanya. Tahun 2017, ia mulai mencoba sendiri merekam, mengedit, memahami gambar, meski tanpa bimbingan yang jelas.
“Dulu semua serba terbatas. Kalau mau belajar, harus cari sendiri,” ujarnya, Jumat (1/5/2026).
Setelah lulus pada 2020, jalan yang ia bayangkan tidak langsung terbuka. Dunia kreatif belum memberinya ruang. Ia sempat bekerja sebagai penjaga konter pulsa hanya lima hari. Lalu berpindah menjadi penjual pisang goreng, tukang bakar kebab, hingga buruh pabrik air mineral dengan jam kerja mencapai 12 jam sehari.
luar itu, ia juga menjadi kuli panggul, mengangkut ratusan kotak air mineral ke berbagai titik di Banda Aceh dan Aceh Besar.
Namun, di tengah rutinitas yang berat, Yulzi tidak sepenuhnya meninggalkan mimpinya.
Sepulang kerja pabrik, ia masih berjualan es keliling menggunakan vespa peninggalan kakeknya. Malam hari menjadi ruang lain baginya untuk bertahan mengumpulkan sedikit demi sedikit modal.
Di waktu yang sama, ia tetap menerima pekerjaan kecil sebagai videografer lepas. Ia belajar di sela lelah. Mengedit di sela waktu. Tidak ada jeda yang benar-benar kosong.
Perubahan mulai terjadi ketika ia bertemu dengan jurnalis senior, Hidayatullah. Dari sana, Yulzi masuk ke dunia jurnalistik belajar meliput, merekam peristiwa, hingga memahami cara kerja berita.
Metodenya keras. Tekanan tinggi. Tapi di situ ia menemukan pola.
“Dilatih seperti militer. Tapi di situ saya belajar, proses memang harus keras,” ujarnya.
Pengalaman itu membuka jalan. Ia sempat menjadi wartawan lepas di salah satu stasiun televisi nasional, bekerja sebagai editor di SCTV Aceh. Kemudian karirnya berkembang dan bergabung sebagai videografer di Aceh Tourism Travel.

Di sini, ia mulai mengembangkan pendekatan yang lebih terarah melalui visual storytelling. Ia tidak hanya merekam gambar, tapi menyusun cerita memulai dari riset, menyusun konsep, lalu produksi, hingga editing yang detail. Baginya, konten bukan sekadar visual, tapi juga harus punya pesan.
“Orang tidak hanya menonton, tapi juga mendengar dan memahami cerita,” katanya.
Gaya itu kemudian menjadi ciri khasnya konten yang tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga informatif.
Tak berhenti disitu, anak pertama dari tiga bersaudara ini terus mengepakkan sayapnya. Tahun 2025 lalu, ia mendapat kesempatan menjadi bagian dari tim produksi seorang YouTuber asal London untuk meliput Timnas Indonesia di Arab Saudi.
Sebuah langkah yang sebelumnya mungkin sulit ia bayangkan.
Namun, di balik itu semua, tidak semua orang langsung melihat prosesnya.
Ia pernah diremehkan. Pekerjaan kreatif dianggap bukan pekerjaan. Duduk di depan laptop, bekerja dari warung kopi, sering kali dinilai tidak menghasilkan apa-apa.
“Tapi saya yakin, ini akan berkembang. Dan sekarang mulai terlihat,” ujarnya.
Bagi Yulzi, tantangan terbesar bukan hanya soal teknis, tetapi juga soal penghargaan terhadap profesi kreatif yang masih belum merata, terutama di Aceh.
Meski begitu, ia memilih tetap berjalan. Mengikuti perkembangan tren, memperbarui cara bercerita, dan terus belajar dari berbagai platform digital.
Salah satu karya yang paling berkesan baginya adalah ketika ia mengangkat isu banjir di Aceh. Baginya, visual bisa menjadi jembatan menghubungkan peristiwa dengan publik.
Kini, di usianya yang belum genap 24 tahun, Yulzi tidak berbicara tentang pencapaian, tetapi tentang proses.
“Proses itu mengajarkan kita cara bertahan, berkembang, dan berdiri di atas keraguan orang lain,” katanya.
Perjalanannya belum selesai. Tapi satu hal sudah jelas ia tidak lagi berdiri di titik awal.
Dan setiap gambar yang ia hasilkan hari ini, bukan hanya soal karya. Tapi juga jejak dari perjalanan panjang yang dibangun tanpa jalan pintas.







Discussion about this post