MASAKINI.CO – Sirih selama ini menjadi simbol penting dalam berbagai prosesi adat di Aceh. Daun ini hampir selalu hadir dalam momen sakral seperti pernikahan, pertunangan, hingga rapat ureung gampong. Namun, di balik kuatnya tradisi tersebut, pemahaman generasi muda terhadap makna sirih justru kian memudar.
Sejumlah mahasiswa mengaku hanya mengenal sirih sebatas pelengkap adat, tanpa memahami filosofi yang terkandung di dalamnya.
“Saya juga tidak tahu kenapa harus sirih,” ujar seorang mahasiswa di Aceh, Ula, Jumat (1/5/2026).
Hal serupa disampaikan Gea. Ia mengatakan kehadiran sirih dalam acara adat sudah menjadi hal biasa, meski tidak mengetahui alasan penggunaannya.
“Saya pun tidak tahu,” katanya.
Zakia juga mengungkapkan hal yang sama. Ia mengaku terbiasa melihat sirih dalam setiap kegiatan sakral, namun tidak memahami maknanya.
“Yang saya tahu setiap kegiatan sakral dibawa ini, tapi tidak tahu kenapa,” ujarnya.
Kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan antara praktik budaya yang terus dijalankan dengan pemahaman generasi muda terhadap nilai-nilai yang mendasarinya. Tradisi sirih tetap dipertahankan, tetapi berisiko kehilangan makna jika hanya dijalankan sebagai simbol tanpa pemahaman.
Situasi ini menjadi peringatan bagi pelaku adat dan pemangku kebijakan budaya untuk lebih aktif mengenalkan filosofi di balik simbol-simbol adat kepada generasi muda. Tanpa upaya tersebut, tradisi yang selama ini dijaga berpotensi berubah menjadi sekadar formalitas tanpa makna.










Discussion about this post