MASAKINI.CO – Oleh lumpur sawah itulah mimpi besar seorang perempuan tua di Aceh Utara perlahan tumbuh.
Di sudut barisan manasik haji itu, Halimah Hasyem duduk tenang di atas kursi roda. Tangannya sesekali memegangi tubuhnya yang mulai lelah. Wajahnya tampak dipenuhi garis usia, sementara matanya menatap pelan ke arah keramaian jamaah lain yang sedang mengikuti rangkaian manasik.
Tidak banyak yang tahu, perempuan 85 tahun asal Panton Labu, Kecamatan Tanah Jambo Aye, Aceh Utara itu telah menunggu sekitar 15 tahun untuk bisa berdiri di titik ini, menunggu keberangkatan menuju Tanah Suci.
“Sekitar 15 tahun sudah menunggu, akhirnya terpanggil untuk tunaikan haji,” ujarnya, Selasa (12/5/2026).
Bagi sebagian orang, biaya haji mungkin dikumpulkan dari usaha besar, jabatan, atau penghasilan tetap. Namun bagi Halimah, ongkos menuju Baitullah berasal dari sesuatu yang sangat sederhana: sawah.
Seumur hidup, ia tidak memiliki pekerjaan lain selain pergi ke sawah. Dari tanah berlumpur itu, ia menyisihkan sedikit demi sedikit uang hasil kerjanya. Tidak sekaligus banyak. Tidak juga mudah. Tetapi tabungan kecil yang dikumpulkan dengan sabar itu akhirnya cukup untuk membawanya mendaftar haji.
“Tidak ada kerja lain, hanya pergi ke sawah saja, kumpul sedikit-sedikit duitnya,” ujarnya.
Perjalanan hidup Halimah pun jauh dari kata ringan. Suaminya telah lama meninggal dunia. Sejak itu, ia menjalani hidup dengan keteguhan seorang ibu yang harus membesarkan tujuh anak hingga semuanya tumbuh dan berkeluarga.
“Anak ada tujuh, semuanya sudah berkeluarga,” katanya.
Kini, usia tak lagi berpihak padanya. Tubuhnya mulai sering sakit. Duduk terlalu lama membuat badannya nyeri. Perjalanan panjang pun cepat menguras tenaganya.
“Badan sudah sering sakit-sakit ini. Kemarin duduk di mobil sepanjang hari, lanjut duduk lagi, nanti di pesawat juga duduk lagi,” tuturnya pelan.
Karena kondisi fisiknya yang melemah, Halimah harus menggunakan kursi roda selama mengikuti manasik. Namun keterbatasan itu tidak mampu memadamkan semangatnya. Di tengah tubuh renta yang mulai rapuh, tersimpan keyakinan yang tetap utuh.
Baginya, haji bukan sekadar perjalanan jauh ke Tanah Suci. Itu adalah penantian panjang yang dijaga selama belasan tahun dengan doa, kerja keras, dan kesabaran.







Discussion about this post