MASAKINI.CO – Dalam dinginnya malam dan panasnya siang, tenda darurat itu menjadi satu-satunya tempat yang melindungi 14 kepala keluarga yang masih mengungsi setelah bencana longsor menerjang Desa Kalasegi, Kecamatan Bintang, Aceh Tengah.
Mereka bertahan, dengan harapan, di tenda yang penuh dengan kegetiran dan ketidakpastian.
Dua bulan lebih berlalu sejak bencana itu, namun di mata Salawati, rasa sakit itu seakan masih segar seperti baru kemarin.
Bersama 14 kepala keluarga lainnya, ia kini tinggal di sebuah tenda darurat yang jauh dari kenyamanan. Rumahnya yang dulu berdiri tegak kini sudah tak tersisa, hancur diterjang longsor yang tak kenal ampun.
“Kami baru tinggal di tenda seminggu lalu, setelah bencana yang terjadi sejak November lalu. Sebelumnya, kami tinggal di rumah saudara, tapi akhirnya dipindahkan ke sini,” cerita Salawati, Selasa (3/2/2026).
Sementara dunia luar sibuk mempersiapkan suasana Ramadan, mereka harus menghadapi kenyataan pahit bahwa puasa tahun ini akan dijalani di tengah tenda, tanpa rumah, tanpa kebun kopi yang selama ini menjadi andalan hidup. Kebun yang dulu menghijau dengan tanaman kopi, kini hancur begitu saja, seolah segala yang mereka perjuangkan selama ini sirna dalam sekejap.
“Kebun kopi kami yang dulu sudah bisa dipanen, sekarang hancur, tak ada lagi. Usaha kami hilang dalam bencana itu,” kata Salawati dengan suara yang tercekat, mencoba menahan isak.
Kepercayaan dirinya yang dulu begitu kuat kini menguap bersama keruntuhan rumah dan kebun mereka.
Hari-hari di tenda terasa semakin berat, terutama saat Ramadan dan Lebaran yang sudah semakin dekat. Salawati dan para pengungsi lainnya merasakan dilema yang sulit diungkapkan bagaimana menjalani ibadah puasa dalam keadaan seperti ini, di tengah kesulitan dan ketidakpastian?
“Kami berharap pemerintah segera membangun rumah untuk kami, ini Ramadhan dan Lebaran di depan mata. Harta benda tak ada lagi. Hanya rumah yang kami harapkan,” harapnya.
Mereka tak meminta banyak, hanya sebuah tempat untuk berteduh, tempat untuk merayakan kebahagiaan bersama keluarga di tengah bulan penuh berkah.
Keadaan di dalam tenda semakin menggambarkan betapa sulitnya hidup yang mereka jalani. Tenda-tenda yang sesak, dengan udara dingin yang menusuk tulang, menjadi tempat tinggal mereka sementara waktu.
Anak-anak yang harusnya menikmati masa kecil di rumah yang aman, kini harus beradaptasi dengan kehidupan serba terbatas. Mereka bermain di tanah, tanpa ruang yang layak untuk belajar atau beristirahat dengan tenang.

Begitu juga Santi, seorang pengungsi lainnya mengungkapkan rasa yang sama.
“Saya baru dua minggu di sini. Sebelumnya kami tinggal di tempat pengungsian yang ramai.
Bagi mereka, desa ini bukan sekadar tempat tinggal. Ini adalah tanah kelahiran mereka, tempat di mana generasi demi generasi menanam harapan dan impian. “Saya terdata menerima Huntara. Tapi kami tetap ingin dibangun di desa Kalasegi ini. Tanah kelahiran kami.
Keseharian mereka yang dulu sederhana, menanam cabe, kini terhenti begitu saja. Tanpa kebun, tanpa hasil, mereka terjebak dalam lingkaran ketidakpastian.
Menjelang bulan Ramadan, pertanyaan besar menghantui mereka: apakah mereka akan mampu merayakan kebahagiaan dengan kondisi seperti ini? Ketika keluarga lain bersiap-siap untuk beribadah di rumah yang aman, mereka harus bertahan di tenda, merasakan dinginnya malam tanpa kehangatan yang biasa didapatkan dari rumah.
Makanan yang hanya cukup untuk bertahan, bukan untuk merayakan. Kebersamaan yang seharusnya diisi dengan sukacita, kini dipenuhi oleh keresahan dan kerinduan akan kehidupan yang lebih baik.
Namun meski dihimpit kesulitan, harapan mereka tak padam. Mereka tetap menunggu janji pemerintah untuk membangun rumah hunian sementara yang sudah dijanjikan. Namun waktu terus berjalan, dan Ramadan semakin dekat.
Bagi Salawati, Santi, dan seluruh pengungsi di Kalasegi, Ramadan kali ini akan menjadi ujian batin yang tak mudah. Tetapi mereka tetap bertahan, karena di balik tenda darurat ini, ada sebuah harapan yang terus menyala.







