MASAKINI.CO – Setiap dua hari menjelang Ramadan, Aceh memasuki babak waktu yang berbeda. Jalanan menuju pasar menjadi lebih padat, suara tawar-menawar terdengar lebih nyaring, dan aroma daging segar bercampur rempah mulai menguar dari dapur rumah warga.
Di titik inilah Meugang hadir, bukan sekadar sebagai tradisi makan daging, tetapi sebagai penanda waktu yang telah hidup lebih dari empat abad dalam peradaban Aceh.
Bagi masyarakat Aceh, Meugang bukanlah sekadar makan bersama. Ia adalah simbol peralihan dari kehidupan biasa menuju bulan suci Ramadan. Pada saat ini, setiap lapisan masyarakat diajak untuk lebih memperhatikan rasa cukup, kepedulian sosial, dan kesiapan batin. Hal ini tidak hanya terkait dengan ibadah, tetapi juga tentang berbagi dengan mereka yang membutuhkan.
Tradisi Meugang berakar kuat pada masa Kesultanan Aceh Darussalam. Dalam Qanun Al-Asyi Bab II Pasal 47, tercatat bahwa Sultan Aceh pada waktu itu memerintahkan Qadi Mu’azzam Khazanah untuk mengambil harta kerajaan berupa dirham, kain, dan hewan ternak, seperti sapi dan kerbau, yang kemudian dipotong dan dibagikan kepada fakir miskin dan kaum dhuafa.
“Meugang adalah warisan peradaban Aceh yang tidak hanya berbicara tentang konsumsi. Ia juga mengajarkan nilai-nilai Islam, adat, dan tanggung jawab sosial,” jelas budayawan Aceh, Tarmizi Abdul Hamid, Rabu (4/2/2026).
Zaman berubah. Kesultanan runtuh. Namun Meugang tidak ikut lenyap. Ia justru bertransformasi dan berpindah tangan dari istana ke dapur rakyat.
Kini, Meugang dijalankan oleh keluarga, gampong, dan komunitas secara gotong royong. Di banyak daerah, hari Meugang menjadi salah satu momen langka dalam setahun ketika keluarga benar-benar berkumpul.
Anak-anak pulang ke rumah orang tua, perantau menyempatkan diri kembali, dan dapur menjadi ruang silaturahmi paling hangat.
Daging dimasak bersama, dimakan bersama, dan dibagikan kepada tetangga yang membutuhkan. Bagi sebagian warga Aceh, Meugang bahkan menjadi satu-satunya kesempatan dalam setahun untuk menikmati daging. Karena itu, Meugang bukan soal mewah atau sederhana, melainkan soal rasa adil dan kebersamaan.
Di beberapa daerah Aceh, terutama di Pidie dan Aceh Utara, Meugang juga menjadi momen yang sangat sakral bagi pasangan pengantin baru. Pada hari Meugang, seorang suami baru memiliki kewajiban adat untuk membawa daging Meugang ke rumah mertuanya sebagai simbol tanggung jawab dan kemampuan untuk menafkahi keluarga.
“Bagi pengantin baru, membawa daging Meugang ke rumah mertua adalah penanda kesiapan mereka dalam menjalankan peran sebagai kepala keluarga. Ini adalah simbol nafkah lahir dan tanggung jawabnya dalam menjaga kehormatan keluarga besar,” jelas Tarmizi.
Tradisi ini menegaskan bahwa Meugang bukan hanya sebuah perayaan, tetapi juga alat pengukur sosial di tengah masyarakat Aceh. Mengabaikan atau tidak menjalankan tradisi ini dengan baik dapat menyinggung marwah keluarga.
Meski Meugang memiliki akar yang sama di setiap daerah, praktiknya berbeda-beda sesuai dengan adat dan kondisi sosial masing-masing. Ada daerah yang melaksanakan pemotongan hewan secara komunal, ada juga yang hanya dalam lingkup keluarga kecil.
Namun, inti dari Meugang tetap sama yakni berbagi, menjaga kebersamaan, dan menghormati martabat sosial. Daging bukanlah tujuan akhirnya, tetapi sarana untuk merayakan Ramadan dengan rasa cukup dan damai.
Meugang dalam Era Modern
Meugang tetap bertahan meski menghadapi tantangan zaman. Harga bahan pokok yang terus naik dan perubahan gaya hidup yang lebih modern tidak menghentikan tradisi ini. Banyak keluarga yang rela menyisihkan tabungan agar tradisi Meugang tetap terlaksana, sekecil apapun bentuknya.
“Meugang tetap hadir di tengah kenaikan harga dan perubahan gaya hidup. Ia adalah simbol kebersamaan yang mengikat masyarakat Aceh untuk saling menjaga,” tambah Tarmizi.
Sudah lebih dari 400 tahun berlalu sejak tradisi ini dimulai di masa Kesultanan Aceh, namun Meugang tetap hidup di pasar yang ramai, di dapur yang hangat, di piring-piring sederhana, dan dalam relasi sosial yang dijaga dengan baik.
Meugang bukan hanya sebuah tradisi yang hadir menjelang Ramadan. Ia adalah penanda bahwa Ramadan di Aceh tidak hanya soal ibadah, tetapi juga soal berbagi dan menjaga marwah sosial. Seperti yang telah berlangsung selama lebih dari empat abad, Meugang di Aceh adalah simbol bahwa tradisi, keadilan sosial, dan tanggung jawab tidak akan pernah usang oleh waktu.
Meugang tetap hidup, merayakan kedamaian, kebersamaan, dan menjaga harga diri dalam setiap sendok daging yang disajikan.







