MASAKINI.CO
No Result
View All Result
Jumat, Februari 20, 2026
  • Beranda
  • News
  • Daerah
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Beranda
  • News
  • Daerah
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
MASAKINI.CO
Home Headline

Kisah Sukses KSM Sepakat Bersama Atasi Konflik Satwa di Batu Napal

Masa Kini by Masa Kini
25 Januari 2020
in Headline, News
0

Tim KSM Batu Napal bersama WCF-IP dan jurnalis menyisir lokasi terjadi konflik satwa di kebun sawit milik warga.[Ahlul Fikar]

Share on FacebookShare on Twitter

MASAKINI.CO – Konflik manusia dengan satwa liar kerap terjadi di desa-desa perbatasan langsung dengan hutan, tidak terkecuali di Desa Batu Napal, Kota Subulussalam.

Di desa ini konflik dengan satwa liar terjadi sejak tahun 2014. Saat itu satwa gajah sering memakan tanaman milik warga seperti sawit, padi dan hasil kebun lainnya.

RelatedPosts

Tubuh Terasa Berenergi atau Lelah saat Puasa? Ini Penyebabnya

Tradisi Bukber Ramadan dan Makna Kebersamaan, Begini Penjelasan M. Quraish Shihab

Bolehkah Minum Obat Berbahan Dasar Najis? Ini Penjelasannya

Keuchik Desa Batu Napal, Fajar mengungkap akibat minimnya pemahaman mitigasi satwa liar, warga memilih berdiam saat tanaman dimakan gajah.

“Warga hanya bisa berdiam diri karena takut juga mau bunuh (gajah) tidak berani karena bisa masuk penjara,” ungkapnya.

Kejadian ini terus berlangsung hingga tahun 2016, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh serta Wildlife Conservation Society – Indonesian Program (WCS-IP) mendatangi Batu Napal menjalankan program Masyarakat Desa Mandiri (MDM).

Lewat program itu terbentuk Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Sepakat Bersama. Kelompok bertugas menangani persoalan konflik satwa yang ada di pemukiman warga.

Awal menjalankan program, pendamping MDM dari WCS-IP, Sukardi mengaku kewalahan memberi pemahaman mitigasi satwa pada warga.

“Butuh kesabaran lebih agar program ini diterima warga,” katanya.

Sekretaris KSM Batu Napal, Basri menunjuk ke arah hutan asal satwa liar.[Ahlul Fikar]

Namun setelah merasakan manfaat langsung terhadap keamanan perkebunan dari satwa liar, MDM diterima warga. Apalagi KSM Sepakat Bersama rutin patroli mengawasi kawanan gajah dan satwa liar lainnya, bahkan mengembalikannya ke hutan.

“Saat itu kelompok ini jumlah anggotanya 27 orang, jadi saat konflik kami berbagi kadang ada dua kelompok sebagian naik ke atas (hutan) sebagian di pemukiman warga,” kata Sekretaris KSM Sepakat Bersama Desa batu Napal, Basri.

Ia menceritakan saat patroli malam, mereka hanya berbekal perlengkapan seadanya. “Bahkan ada yang menggunakan lampu di korek api,” katanya.

Menurut Basri, upaya menghalau satwa masuk kebun dan desa biasanya dilakukan siang. Peralatan yang digunakan beragam seperti petasan, pipa paralon dan kaleng.

Jelang berakhirnya tahun 2016 konflik warga dan gajah di Batu Napal tamat. Tapi masalah belum selesai, berikutnya giliran Orangutan merusak tanaman.

“Sejak konflik gajah sudah berakhir akhir 2016 kemudian kita konflik dengan Orangutan,” lanjutnya.

Tim memantau lokasi sering terjadinya konflik satwa.[Ahlul Fikar]

Keuchik Fajar mengakui KSM Sepakat Bersama sangat membantu aktifitas warga berkebun.

“Dengan ada kelompok ini warga jadi aman dan nyaman dalam bercocok tanam,” ungkap Keuchik Fajar.

Kata Sukardi, KSM juga memberi wawasan lebih terhadap warga terkait perilaku satwa.

“Kalau dulu masyarakat menganggap gajah itu hama dan ancaman, sekarang udah tidak lagi,” katanya.[Ahlul Fikar]

Tags: Batu NapalBKSDA AcehKonflik Satwa LiarSubulussalamWCP-IP Aceh
Previous Post

AJI Banda Aceh Latih 25 Jurnalis Meliput Isu Anak

Next Post

Anggota DPR Asal Aceh, Illiza Kritik Kenaikkan Harga Elpiji 3 Kg

Related Posts

Kepala Desa di Subulussalam Didakwa Korupsi Dana Desa Rp298 Juta

by Redaksi
24 Januari 2026
0

MASAKINI.CO - Kepala Desa Bukit Alim, Kecamatan Longkib, Kota Subulussalam, Jamsari (62), mulai diadili dalam kasus dugaan korupsi pengelolaan Anggaran...

Populasi Orang Utan Sumatra Terancam, Habitat Alami Kian Menyempit

Populasi Orang Utan Sumatra Terancam, Habitat Alami Kian Menyempit

by Redaksi
24 Agustus 2025
0

MASAKINI.CO - Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh mengungkapkan bahwa populasi orang utan sumatra (Pongo abelii) di provinsi ini...

Populasi Gajah Sumatra di Aceh Tinggal 550-600 Ekor, 11 Mati dalam Satu Tahun

Populasi Gajah Sumatra di Aceh Tinggal 550-600 Ekor, 11 Mati dalam Satu Tahun

by Riska Zulfira
14 Agustus 2025
0

MASAKINI.CO - Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) mengungkapkan populasi gajah Sumatra di Provinsi Aceh kian mengkhawatirkan. Saat ini, jumlahnya...

Next Post

Anggota DPR Asal Aceh, Illiza Kritik Kenaikkan Harga Elpiji 3 Kg

Hendak Jual Orangutan, Warga Gayo Lues Ditangkap Gakkum KLHK

Discussion about this post

CERITA

Ismatul Rahmi pemeran Hasanah dalam dokudrama NOEH | Foto: dok pribadi

Air Mata Hasanah, Luka yang Tak Terlihat dalam Film Noeh

17 Februari 2026

Menembus Batas Negeri, Perjalanan Naufal Maulana Menggapai Beasiswa Pemerintah Rusia

14 Februari 2026

Meugang, Tradisi Turun-Temurun Aceh Menyambut Ramadan

4 Februari 2026

Ramadan di Tenda: Harapan Pengungsi Kalasegi untuk Rumah yang Terlambat Datang

3 Februari 2026

TERPOPULER

Plugin Install : Popular Post Widget need JNews - View Counter to be installed
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy

Copyright © 2025 - masakini.co

No Result
View All Result
  • Daerah
  • News
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video

Copyright © 2025 - masakini.co

 

Memuat Komentar...