Cerita Penyintas Covid; Pasrah dan Akhirnya Tertular juga

Petugas bersiap kebumikan pasien Covid-19.

Bagikan

Cerita Penyintas Covid; Pasrah dan Akhirnya Tertular juga

Petugas bersiap kebumikan pasien Covid-19.

Sabtu akhir Juni 2021 lalu, menjadi awal yang paling menakutkan bagi Iqbal Tawakkal. Pegawai Dinas Komunikasi, Informasi dan Persandian Aceh itu, akhirnya terpapar covid: virus yang hampir merenggut nyawanya. 

Iqbal berbagi cerita. Sehari usai terkonfirmasi positif ia harus langsung dirawat ke ruangan pinere, tempat rawatan khusus pasien covid-19. Semakin hari kondisi kesehatannya semakin memburuk, hingga kemudian harus dipindahkan ke ruangan Respiratory Intensive Care Unit (RICU), ruang perawatan intensif pasien dengan penyakit pernafasan. Benar saja, dari video yang ia bagikan, terlihat ia terus saja batuk tanpa henti.

“Setiap jam 3 sampai jam 5 pagi saya tidak bisa bernafas,” kata Iqbal. Di RICU, ia bernafas dengan alat bantu oksigen. Di hampir seluruh dadanya terpasang berbagai alat bantu. 

Iqbal Tawakkal, Penyintas covid-19 | Foto: Suparta untuk masakini.co

“Perasaan saya sangat ketakutan. Setiap tidur saya berhalusinasi. Saya tidak pernah berpikir dengan tenang,” ujar Iqbal. Tujuh hari lamanya ia dirawat di RICU Rumah Sakit Meuraxa Banda Aceh hingga kemudian dipindahkan kembali ke ruangan pinere.

“Tidak ada yang bisa membantu saya. Hanya Allah,” lanjut Iqbal. Saat itu, Iqbal hanya sendiri. Istrinya sedang hamil tua. Sedang anak-anaknya masih kecil. “Saya pasrah. Apa ini jam terakhir saya?.”

Iqbal sadar sebelum terpapar covid, dirinya abai dengan protokol kesehatan. Hal yang kemudian disesalkan dirinya. Karena itu ia mengajak seluruh masyarakat untuk mengikuti program pemerintah. Mengikuti protokol kesehatan (prokes) dan divaksin. “Tidak mengikuti prokes lah yang membuat covid hampir merenggut nyawa saya.”

Jika Iqbal abai dengan prokes hingga kemudian terpapar covid, lain pula dengan dr. Herry Priyanto. Kepala Instalasi Pinere Rumah Sakit Umum dr. Zainoel Abidin (RSUZA) Banda Aceh itu, adalah dokter spesialis paru. Orang yang selama dua tahun ini terus memeriksa pasien covid di rumah sakit terbesar di Aceh. Berada di sarang covid, membuat dr. Herry harus serba waspada. Ia adalah orang yang sangat peduli dengan prokes. Namun takdir tak dapat dihindari. Ia dan keluarga akhirnya juga terpapar. Ia tumbang dan harus masuk pinere, menghabiskan 14 hari dalam perawatan. 

“Tidak makan sampai 14 hari. Semua harus tergantung dari infus,” kata dr. Herry. Ia terdiam, memikirkan anak-anaknya yang masih kecil. Kata dia, dokter telah berusaha, merawat dia dan istri dengan sebaik-baiknya. “Tapi…,” ia menangis sambil mengisahkan tentang istrinya yang kemudian meninggal. Ya, karena covid-19.

Kepala Instalasi Pinere RSUZA, dr. Herry Priyanto | Foto: Suparta untuk masakini.co

“Pengalaman ini saya harap jangan terulang kepada keluarga yang lain. Mari sama-sama melindungi keluarga kita. Mari menerapkan prokes dan vaksin,” kata dr. Herry.

Cerita pilu juga disampaikan Nasadi, salah satu tim instalasi pelayanan islami (pemandian jenazah) di RSUZA. Saat puncak covid terjadi di Aceh, per harinya ada 10 hingga 13 pasien terkonfirmasi yang meninggal dunia. “Pilu, kesedihan dan ketakutan serta kelelahan yang luar biasa,” kata Nasadi.

Nasadi berkisah, jika mereka harus bekerja tanpa istirahat. Bahkan 15 menit tertidur, telepon berdering: ada lagi pasien meninggal. Saat sedang mengubur jenazah, masih ada yang harus segera dimandikan. Tak salah jika dia berkesimpulan jika vaksinasi adalah ikhtiar yang paling cocok untuk melawan covid-19. 

Ada juga Mawardi. Anggota tim ambulan jenazah covid. Dia berbagi cerita saat harus mengantar pasien covid ke Kabupaten Simeulue. Sepanjang 13 jam perjalanan, baik di darat maupun di atas kapal di tengah laut, dirinya tidak boleh keluar dari ambulan. “Ketika penumpang lain (di dalam kapal laut) asik minum kopi, saya di dalam mobil jenazah,” kata dia. Bahkan dia harus buang air kecil dalam botol kemasan. 

Sementara itu ada juga pegawai laboratorium mikrobiologi yang bernama Novi. Ia harus melewati stigma negatif, di mana dirinya dan keluarga harus dikucilkan dari lingkungan. “Mungkin karena saat itu keterbatasan ilmu yang ada pada kami dan masyarakat,” kata dia. Padahal ia bekerja secara ikhlas. Saat orang menghindar dari covid, dirinya justru langsung berhadapan. 

Novi juga seorang penyintas. Beruntung ia bergejala ringan, berbeda dengan suaminya harus dirawat di RICU RSUZA. “Sebab sudah vaksin saya hanya bergejala ringan. Tapi suami saya belum vaksin sakit sangat berat. Saturasi bahkan sampai 40,” kata dia. Atas pengalaman itu, Novi percaya, bahwa vaksinasi adalah salah satu cara menangkal penularan covid. Ia lantas mengajak seluruh masyarakat untuk mengikuti vaksinasi covid-19. 

Sampai Senin 29 November 2021 hari ini, sebanyak 3.576 masyarakat Aceh yang terkonfirmasi Covid-19. Kasus kematian pertama di Aceh tercatat terjadi pada tanggal 23 Maret 2020. Di mana salah satu pasien asal Kota Lhokseumawe meninggal dunia di RICU RSUZA. Hingga hari ini sebanyak 536 masyarakat Aceh yang tercatat meninggal akibat covid. 

Sekda Aceh, Taqwallah, mengatakan pengalaman para penyintas tersebut harus dilihat sebagai jawaban bahwa vaksinasi adalah bagian dari ikhtiar melawan covid-19. “Jangan berhenti bekerja keras. Kita tidak pernah memaksa orang (untuk mengikuti vaksinasi). Tapi terus ingatkan berulang-ulang walaupun dianggap gila,” kata dia.

Pengalaman penyintas di mana mereka mengalami sesak nafas hingga berhari-hari, bahkan ada yang berujung kematian, diharapkan bisa menjadi contoh bagi masyarakat Aceh. Para penyintas adalah saksi hidup bahwa covid adalah penyakit yang sangat ganas. []

TAG

Bagikan

Berita Terkait

Tinggalkan Komentar

Berita Terbaru

Berita terpopuler

Add New Playlist