MASAKINI.CO
No Result
View All Result
Kamis, Juli 2, 2026
  • Beranda
  • News
  • Daerah
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Beranda
  • News
  • Daerah
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
MASAKINI.CO
Home Cerita

Barang Impor di Lhokseumawe Itu Bernama ‘Kenakalan Remaja’

Alfath Asmunda by Alfath Asmunda
2 Mei 2024
in Cerita
0

Ilustrasi kekerasan di sekolah. I Freepik/rawpixel.com

Share on FacebookShare on Twitter

MASAKINI.CO – Kenakalan remaja di Kota Lhokseumawe makin brutal. Dari aksi tawuran, penculikan, penganiayaan, dan pembegalan, bukan hal asing lagi bagi sebagian remaja di daerah berjuluk petro dolar itu.

Benda-benda seperti celurit, samurai, stik bisbol, dan senjata tajam lainnya jadi tentengan mainan baru untuk melakukan kejahatan di tangan sebagian remaja di sana.

RelatedPosts

Menunggu Rezeki di Bawah Tenda Musim Durian

Dari Lahan Penggembalaan ke Destinasi Favorit, Savana Indrapuri Sedot Ribuan Pengunjung

Dari Dapur Rumahan ke Tanah Suci, Keumamah Aceh Diburu Jemaah Haji

Kasus terbaru, kelompok remaja bernama Geng Casper menculik serta melakukan penganiayaan terhadap seorang remaja warga Gampong Uteun Bayi, Kota Lhokseumawe.

Remaja itu awalnya diculik saat berada di rumah temannya. Lalu dibawa ke sebuah rumah di kawasan Gedong, Kecamatan Samudra. Di sana dia dianiaya sekelompok remaja. Handphone miliknya juga dirampas.

Lima pelaku kemudian ditangkap polisi. Usia mereka rata-rata belasan tahun. Polisi mempersangkakan kelimanya pasal 328 Jo Pasal 170 Jo Pasal 365 Jo Pasal 55 KUHP dengan ancaman hukuman penjara hingga 12 tahun.

Fenomena kenakalan remaja yang menjurus kepada kriminalitas ini belakangan makin meresahkan masyarakat di Kota Lhokseumawe dan sekitarnya. Sosiolog Universitas Malikussaleh, Profesor Nirzalin mengungkap fenomena tersebut ekses dari faktor kemiskinan.

Dia menandai fenomena itu terjadi masif sejak tiga tahun belakangan. Menurutnya, kenakalan remaja di Lhokseumawe ini terjadi tak secara genuine atau alamiah, melainkan impor dari sub-kultur baru yang masuk melalui urbanisasi.

Pasca konflik Aceh, Kota Lhokseumawe tumbuh menjadi satu kota yang pertumbuhan ekonominya sangat signifikan, terutama yang berbasis lembaga pendidikan.

Itulah salah satu faktor pendorong migrasi besar-besaran warga dari daerah lain di Indonesia, terutama wilayah Sumatra, untuk berdomisili di Lhokseumawe. Namun, banyak di antara mereka yang datang itu berekonomi dan berpendidikan rendah.

Celakanya, kultur kenakalan remaja yang sebelumnya telah tumbuh di daerah asal para pendatang ini ikut dibawa. “Jadi kultur ini terimpor ke Lhokseumawe,” kata Nirzalin.

Faktor lain fenomena ini cepat berkembang biak di Lhokseumawe sebab adanya pancaroba mentalitas remaja. Masa remaja, kata Nirzalin, merupakan masa yang rentan dimana pada usia itu seseorang kerap mencoba sesuatu hal yang baru dan ingin menunjukkan eksistensi diri bahkan mencapai di luar batas kendalinya.

“Sehingga muncul mentalitas seorang remaja untuk bertindak dengan cara-cara kekerasan biar dianggap keren, ditakuti, disegani oleh yang seumuran dengannya,” ujarnya.

Menurut Nirzalin jangka pendek upaya memutus mata rantai kenakalan remaja ini pemerintah Kota Lhokseumawe perlu intensif bekerja sama dengan perangkat gampong untuk mengedukasi, memantau, khususnya remaja pendatang yang dibawa orangtuanya tinggal di kawasan-kawasan kumuh Lhokseumawe.

Jadi ketika mereka dilibatkan dalam ruang edukasi gampong itu, maka transformasi nilai-nilai keislaman dan kearifan lokal di Aceh akan sendirinya mengubah perilaku buruk tersebut.

“Selama ini mereka tidak terkoneksi dengan kegiatan-kegiatan lembaga edukasi seperti di balee seumeubeut,” katanya.

Sementara jangka panjang, tutur Nirzalin, harus ada perhatian serius pemerintah untuk peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat miskin, termasuk kepada para pendatang yang tidak memiliki pekerjaan tetap.

Fenomena ini harus segera ditangani. Jangan sampai akumulasi keresahan masyarakat berujung pada ‘pengadilan jalanan’ terhadap para generasi penerus bangsa itu. Aparat penegak hukum tak cukup hanya sekadar patroli dengan lebel ‘guantibmas.’ Perlu ada formula khusus yang lebih presisi. Mampu?

Tags: kemiskinanKenakalan RemajaLhokseumaweSosiolog Unimal
Previous Post

BRI Raih Dua Award dalam Bank Service Excellence Monitor MRI 2024

Next Post

Paslon Independen Banda Aceh Harus Miliki Dukungan 7.787 KTP

Related Posts

Dua Hektare Lahan di Lhokseumawe Terbakar

by Redaksi
26 Mei 2026
0

MASAKINI.CO – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menghanguskan sekitar dua hektare lahan di Gampong Blang Pulo, Kecamatan Muara Satu, Kota...

BPS Sebut Jumlah Penduduk Miskin di Aceh Turun

BPS Sebut Jumlah Penduduk Miskin di Aceh Turun

by Aininadhirah
7 Februari 2026
0

MASAKINI.CO – Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Aceh, Agus Andria, menyampaikan persentase penduduk miskin di Aceh mengalami penurunan pada...

370 Warga Terdampak Bencana Dievakuasi ke Banda Aceh dengan Kapal Cepat

by Riska Zulfira
3 Desember 2025
0

MASAKINI.CO - Pemerintah Aceh melalui Dinas Perhubungan memulangkan ratusan warga yang terdampak banjir dan longsor dari Langsa dan Lhokseumawe menuju...

Next Post

Paslon Independen Banda Aceh Harus Miliki Dukungan 7.787 KTP

Cara Makan Buah Yang Baik Ibu Hamil

Discussion about this post

CERITA

Menunggu Rezeki di Bawah Tenda Musim Durian

28 Juni 2026

Dari Lahan Penggembalaan ke Destinasi Favorit, Savana Indrapuri Sedot Ribuan Pengunjung

24 Mei 2026

Dari Dapur Rumahan ke Tanah Suci, Keumamah Aceh Diburu Jemaah Haji

19 Mei 2026

Menabung dari Lumpur Sawah, Halimah Berangkat Haji di Usia 85 Tahun

12 Mei 2026

TERPOPULER

Plugin Install : Popular Post Widget need JNews - View Counter to be installed
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy

Copyright © 2025 - masakini.co

No Result
View All Result
  • Daerah
  • News
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video

Copyright © 2025 - masakini.co