MASAKINI.CO – Enam belas hari setelah bencana melanda sejumlah wilayah di Aceh, warga masih berjibaku memenuhi kebutuhan dasar akibat belum stabilnya pasokan listrik dan jaringan komunikasi. Dari pekerja kantoran hingga ibu rumah tangga, semuanya bergantung pada genset yang tersedia di warung kopi maupun fasilitas gampong.
Di kawasan perkotaan, warung kopi menjadi “kantor darurat” bagi banyak pekerja yang membutuhkan internet. Seorang warga kota Banda Aceh, Nurdiani mengaku harus berpindah-pindah tempat demi mendapatkan jaringan yang bisa dipakai bekerja.
“Hanya ini harapan kita untuk kerja. Sehari bisa ke dua sampai tiga warung kopi hanya untuk cari internet,” ujarnya, Kamis (11/12/2025).
Ia mengatakan pengeluaran ikut melonjak karena harus membeli makanan atau minuman setiap menumpang wifi ditambah harga makanan yang ikut naik. “Jadi pengeluaran kami jga ikut bertambah, harga makanan minuman pada naik di Warkop. Apalagi sejak kemarin jaringan mulai bermasalah lagi seperti awal bencana,” tambahnya.
Sementara itu, di gampong-gampong seperti Seulangai, Kecamatan Indrapuri, warga menghadapi kondisi yang tak jauh berbeda. Listrik yang belum stabil dan sinyal komunikasi yang terus hilang memaksa masyarakat mencari sumber daya yang bisa diandalkan. Genset meunasah menjadi sandaran utama.
Setiap sore hingga malam, meunasah berubah menjadi tempat berkumpul warga untuk memenuhi kebutuhan dapur. Ibu-ibu datang membawa rice cooker, blender, hingga lampu darurat. Mereka bergiliran memakai listrik dari genset yang disediakan pemerintah gampong.

“Ini sudah hari ke-16 tanpa listrik stabil. Jaringan juga sering mati. Jadi warga terpaksa datang ke meunasah untuk masak dan giling bumbu,” kata warga Seulangai, Ade Juana.
Menurut Ade, suasana di meunasah hampir seperti dapur umum. Setelah Magrib, warga berdatangan sambil membawa peralatan masing-masing. Ada yang memasak nasi, ada yang menggiling bumbu, ada pula yang sekadar mengisi daya peralatan rumah tangga kecil. “Desa memfasilitasi genset supaya kebutuhan dasar tetap bisa terpenuhi. Kalau tidak ada ini, lebih sulit lagi,” ujarnya.
Selain memanfaatkan listrik di meunasah, sebagian warga tetap memburu sumber daya di warung kopi yang menggunakan genset. Tempat-tempat tersebut menjadi lokasi alternatif untuk mengisi ponsel, lampu emergency, hingga peralatan elektronik lainnya.
Kondisi ini menunjukkan betapa beratnya aktivitas warga di tengah keterbatasan energi selama lebih dari dua pekan. Meski demikian, solidaritas antar warga tetap terjaga dengan bergantian menggunakan listrik, saling membantu, dan berbagi waktu agar semua kebutuhan dasar tetap dapat terpenuhi.
“Kami sangat berharap listrik bisa kembali normal. Hidup 16 hari begini benar-benar menguji,” tutup Ade.










Discussion about this post