MASAKINI.CO – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Aceh Tengah kembali memperpanjang masa status tanggap darurat bencana selama tujuh hari, terhitung sejak 30 Januari hingga 5 Februari 2026.
Perpanjangan dilakukan karena delapan desa di Kecamatan Linge dan Ketol masih terisolasi, sehingga distribusi bantuan logistik masih harus dilakukan melalui jalur udara menggunakan helikopter.
Bupati Aceh Tengah, Haili Yoga, mengatakan saat ini dari total 295 desa yang tersebar di 14 kecamatan, masih terdapat delapan desa yang belum dapat diakses akibat kerusakan infrastruktur pascabencana.
“Hari ini yang masih terisolir ada delapan desa. Lima desa berada di Kecamatan Linge dan tiga desa di Kecamatan Ketol. Karena itu, kita perpanjang tanggap darurat tujuh hari lagi,” ujar Haili Yoga, Jumat (30/1/2026).
Ia menjelaskan, terisolasinya desa-desa tersebut disebabkan oleh longsor badan jalan serta jembatan yang rusak dan putus, sehingga belum dapat dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat.
“Penyaluran bantuan masih dilakukan lewat udara menggunakan helikopter, karena akses darat sama sekali belum bisa dilewati,” katanya.
Haili Yoga menambahkan, kendala terberat saat ini berada di Kecamatan Ketol, khususnya pada jembatan yang melintasi sungai dengan bentangan mencapai sekitar 300 meter.
“Ini tidak mampu kami kerjakan di tingkat kabupaten. Harus ada intervensi dari pemerintah pusat. Saat ini proses penanganan sudah dilakukan oleh TNI dan Polri,” jelasnya.
Sementara itu, di wilayah Kecamatan Linge masih terdapat jembatan putus yang hanya bisa dilalui secara terbatas menggunakan kendaraan roda dua. Kondisi tersebut membuat distribusi kebutuhan masyarakat menjadi sangat terbatas.
“Maka delapan desa ini kondisinya cukup berat dan memang membutuhkan perhatian serius dari pemerintah pusat,” ujarnya.
Terkait kondisi warga, Haili Yoga menyebut sebagian besar masyarakat di Kecamatan Ketol sudah kembali ke rumah masing-masing dan hanya sebagian kecil yang masih mengungsi.
Namun berbeda dengan Kecamatan Linge, di mana sebagian warga masih bertahan di lokasi pengungsian karena permukiman mereka mengalami kerusakan parah, bahkan sebagian rumah sudah tidak ada lagi.
“Kita juga sedang menghadapi bulan Ramadan. Huntara saat ini sedang dalam proses, mudah-mudahan bisa segera terealisasi,” kata Haili Yoga.










Discussion about this post