MASAKINI.CO
No Result
View All Result
Rabu, Agustus 19, 2026
  • Beranda
  • News
  • Daerah
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Beranda
  • News
  • Daerah
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
MASAKINI.CO
Home Cerita

Harapan Kuliah yang Terkubur

Riska Zulfira by Riska Zulfira
30 Januari 2026
in Cerita
0

Asmaul Husna dan Bella siswi SMA Negeri 1 Baktiya melihat buku peninggalan banjir | foto: Riska Zulfira/masakini.co

Share on FacebookShare on Twitter

MASAKINI.CO – Langkah Asmaul Husna pelan saat ia berjalan pulang dari sekolah sore itu. Tak ada seragam putih abu-abu yang biasa melekat di tubuhnya. Yang ia kenakan hanya baju hitam biasa, pakaian seadanya yang kini menjadi teman hariannya sejak banjir besar melanda kampungnya.

Gadis kelas XII SMA Negeri 1 Baktiya itu baru saja keluar dari ruang kelas darurat, ruang sempit yang kini menjadi pengganti sekolahnya.

RelatedPosts

Dari Banda Aceh ke Pelosok Papua, Reza Mencari Potensi yang Tersembunyi di Teluk Wondama

Sepuluh Tahun Menjaga Tradisi Merah Putih, Kisah Safura Merawat Rezeki dari Lapak Bendera

Liberika Tangse, Kopi Langka Beraroma Nangka

Asmaul merupakan gadis dari Desa Alue Bilie Geulumpang, Kecamatan Baktiya, Aceh Utara. Sejak bencana datang, hidupnya berubah drastis. Banjir setinggi 2,5 meter merendam rumah, sekolah, dan seluruh perlengkapan belajarnya.

“Seragam saya hilang semua. Alat tulis juga tidak ada lagi,” ujarnya lirih, Jumat (30/1/2026).

Padahal, tahun ini seharusnya menjadi masa paling penting dalam hidupnya.

Asmaul sedang bersiap menghadapi Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri Seleksi (SNMPTN), jalur yang selama ini ia harapkan menjadi pintu masuk ke perguruan tinggi.

Namun bencana menghapus banyak hal, termasuk rasa aman untuk bermimpi.

SMA Negeri 1 Baktiya kini tak lagi seperti dulu.

Beberapa ruang kelas rusak, sebagian lainnya tak bisa digunakan. Proses belajar mengajar terpaksa dilakukan di kelas darurat, dengan kondisi yang jauh dari ideal.

Satu ruangan diisi hingga 35 siswa, bahkan beberapa kelas harus digabung. Bangku terbatas, udara pengap, dan suara dari kelas lain sering bercampur.

“Belajarnya jadi berat. Tapi kami tetap datang, karena mau bagaimana lagi,” kata Asmaul.

Sekolah sempat dibersihkan pada awal Desember. Lumpur disingkirkan, sisa-sisa banjir dibersihkan perlahan. Namun jejak bencana masih terasa jelas di dinding yang mengelupas, lantai yang retak, dan ruang kelas yang belum sepenuhnya pulih.

Di balik keterbatasan itu, Asmaul sebenarnya bukan siswi biasa.

Ia sering meraih juara satu, aktif dalam kegiatan sekolah, dan dipercaya menjabat sebagai Wakil Ketua OSIS.

Di tengah keterbatasannya, Husna memiliki harapan besar untuk melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi. Dulu, ia ingin melanjutkan pendidikan di luar Aceh. Namun kini, mimpi itu terasa terlalu jauh.

“Sekarang yang penting saya bisa kuliah dulu. Kalau bisa di Aceh pun tidak apa-apa,” ucapnya.

Kondisi ekonomi keluarga memperberat langkahnya. Orang tuanya bekerja sebagai buruh tani. Sawah yang menjadi tumpuan hidup keluarga kini tak lagi bisa digarap setelah diterjang banjir.

Bantuan Program Indonesia Pintar (PIP) dari sekolah yang seharusnya menunjang pendidikan, terpaksa digunakan untuk membeli sembako demi bertahan hidup.

“Kalau untuk sekolah, sudah tidak ada lagi,” katanya.

Ia kini hanya bisa berharap pada beasiswa, agar mimpinya tidak benar-benar padam.

Siswa SMA Negeri 1 Baktiya, Aceh Utara sedang belajar di kelas darurat pascabencana | Foto: Riska Zulfira/masakini.co

Tak hanya Asmaul.

Harapan yang sama juga disimpan Bella, siswi kelas XI SMA yang turut terdampak bencana.

Sejak awal, Bella selalu berusaha menjaga peringkat dan mengumpulkan nilai tinggi. Ia percaya, prestasi bisa menjadi jalannya menuju bangku kuliah kelak.

Namun bencana datang tanpa aba-aba. “Rasanya seperti mimpi itu jadi jauh,” tuturnya.

Sekolah rusak, belajar tak menentu, dan kondisi ekonomi keluarga yang semakin sulit membuat masa depan terasa kabur.

Di tengah situasi itu, harapan datang dari pemerintah.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menargetkan rehabilitasi sekolah-sekolah terdampak bencana di Aceh dapat rampung agar kegiatan belajar mengajar kembali normal pada tahun ajaran 2026/2027.

Hal itu disampaikannya saat kunjungan kerja ke Aceh Utara, Rabu (28/1/2026), sekaligus meninjau langsung kondisi satuan pendidikan terdampak.

Sejumlah sekolah dikunjungi, di antaranya SMA Negeri 2 Kesuma Bangsa, SMK Negeri 1 Baktiya Barat, SMP Muhammadiyah 7 Panton Labu, serta SD Negeri 9 Tanah Jambo Aye.

Abdul Mu’ti memastikan pemulihan pendidikan dilakukan secara bertahap agar hak belajar siswa tidak terhenti.

“Sekolah-sekolah yang masih belajar di tenda nantinya akan dipindahkan ke kelas darurat. Target kami, pada tahun ajaran baru 2026–2027, sekolah dengan kerusakan ringan dan sedang sudah dapat berfungsi kembali secara normal,” ujarnya.

Bagi Asmaul, perbaikan sekolah bukan sekadar soal bangunan.

Lebih dari itu, ia berharap pemulihan pendidikan bisa menjaga mimpinya tetap hidup.

Di balik baju hitam sederhana yang ia kenakan hari itu, tersimpan harapan besar seorang anak desa yang tak ingin kalah oleh bencana.

Karena bagi Asmaul, pendidikan bukan sekadar masa depan melainkan satu-satunya jalan keluar dari keterbatasan yang kini mengepung hidupnya.

Tags: Aceh UtaraHarapan KuliahKelas DaruratPendidikan PascabencanaSiswa Terdampak Bencana
Previous Post

Delapan Desa Masih Terisolasi, Aceh Tengah Perpanjang Tanggap Darurat Ketujuh Kali 

Next Post

Pemko Banda Aceh Raih Nilai Tertinggi Keterbukaan Informasi Publik se-Aceh

Related Posts

253 Sekolah di Flores Terdampak Gempa M7,7, Kemendikdasmen Siapkan Kelas Darurat

by Riska Zulfira
17 Agustus 2026
0

MASAKINI.CO - Gempa bumi magnitudo 7,7 yang mengguncang Laut Flores pada 15 Agustus 2026 berdampak pada ratusan fasilitas pendidikan di...

RSUD Cut Meutia Aceh Utara Segera Dialihkan ke Lhokseumawe

by Redaksi
29 Juli 2026
0

MASAKINI.CO – Pemerintah Aceh mempercepat proses pengalihan kepemilikan RSUD Cut Meutia dari Pemerintah Kabupaten Aceh Utara kepada Pemerintah Kota Lhokseumawe. Peralihan...

Angin Kencang Rusak 58 Huntara di Aceh Utara, Belasan Unit Hancur

by Riska Zulfira
3 Juni 2026
0

MASAKINI.CO – Puluhan hunian sementara (huntara) di Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara, rusak setelah diterjang angin kencang yang terjadi secara...

Next Post

Pemko Banda Aceh Raih Nilai Tertinggi Keterbukaan Informasi Publik se-Aceh

Arsenal Siap Tawarkan 2 Miliar untuk Rekrut Arda Guler

Discussion about this post

CERITA

Dari Banda Aceh ke Pelosok Papua, Reza Mencari Potensi yang Tersembunyi di Teluk Wondama

12 Agustus 2026

Sepuluh Tahun Menjaga Tradisi Merah Putih, Kisah Safura Merawat Rezeki dari Lapak Bendera

4 Agustus 2026

Liberika Tangse, Kopi Langka Beraroma Nangka

20 Juli 2026

Dari Lhoknga, Anyaman Bambu Menganyam Jalan ke Pasar Dunia

19 Juli 2026

TERPOPULER

Plugin Install : Popular Post Widget need JNews - View Counter to be installed
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy

Copyright © 2025 - masakini.co

No Result
View All Result
  • Daerah
  • News
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video

Copyright © 2025 - masakini.co

 

Memuat Komentar...