MASAKINI.CO – Pagi Irhamna kini berjalan pelan. Tidak ada lagi bunyi klakson yang saling bersahutan atau jam weker yang memaksa bangun lebih awal demi mengejar transportasi.
Dari rumahnya di Pidie, Provinsi Aceh, gadis 25 tahun itu memulai hari dengan menyeduh kopi, menggerakkan tubuh lewat olahraga ringan, lalu membuka laptop tepat saat jam kerja dimulai. Sunyi yang dulu terasa biasa, kini justru menjadi kemewahan.
Sejak 2022, Irhamna memilih bekerja dengan sistem work from home (WFH). Ia meniti karier di bidang marketing industri IT dan teknologi bersama PT Fokus Target Solusi, sebuah perusahaan yang berkantor di Jakarta Pusat. Jarak ribuan kilometer tak lagi menjadi penghalang. Internet dan disiplin kerja menjadi jembatan utama yang menghubungkan ruang kerjanya di Aceh dengan ritme kerja ibu kota.
Keputusan bekerja dari rumah mengubah banyak hal dalam hidupnya, terutama soal pengeluaran. Tanpa harus berangkat ke kantor setiap hari, biaya transportasi otomatis lenyap. Makan siang di luar pun tak lagi menjadi rutinitas wajib. Dari situ, Irhamna mulai merasakan dampak yang nyata.
“Pengeluaran jauh lebih terkontrol. Gaji nggak habis buat ongkos dan jajan harian,” katanya, Minggu (1/2/2026).
Hal sederhana, tapi signifikan. Uang yang dulu menguap di jalan kini bisa disisihkan untuk tabungan. Bekerja dari rumah memberinya ruang untuk lebih bijak mengelola keuangan, sesuatu yang dulunya sulit dilakukan saat ritme hidup terlalu cepat.
Ada sisi lain yang jarang disorot dari WFH: soal penampilan. Jika bekerja di kantor menuntut busana yang rapi, pantas, dan sering kali variatif agar tidak terlihat monoton, bekerja dari rumah justru menghadirkan kesederhanaan.
“Cukup pakai daster saja,” ujarnya sambil tertawa. “Yang penting kerjaan beres dan target tercapai.”
Namun WFH bagi Irhamna bukan semata soal hemat biaya. Yang paling ia rasakan adalah ketenangan. Tidak ada lagi stres menghadapi macet atau sesaknya transportasi umum. Tekanan sebelum hari kerja dimulai perlahan menghilang. Pagi hari menjadi waktu yang lebih manusiawi, diisi dengan olahraga, menyiapkan diri, atau sekadar menarik napas sebelum bekerja.
Dari sisi produktivitas, Irhamna justru merasa lebih fokus. Suasana rumah yang tenang membuatnya bisa menyelesaikan pekerjaan dengan lebih efektif. Ia menata satu sudut rumah sebagai ruang kerja, menciptakan batas yang jelas antara urusan profesional dan kehidupan pribadi. Laptop boleh ditutup, pekerjaan pun berhenti.
Di balik layar laptop itu pula, Irhamna menemukan kenyamanan lain yang tak kasatmata: terbebas dari dinamika kantor yang melelahkan mental.
“WFH membantu saya menghindari lingkungan kerja yang toksik, seperti gosip atau drama kantor,” tuturnya.
Bekerja dari rumah memberinya ruang aman untuk fokus pada pekerjaan tanpa harus terlibat dalam gesekan sosial yang kerap menguras energi. Hubungan profesional tetap terjaga, komunikasi tetap berjalan, namun dengan jarak yang sehat.
Fleksibilitas menjadi keunggulan lain yang tak tergantikan. Selama target dan tenggat waktu terpenuhi, Irhamna bisa bekerja dari mana saja. Rumah, kafe, bahkan saat berada di luar kota. Pekerjaan tidak lagi terikat pada satu gedung atau meja tertentu, melainkan pada tanggung jawab dan hasil kerja.
Perubahan cara bekerja ini membuat Irhamna memaknai ulang arti karier. Bekerja bukan lagi soal hadir secara fisik di kantor, tetapi tentang komitmen, kedisiplinan, dan kepercayaan.
Dari sudut rumahnya di Aceh, ia membuktikan bahwa jarak bukan hambatan untuk berkembang.







