MASAKINI.CO – Mimpi besar sering kali lahir dari tempat sederhana. Hal itu tergambar dalam perjalanan Naufal Maulana, lulusan Universitas Islam Negeri Ar-Raniry yang berhasil menembus persaingan internasional dan meraih beasiswa Pemerintah Rusia melalui program resmi yang dikelola Russian House.
Pemuda kelahiran 2003 asal Aceh Utara ini memulai langkahnya dengan satu keyakinan sederhana, bahwa pendidikan dapat menjadi jalan mengubah masa depan.
Sejak duduk di bangku perkuliahan, Naufal telah menaruh perhatian besar pada perkembangan teknologi pendidikan. Ketertarikannya pada pengembangan teknologi pembelajaran berbasis Virtual Reality membuatnya mulai mencari peluang studi lanjutan yang sesuai dengan minat akademiknya.
Keinginan untuk melanjutkan pendidikan ke luar negeri bukan sekadar ambisi pribadi, melainkan bentuk keseriusannya untuk memperdalam ilmu yang ia yakini memiliki dampak besar bagi dunia pendidikan.
Dengan tekad yang kuat, Naufal mulai mempersiapkan diri mengikuti seleksi beasiswa Pemerintah Rusia. Ia menyusun berbagai dokumen penting dengan penuh ketelitian, mulai dari ijazah, transkrip nilai, motivation letter, hingga rencana studi yang disesuaikan dengan bidang penelitian yang ingin ia tekuni. Proses tersebut ia jalani dengan penuh kesungguhan, sembari aktif mencari informasi dan memastikan setiap tahapan pendaftaran dijalani dengan baik.
Usaha panjang itu akhirnya membuahkan hasil ketika ia dinyatakan lulus setelah melewati seleksi administrasi dan wawancara. Kabar kelulusan tersebut menjadi momen emosional bagi Naufal. Ia mengaku perasaan haru dan bangga bercampur menjadi satu, mengingat perjalanan panjang yang telah ia lalui.
Ia teringat perjuangan orang tua, doa keluarga, serta proses yang menuntut kesabaran dan kerja keras. Baginya, kesempatan menempuh pendidikan di luar negeri bukan hanya tentang meraih prestasi akademik, tetapi juga membawa nama keluarga dan daerah ke tingkat yang lebih luas.
Perjalanan menuju beasiswa internasional tidak ia tempuh tanpa persiapan. Sejak masa kuliah, Naufal berusaha memperkuat kompetensi akademik dengan memperbanyak membaca jurnal ilmiah, memperdalam rencana riset, serta menyesuaikan proposal penelitian dengan bidang studi yang ia tuju.
Ia memahami bahwa kesiapan akademik menjadi salah satu kunci utama dalam proses seleksi. Meski beasiswa tersebut tidak selalu mensyaratkan kemampuan bahasa Rusia pada tahap awal pendaftaran, ia tetap mempersiapkan diri untuk mengikuti program persiapan bahasa sebelum memasuki perkuliahan utama.
Di balik keberhasilannya, Naufal tidak pernah melupakan peran besar keluarga dan orang-orang terdekatnya. Sebagai anak pertama dari empat bersaudara yang tumbuh dalam keluarga sederhana, ia terbiasa dididik untuk menjadikan pendidikan sebagai prioritas utama.
“Ketika dinyatakan lolos, rasanya lega. Saya teringat orang tua dan keluarga yang selalu mendukung. Ini bukan hasil kerja saya sendiri,” katanya.
Kini, langkah Naufal menuju Rusia membawa harapan baru bagi generasi muda Aceh. Ia percaya kesempatan pendidikan internasional terbuka bagi siapa saja yang memiliki tekad dan kesungguhan dalam mempersiapkan diri.
Menurutnya, rasa minder sering kali menjadi penghalang terbesar bagi pelajar untuk mencoba meraih peluang yang lebih luas. Ia meyakini bahwa kegagalan bukan akhir dari perjalanan, melainkan bagian dari proses pembelajaran menuju keberhasilan.







