MASAKINI.CO – Tradisi buka puasa bersama atau yang populer disebut bukber telah menjadi bagian dari budaya masyarakat Indonesia setiap bulan Ramadan. Kegiatan ini tidak hanya dilakukan di lingkungan keluarga, tetapi juga di sekolah, kantor, komunitas, hingga organisasi masyarakat sebagai ajang mempererat silaturahmi.
Secara historis, tradisi berbuka puasa bersama berakar dari anjuran dalam Islam untuk memperkuat ukhuwah serta berbagi makanan saat waktu berbuka. Pada masa awal perkembangan Islam, Rasulullah SAW menganjurkan umatnya untuk berbuka secara sederhana namun tetap mengutamakan kebersamaan.
Dalam perkembangannya, kebiasaan makan bersama setelah berpuasa semakin meluas, terutama di negara-negara Muslim, termasuk Indonesia. Tradisi ini kemudian beradaptasi dengan budaya lokal dan menjadi momen berkumpul lintas generasi.
Pakar tafsir Indonesia, M. Quraish Shihab, dalam beberapa kajiannya menjelaskan bahwa kebersamaan saat berbuka memiliki nilai sosial yang kuat dalam Islam.
“Puasa bukan hanya ibadah individual, tetapi juga memiliki dimensi sosial. Kebersamaan saat berbuka menjadi sarana mempererat hubungan antarmanusia,” ujar Quraish Shihab dalam salah satu kajian Ramadan.
Ia juga menekankan bahwa esensi buka puasa bersama bukan pada kemewahan hidangan, melainkan pada nilai silaturahmi dan kebersamaan yang dibangun.
“Yang terpenting dari berbuka bersama adalah kebersamaan dan rasa syukur, bukan pada banyak atau mahalnya makanan,” tambahnya.
Di Indonesia, tradisi bukber mulai semakin populer sejak berkembangnya budaya organisasi dan komunitas pada era modern. Kini, kegiatan tersebut bahkan menjadi agenda rutin setiap Ramadan di berbagai kalangan.
Selain mempererat hubungan sosial, buka puasa bersama juga sering dimanfaatkan sebagai momentum berbagi dengan anak yatim maupun masyarakat kurang mampu, sehingga nilai spiritual Ramadan tetap terjaga di tengah tradisi yang terus berkembang.






Discussion about this post