MASAKINI.CO – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat sebanyak 17 titik panas (hotspot) tersebar di sejumlah wilayah Provinsi Aceh. Temuan ini menjadi peringatan dini potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang perlu segera diantisipasi.
Data tersebut dirilis oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika melalui Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Iskandar Muda berdasarkan hasil pemantauan satelit pada 25 Februari 2026 pukul 00.00 hingga 23.00 WIB.
Forecaster on Duty Stasiun Meteorologi SIM Banda Aceh, Dedi, menjelaskan bahwa titik panas terdeteksi melalui sensor MODIS dari Satelit Terra, Aqua, dan Suomi NPP serta NOAA20/VIIRS.
“Berdasarkan hasil pemantauan satelit, terdeteksi 17 titik panas di wilayah Aceh dengan tingkat kepercayaan berbeda,” ujar Dedi di Banda Aceh, Kamis (26/2/2026).
Sebaran hotspot tersebut berada di lima kabupaten/kota, yakni Aceh Barat, Aceh Selatan, Aceh Tamiang, Aceh Timur, serta Kota Lhokseumawe.
Di Kabupaten Aceh Barat, titik panas terpantau di Kecamatan Johan Pahlawan dan Kaway XVI. Di Aceh Selatan, terdeteksi di Kecamatan Trumon. Sementara di Aceh Tamiang berada di Kecamatan Bandar Pusaka, dan di Aceh Timur terpantau di Kecamatan Indra Makmu. Satu titik panas lainnya terdeteksi di Kecamatan Muara Satu, Kota Lhokseumawe.
BMKG menegaskan bahwa informasi titik panas merupakan indikasi awal adanya potensi kebakaran hutan dan lahan. Namun, untuk memastikan kondisi sebenarnya di lapangan, diperlukan verifikasi langsung oleh instansi terkait.
Tingkat kepercayaan hotspot yang terdeteksi bervariasi, mulai dari rendah hingga menengah dan tinggi. Wilayah dengan tingkat kepercayaan menengah hingga tinggi perlu mendapat perhatian lebih guna mencegah potensi meluasnya kebakaran.
Dedi mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran lahan dalam bentuk apa pun, terutama di tengah kondisi cuaca yang dapat mendukung terjadinya kebakaran. Selain itu, masyarakat diminta segera melapor kepada aparat desa atau pihak berwenang apabila melihat tanda-tanda kebakaran.
“Pencegahan lebih penting agar tidak terjadi kebakaran yang berdampak luas terhadap lingkungan maupun kesehatan,” katanya.








Discussion about this post