MASAKINI.CO – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Provinsi Aceh mengalami deflasi atau penurunan harga pada Februari 2026 secara month to month (m-to-m). Namun di sisi lain, inflasi secara tahunan masih tergolong tinggi.
Kepala Badan Pusat Statistik Provinsi Aceh, Agus Andria, menyebutkan deflasi yang terjadi pada Februari lalu sebesar 0,24 persen dibandingkan Januari 2026.
“Deflasi pada Februari terutama dipengaruhi oleh penurunan harga pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang memberikan andil sebesar 0,38 persen,” kata Agus, Jumat (6/3/2026).
Ia menjelaskan sejumlah komoditas pangan menjadi penyumbang utama deflasi, di antaranya bawang merah, cabai rawit, telur ayam ras, ikan tongkol, daging ayam ras, serta ikan bandeng. Penurunan harga komoditas tersebut mendorong turunnya tingkat inflasi bulanan di Aceh.
Meski demikian, secara tahunan atau year on year (y-on-y), Aceh justru masih mencatat inflasi cukup tinggi. BPS mencatat inflasi tahunan pada Februari 2026 mencapai 6,94 persen.
Agus menyebutkan penyumbang utama inflasi tahunan berasal dari kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga dengan andil sebesar 2,37 persen. Komoditas yang paling memengaruhi kenaikan tersebut adalah tarif listrik.
“Artinya, secara umum harga barang dan jasa pada Februari 2026 meningkat rata-rata sebesar 6,94 persen dibandingkan Februari tahun lalu,” ujarnya.
Adapun inflasi tahunan tertinggi terjadi di Kabupaten Aceh Tengah, yakni sebesar 8,44 persen, sedangkan paling rendah terdapat di Kabupaten Aceh Tamiang sebesar 6,34 persen.










Discussion about this post