MASAKINI.CO – Di sudut rumah sederhananya, Saidah Hayati (43) masih menyimpan rindu yang tak pernah menemukan pelukannya kembali. Sudah belasan tahun lamanya ia dipisahkan dari anak perempuan satu-satunya, sejak hari pertama bayi itu membuka mata ke dunia.
Anak itu adalah anak ketiganya, perempuan satu-satunya, cahaya kecil yang dinanti dan dikandung dengan penuh harap. Namun, takdir membenturkan Saidah pada kenyataan pahit, bayinya diambil oleh adik kandungnya sendiri yang telah lama menikah tetapi belum juga dikaruniai anak.
“Dari bayi setelah saya lahiran, anak saya diambil sama adik kandung saya sendiri dan sampai sekarang kami masih dipisahkan,” ujar Saidah lirih.
Hari itu, ia masih mengingat betul suasana ruang bersalin. Tubuhnya lemah selepas melahirkan, namun hatinya hangat saat pertama kali mendekap putrinya. Ia hanya sempat menyusui bayi mungil itu di hari pertama, sehari saja, setelah itu anaknya dibawa pergi.
Sang ibu, nenek dari bayi tersebut, mendukung keputusan untuk menyerahkan cucunya kepada adik Saidah. Alasan mereka sederhana, kasihan karena sang adik belum pernah merasakan menjadi ibu. Namun bagi Saidah, alasan itu tak pernah cukup untuk membenarkan perpisahan.
“Saya sudah bilang sama mamak saya, tidak rela kalau anak saya diserahkan,” kenangnya.
Ia bahkan sempat memohon dengan suara bergetar, memanggil ibunya dengan panggilan paling lembut.
“Mak, ini nyawa aku yang dibawa, Mak. Aku nggak sanggup dijauhkan dari anakku.”
Tetapi permohonan itu tak mengubah keputusan. Bayi perempuan itu dibawa ke Jakarta. Sejak saat itu, jarak bukan hanya soal kilometer, melainkan juga tentang hilangnya kabar, putusnya komunikasi, dan pudar perlahan bayangan wajah.
“Itu anak saya yang ketiga, perempuan satu-satunya. Saya sangat tidak rela anak saya dipisahkan seperti itu,” katanya, menahan tangis yang tak pernah benar-benar kering.
Bertahun-tahun berlalu. Tidak ada nomor telepon yang bisa dihubungi, tidak ada alamat pasti yang bisa dituju, tidak ada foto terbaru yang bisa dipandangi sebelum tidur. Bahkan suaranya pun, kata Saidah, sudah tak lagi bisa ia bayangkan.
Yang tersisa hanya kira-kira.
“Mungkin sekarang dia sudah kelas 3 SMP,” ujarnya pelan.
Di usianya yang beranjak remaja, putrinya mungkin sedang belajar tentang cita-cita, tentang persahabatan, atau mungkin tentang cinta pertama. Saidah hanya bisa menebak-nebak dari jauh, tanpa pernah benar-benar tahu bagaimana tumbuh kembang anak yang dulu ia lahirkan dengan taruhan nyawa.
Hingga kini, setiap kali melihat anak perempuan, rasa rindu itu tidak pernah mengecil, justru tumbuh dan mengendap dalam diam, menunggu satu kemungkinan, pertemuan.
Saidah tidak menuntut banyak. Ia tidak berbicara soal hak asuh atau pengakuan hukum. Satu hal saja yang ia inginkan, melihat wajah anaknya sekali lagi, mendengar suaranya, memastikan bahwa gadis itu tahu bahwa ia tidak pernah dibuang. Bahwa sejak hari pertama di dunia, ia dicintai.










Discussion about this post