MASAKINI.CO – Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Ar-Raniry, Banda Aceh, Agustin Hanafi, menilai menurunnya angka pernikahan di Aceh tidak semata-mata dipengaruhi oleh mahalnya harga emas. Ia menyebut trauma terhadap kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) menjadi salah satu faktor yang membuat sebagian perempuan enggan menikah.
Hal tersebut disampaikan Agustin dalam kultum usai salat Zuhur di Masjid Fathun Qorib pada Selasa (24/2/2026) lalu. Dalam penyampaiannya, ia menyoroti meningkatnya kasus perceraian yang terjadi belakangan ini dan menjadi perhatian serius di tengah masyarakat.
Menurutnya, berdasarkan hasil turun lapangan yang dilakukan timnya di beberapa kabupaten di Aceh sekitar tiga bulan lalu, penurunan angka pernikahan tidak berkaitan langsung dengan tingginya harga emas yang saat ini mendekati Rp9 juta per mayam. Ia menilai mahalnya emas tidak terlalu berpengaruh terhadap besaran mahar maupun pelaksanaan pernikahan di masyarakat.
Sebaliknya, banyak perempuan yang merasa khawatir untuk menikah karena pengalaman yang mereka lihat di lingkungan sekitar.
“Trauma tersebut muncul setelah menyaksikan pertengkaran orang tua, kasus KDRT yang dialami ibu, hingga pengalaman serupa yang terjadi pada teman, tetangga, atau kerabat,” ujarnya.
Agustin menjelaskan, sejumlah faktor kerap memicu terjadinya KDRT, di antaranya suami yang tidak bertanggung jawab dalam memenuhi kebutuhan keluarga. Kondisi tersebut kerap diperparah oleh keterlibatan dalam praktik judi online yang berdampak pada memburuknya ekonomi rumah tangga dan memicu konflik.
Selain faktor ekonomi, sikap temperamental dan perilaku posesif juga dinilai menjadi pemicu keretakan rumah tangga. Ia mencontohkan adanya pasangan yang menganggap sikap mengontrol secara berlebihan sebagai bentuk cinta, seperti menuntut pasangan selalu melapor atau melakukan panggilan video terus-menerus.
Ia menambahkan, dalam banyak kasus KDRT korban sebenarnya telah mengenal calon pasangannya cukup lama sebelum menikah. Namun tanda-tanda seperti mudah marah, posesif, dan rasa takut kehilangan yang berlebihan sering kali diabaikan sejak awal.
“Untuk itu, generasi muda agar lebih bijak dalam memilih pasangan hidup,” sebutnya.







Discussion about this post