MASAKINI.CO — Di sebuah ruangan kerja yang dipenuhi buku-buku tentang keluarga, relasi, dan pendidikan, Nashriyah berbicara dengan suara yang tenang. Rak-rak buku di sekelilingnya memuat beragam kajian tentang hubungan manusia tentang bagaimana seseorang mencintai, memahami, dan terkadang juga menyakiti satu sama lain.
Namun siang itu, ia tidak sedang membahas teori yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Justru sebaliknya. Topik yang ia angkat terasa sangat dekat dengan pengalaman banyak anak muda: patah hati, penolakan, dan bagaimana seseorang meresponsnya.
Sebagai Ketua Pusat Studi Gender dan Anak di UIN Ar-Raniry, Nashriyah sudah lama bersinggungan dengan berbagai cerita tentang relasi mahasiswa. Kisah cinta yang bersemi di bangku kuliah, harapan yang tumbuh perlahan, hingga hubungan yang berakhir sebelum benar-benar dimulai.
Belakangan, sebuah kasus penganiayaan yang melibatkan mahasiswa kembali membuatnya merenung. Baginya, peristiwa itu bukan sekadar persoalan individu, melainkan cerminan dari masalah yang lebih dalam ketidakmampuan sebagian orang menerima penolakan.
“Ditolak itu sakit, iya. Tapi rasa sakit tidak pernah menjadi alasan untuk menyakiti orang lain,” ujarnya tegas.
Ia tidak menampik bahwa perasaan kecewa adalah sesuatu yang sangat manusiawi. Hampir setiap orang pernah merasakannya. Harapan yang tidak terbalas memang bisa meninggalkan luka.
Namun, menurut Nashriyah, ada batas yang jelas antara emosi dan tindakan.
Kekecewaan adalah sesuatu yang dirasakan. Sementara kekerasan adalah sesuatu yang dipilih.
Ketika seseorang melukai orang lain karena sakit hati, pada saat itulah kedewasaan emosional mulai dipertanyakan.
Dalam pengamatannya, reaksi agresif sering muncul ketika seseorang merasa harga dirinya terluka. Penolakan tidak lagi dipahami sebagai pilihan pribadi orang lain, melainkan dianggap sebagai penghinaan terhadap dirinya secara keseluruhan.
Dari situ, berbagai pembenaran mulai muncul.
Ada yang merasa sudah terlalu banyak berkorban dalam sebuah hubungan. Ada pula yang menganggap dirinya telah diberi harapan palsu.
Namun bagi Nashriyah, semua alasan itu tetap tidak bisa dijadikan dasar untuk melakukan kekerasan.
“Sakit hati atau merasa diberi harapan palsu sering kali muncul sebagai pembelaan diri. Tapi itu tidak pernah memberi mandat bagi siapa pun untuk melakukan intimidasi, apalagi kekerasan fisik,” katanya.
Percakapan kemudian mengarah pada hal yang lebih mendasar: bagaimana seseorang belajar menghadapi penolakan sejak kecil.
Menurut Nashriyah, ketahanan emosional seseorang tidak muncul begitu saja. Ia dibentuk sejak masa kanak-kanak, terutama melalui pola asuh dalam keluarga.
Anak yang tumbuh dengan setiap keinginannya selalu dipenuhi, tanpa pernah belajar menerima kata “tidak”, berpotensi mengalami guncangan ketika menghadapi realitas yang berbeda saat dewasa.
“Kalau sejak kecil setiap keinginan harus dipenuhi, setiap tangisan langsung dituruti, maka ketika dewasa dan menghadapi kata ‘tidak’, dia bisa merasa dunianya runtuh,” jelasnya.
Di usia mahasiswa, itu menjadi masa ketika banyak orang sedang mencari jati diri kemampuan mengelola emosi menjadi sangat penting. Pada fase ini pula banyak relasi baru terbentuk.
Namun tidak semua hubungan berjalan sesuai harapan.
Ada yang bertahan, ada yang berakhir, dan ada pula yang tidak pernah benar-benar dimulai.
Karena itu, Nashriyah juga menekankan pentingnya komunikasi yang jujur dalam sebuah hubungan. Kejujuran sejak awal, menurutnya, dapat mencegah kesalahpahaman dan harapan yang tidak sejalan.
Dalam konteks ini, ia mendorong perempuan untuk berani menyampaikan penolakan secara jelas dan tegas jika memang tidak memiliki ketertarikan.
“Perempuan perlu berani mengatakan ‘tidak’ secara sopan tapi tegas sejak awal. Itu bukan sikap jahat, itu kejujuran,” ujarnya.
Meski begitu, Nashriyah menegaskan bahwa tanggung jawab terbesar tetap berada pada orang yang menerima penolakan.
Menurutnya, kedewasaan bukan diukur dari seberapa kuat seseorang memperjuangkan keinginannya, melainkan dari seberapa lapang ia menerima kenyataan.
Relasi yang sehat, katanya, tidak dibangun dengan paksaan. Apalagi dengan ancaman.
Relasi yang sehat justru lahir dari saling menghargai pilihan masing-masing.
Di akhir perbincangan, Nashriyah juga mengingatkan bahwa kampus memiliki peran penting untuk memastikan korban kekerasan tidak merasa sendirian. Sistem perlindungan harus berjalan, dan mahasiswa harus merasa aman untuk melapor ketika mengalami kekerasan.
“Kampus harus hadir. Korban harus tahu bahwa mereka tidak sendirian,” katanya.







Discussion about this post