MASAKINI.CO – Di banyak rumah, seminggu menjelang Idulfitri biasanya menjadi waktu paling sibuk. Dapur mengepul sejak pagi, aroma kue kering menguar dari dalam rumah, dan keluarga mulai merapikan ruang tamu untuk menyambut hari kemenangan.
Namun suasana itu tidak dirasakan oleh Suryani.
Di Desa Meunasah Blang, Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara, perempuan itu justru menghabiskan hari-harinya di bawah terpal tenda pengungsian. Rumah yang dulu menjadi tempat berkumpul keluarganya kini tak lagi bisa ditempati setelah banjir melanda desa mereka.
Angin sore menerpa dinding tenda yang tipis. Di dalamnya, Suryani dan keluarganya mencoba menjalani hari seperti biasa, meski dengan segala keterbatasan.
“Sekarang saja kami masih tinggal di tenda. Makan juga seadanya karena sudah tidak ada lagi pencarian,” kata Suryani pelan, Kamis (12/3/2026).
Baginya, hari-hari belakangan terasa berjalan lebih berat. Aktivitas bekerja yang selama ini menjadi sumber penghidupan keluarga terhenti sejak banjir datang. Sawah dan pekerjaan lain yang biasa mereka lakukan tidak bisa dijalankan.
Akibatnya, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Suryani dan keluarga hanya bisa mengandalkan bantuan yang datang dari berbagai pihak.
Bahkan untuk berbuka puasa, mereka sering kali hanya memiliki makanan yang sangat sederhana.
“Berbuka kadang hanya dengan teh yang kemarin-kemarin dikasih di jalan,” ujarnya.
Kalimat itu diucapkan tanpa keluhan panjang. Namun dari raut wajahnya, terlihat jelas kelelahan yang mereka rasakan.
Lebaran yang biasanya identik dengan hidangan istimewa dan kebersamaan keluarga, tahun ini terasa sangat berbeda bagi mereka.
Tidak ada lagi rumah yang bisa disiapkan untuk menyambut tamu. Tidak ada lagi ruang keluarga tempat mereka berkumpul setelah salat Idulfitri.
Bagi Suryani, perayaan mewah bukan lagi hal yang dipikirkan.
Rumah mereka sudah tidak ada. Yang terpenting saat ini hanyalah bagaimana keluarga mereka bisa bertahan dari hari ke hari.
“Pencarian kami belum ada sampai sekarang. Katanya ada bantuan dari bupati, tapi sampai sekarang belum nampak juga,” katanya.
Di tenda pengungsian, hari-hari dilalui dengan harapan sederhana. Mereka menunggu bantuan logistik yang datang untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan.
Bagi para pengungsi, bantuan tersebut menjadi penopang utama untuk tetap bertahan.
Sementara itu, rencana pembangunan hunian sementara bagi warga terdampak banjir masih dalam proses. Namun hingga kini belum ada kepastian kapan tempat tersebut bisa ditempati.
Ketidakpastian itu membuat banyak warga harus terus bertahan di tenda, termasuk Suryani dan keluarganya.
Di tengah suasana Ramadan yang seharusnya penuh persiapan menuju hari raya, mereka justru menjalani hari dengan kesederhanaan yang jauh dari bayangan kebanyakan orang.
Jika di tempat lain orang sibuk memilih pakaian baru untuk Lebaran, di tenda pengungsian harapan mereka jauh lebih sederhana.
Bagi Suryani, Lebaran tahun ini kemungkinan besar akan dilewati di tempat yang sama di bawah tenda, bersama keluarga, dengan segala keterbatasan yang ada.
Namun di balik semua itu, ia masih menyimpan satu harapan kecil.
Semoga keadaan segera membaik.








Discussion about this post