MASAKINI.CO
No Result
View All Result
Rabu, Mei 20, 2026
  • Beranda
  • News
  • Daerah
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Beranda
  • News
  • Daerah
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
MASAKINI.CO
Home Cerita

Suluk Jadi Tempat Pulang Terakhir Jariyah di Bulan Ramadan

Riska Zulfira by Riska Zulfira
31 Januari 2026
in Cerita
0

Jariyah (70) warga Desa Lueng Tuha, Kecamatan Tanah Jambo Aye, Aceh Utara berdiri di depan tenda pengungsi yang pernah ditempatinya. | Foto: Riska Zulfira/masakini.co

Share on FacebookShare on Twitter

MASAKINI.CO – Di depan tenda pengungsian di Desa Lueng Tuha, Kecamatan Tanah Jambo Aye, Aceh Utara, Jariyah duduk diam. Usianya 70 tahun. Tatapannya kosong, seolah masih menyusuri arus banjir besar yang beberapa waktu lalu datang tanpa permisi membawa pergi rumah, harta, dan rasa aman yang puluhan tahun ia bangun.

Rumah kayu yang ia tempati sejak lama kini tak lagi ada. Hanyut. Tak tersisa apa pun untuk kembali.

RelatedPosts

Dari Dapur Rumahan ke Tanah Suci, Keumamah Aceh Diburu Jemaah Haji

Menabung dari Lumpur Sawah, Halimah Berangkat Haji di Usia 85 Tahun

Ranup yang Perlahan Asing di Tanahnya Sendiri

“Semuanya habis. Rumah hanyut,” ucapnya lirih, Sabtu (31/1/2026).

Sejak hari itu, Jariyah tak punya alamat tetap. Ia berpindah dari satu rumah ke rumah lain. Menumpang di rumah anak, kadang di rumah kerabat, kadang tetangga. Bukan karena ingin, melainkan karena tak punya pilihan. Setiap perpindahan selalu diiringi rasa sungkan, takut merepotkan, takut dianggap beban.

Anaknya lima, semuanya perempuan, semuanya sudah berkeluarga. Hidup mereka pun pas-pasan. “Kalau numpang terus, kan malu juga. Anak-anak juga punya keluarga yang harus mereka pikirkan,” katanya pelan.

Di tengah kondisi pascabencana yang serba terbatas, tubuhnya pun kerap tak bersahabat. Debu di pengungsian membuatnya sering batuk dan sesak. Malam hari terasa dingin. Siang hari terasa pengap. Namun, di tengah semua itu, ada satu harapan yang terus ia simpan, ingin bersuluk (menempuh jalan spiritual untuk menuju Allah) di bulan Ramadan.

Bagi Jariyah, suluk bukan sekadar ritual ibadah. Ia adalah ruang tenang, tempat menenangkan batin setelah kehilangan segalanya. Sudah 12 tahun ia rutin mengikuti suluk setiap Ramadan. Biasanya, selepas Lebaran, ia kembali ke kampung. Kali ini, kampung itu telah tiada.

“Sekarang rumah juga tidak ada. Lebih baik saya beribadah,” katanya pelan.

Namun, keinginan itu terbentur kenyataan. Untuk mengikuti suluk, Jariyah harus membayar sekitar Rp300 ribu dan membawa beras. Ia juga membutuhkan kain dan kelambu. Semua kebutuhan itu kini tak ia miliki.

Masalahnya, untuk masuk suluk, Jariyah harus menyiapkan biaya. Sekitar Rp300 ribu dan membawa beras sebagai bekal. Ia juga membutuhkan kain dan kelambu. Semua itu kini tak ia miliki.

“Saya tidak punya uang. Kain tidak ada, kelambu juga tidak ada,” katanya jujur.

Ia tahu, selepas Ramadan nanti, hidupnya kembali menggantung. Kembali menumpang. Kembali berpindah. Namun setidaknya, selama suluk, ia punya tempat bernaung tempat yang memberi ketenangan di tengah kehilangan yang bertubi-tubi.

Foto udara Dusun Lhok Pungki, Desa Gunci, Sawang, Aceh Utara | Foto: Ahmad Mufti/masakini.co

Jariyah hanya berharap bantuan rumah. Bukan besar, bukan mewah. Asal milik sendiri.

“Kalau ada rumah, lebih nyaman. Tidak numpang-numpang. Tapi sampai sekarang belum ada kabar rumah bantuan dari pemerintah,” katanya.

Di tenda pengungsian yang berdebu, Jariyah menunggu. Menunggu bantuan yang tak kunjung pasti. Menunggu Ramadan untuk masuk suluk. Menunggu takdir membawanya ke tempat yang sedikit lebih tenang.

Bagi Nenek Jariyah, bersuluk bukan pelarian. Ia adalah pegangan terakhir jalan sunyi untuk tetap hidup, saat dunia seakan tak lagi menyediakan tempat pulang.

Tags: Banjir Aceh UtaraBantuanpengungsiRamadanSuluk
Previous Post

Harga Emas di Banda Aceh Turun Drastis, Waktu Tepat Beli?

Next Post

Lahan Ilalang di Leupung Aceh Besar Terbakar

Related Posts

Hujan Deras Rendam Permukiman Warga di Aceh Utara, BMKG Imbau Masyarakat Waspada

by Aininadhirah
14 Mei 2026
0

MASAKINI.CO – Hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur sejumlah wilayah Aceh sejak Selasa sore menyebabkan permukiman warga di Gampong Meunasah...

Ketidakpastian Biaya Listrik Huntara, Pengungsi Aceh Utara Kebingungan

by Aininadhirah
27 Maret 2026
0

MASAKINI.CO – Ketidakjelasan kebijakan pembayaran listrik di hunian sementara (huntara) memicu kebingungan di kalangan pengungsi di Aceh Utara. Hingga kini,...

Menunggu Lebaran di Tenda Pengungsian

by Aininadhirah
12 Maret 2026
0

MASAKINI.CO - Di banyak rumah, seminggu menjelang Idulfitri biasanya menjadi waktu paling sibuk. Dapur mengepul sejak pagi, aroma kue kering...

Next Post

Lahan Ilalang di Leupung Aceh Besar Terbakar

The Land from Above

Discussion about this post

CERITA

Dari Dapur Rumahan ke Tanah Suci, Keumamah Aceh Diburu Jemaah Haji

19 Mei 2026

Menabung dari Lumpur Sawah, Halimah Berangkat Haji di Usia 85 Tahun

12 Mei 2026

Ranup yang Perlahan Asing di Tanahnya Sendiri

7 Mei 2026

Dari Kuli Panggul ke Pencerita Visual, Perjalanan Sunyi Yulzi di Balik Lensa

1 Mei 2026

TERPOPULER

Plugin Install : Popular Post Widget need JNews - View Counter to be installed
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy

Copyright © 2025 - masakini.co

No Result
View All Result
  • Daerah
  • News
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video

Copyright © 2025 - masakini.co

 

Memuat Komentar...