MASAKINI.CO – Kisah Wara berusia 24 tahun yang tidak pernah menyangka suara yang ia rekam dari balik tenda beralaskan terpal biru itu akan sampai sejauh ini.
Dari sebuah video sederhana yang memperlihatkan kondisi pengungsian di Desa Sekumur, Aceh Tamiang, namanya mendadak dikenal. Video itu viral, menyebar luas di media sosial, dan menjadi sorotan publik.
Di dalamnya, tidak ada dramatisasi. Hanya kenyataan. Tenda-tenda yang masih berdiri. Warga yang belum pulang. Dan kehidupan yang masih jauh dari kata pulih, meski sudah berbulan-bulan sejak banjir besar menerjang pada 26 November 2025.
Ia sendiri masih tinggal di tenda hingga hari ini, 27 Maret 2026. Bersama dua anggota keluarganya, ia menjalani hari di ruang sempit yang menjadi tempat bertahan sejak rumah mereka hancur.
“Rumah kami hancur diterjang kayu dan air besar,” ujarnya kepada masakini.co, Jumat (27/3/2026).
Video Wara menjadi semakin perhatian ketika muncul pernyataan dari Presiden Prabowo yang menyebut kondisi di Aceh Tamiang telah aman dan warga sudah mendapatkan hunian sementara (huntara).
Namun apa yang ditunjukkan Wara justru berbeda. Di lapangan, warga masih tinggal di tenda. Terpal biru masih menjadi atap. Dan hunian yang dijanjikan belum sepenuhnya dirasakan.
Perbedaan itu yang mendorong Wara untuk tidak diam.
“Saya tidak takut bersuara karena saya di jalan kebenaran, Saya akan membantu berjuang untuk korban banjir walaupun ada korban banjir yang tidak mendukung.” Ujarnya Tegas.
Keputusan untuk bersuara bukan hal mudah. Ia sadar tidak semua orang akan sepakat. Namun bagi Wara, menyampaikan kenyataan jauh lebih penting daripada memilih diam.
Langkahnya perlahan membawa dampak. Ia mengaku, setelah videonya viral, proses pembangunan hunian sementara mulai dipercepat.
“Alhamdulillah senang, karena dari semenjak video saya viral dipercepat huntara ini. Saya senang bisa membantu warga desa korban banjir ini,” katanya.
Meski demikian, realitas di lapangan belum sepenuhnya berubah. Ia dan banyak warga lainnya masih tinggal di tenda, menunggu hunian yang layak benar-benar bisa ditempati.
Di tengah kondisi itu, Wara tetap melihat satu hal penting, suaranya bisa menjadi jembatan.
Bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi untuk seluruh warga yang mengalami hal serupa.








Discussion about this post