MASAKINI.CO – Di tengah keterbatasan irigasi dan ancaman cuaca tak menentu, petani di Gampong Maheng, Kecamatan Kuta Cot Glie, Aceh Besar, mulai mengandalkan sawah tadah hujan sebagai strategi utama mendongkrak produksi padi.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya mendukung swasembada pangan nasional, sekaligus menjawab tantangan minimnya pasokan air di wilayah pedesaan yang bergantung pada curah hujan.
Di Gampong Maheng, sekitar 200 hektare lahan pertanian dikelola dengan sistem tadah hujan. Namun, kondisi tersebut juga menyimpan risiko besar jika pengelolaan air tidak dilakukan secara optimal.
Petani setempat, Nasri (37), mengungkapkan ketidakpastian cuaca menjadi tantangan utama yang kerap berujung pada gagal panen.
“Kalau air tidak dikelola dengan baik, sawah tadah hujan ini sangat berisiko. Kami sering mengalami gagal panen,” ujarnya saat ditemui di lokasi persawahan, Jumat (27/3/2026).
Meski demikian, para petani tetap optimistis. Mereka mulai memperkuat kerja sama, termasuk dalam pengaturan jadwal tanam dan distribusi air, guna memaksimalkan hasil produksi.
Di sisi lain, Pemerintah Kabupaten Aceh Besar terus mendorong peningkatan luas tambah tanam (LTT) dan optimalisasi lahan sebagai bagian dari strategi memperkuat ketahanan pangan daerah.
Dengan luas sawah mencapai puluhan ribu hektare dan produktivitas rata-rata 5–6 ton per hektare, Aceh Besar dinilai memiliki potensi besar sebagai lumbung pangan di Aceh. Namun, tanpa pengelolaan yang tepat, potensi tersebut bisa terhambat oleh faktor alam.
Program optimalisasi tidak hanya berfokus pada peningkatan produksi, tetapi juga mencakup dukungan teknologi, pelatihan, hingga penyediaan sarana pertanian bagi petani.
Nasri menegaskan, keberhasilan program ini sangat bergantung pada keseriusan petani dalam mengelola lahan.
“Kalau semua petani serius, kami yakin sawah tadah hujan ini bisa jadi andalan untuk swasembada pangan,” katanya.








Discussion about this post