MASAKINI.CO – Layang-layang kembali menghiasi langit Gampong Reuleung Geulumpang, Kecamatan Kuta Malaka, Aceh Besar, Senin (12/10/2026). Puluhan peserta dari berbagai wilayah berkumpul di hamparan sawah untuk mengikuti Festival Geulayang Tunang, menghidupkan kembali permainan tradisional yang dahulu menjadi hiburan masyarakat selepas panen.
Bagi masyarakat setempat, geulayang tunang bukan sekadar permainan, tetapi juga bagian dari tradisi yang mempertemukan warga dalam suasana kebersamaan.
Ketua Panitia Festival, Arif Firnandy, mengatakan kegiatan tersebut digelar untuk menjaga agar permainan tradisional Aceh tidak semakin dilupakan, terutama oleh generasi muda.
“Kita ingin menghidupkan kembali tradisi geulayang tunang yang sudah menjadi bagian dari budaya Aceh sejak lama. Kegiatan ini kita selenggarakan sekaligus dalam momentum Hari Ulang Tahun Sanggar Seni Saweuna,” kata Arif.
Ia menjelaskan, geulayang tunang dahulu kerap dimainkan setelah musim panen. Sawah yang telah kosong menjadi tempat bagi para pemuda untuk menerbangkan layang-layang sekaligus bersilaturahmi. Namun, kebiasaan itu kini semakin jarang dijumpai seiring berkembangnya permainan modern dan penggunaan gawai.
“Lewat festival ini, kita ingin anak-anak muda mengenal kembali kebanggaan lokalnya. Layang-layang bukan hanya permainan, tapi simbol kebersamaan dan kegembiraan,” ujarnya.
Dalam kategori layang-layang tunang, peserta harus menggunakan tali sepanjang 350 meter. Layang-layang juga harus memakai warna merah, kuning, atau hijau serta memuat gambar atau logo bulan bintang dan pedang.
Pada perlombaan ini, Muhammad Yuni dari Ule Ue, Indrapuri, meraih juara pertama. Posisi kedua ditempati Rahmat Danil dari Reuleung Geulumpang, Kuta Malaka, disusul Grup Peng Bicah dari Weubada, Montasik.
Sementara itu, Haikal dari Reuleung Geulumpang menjadi juara pertama kategori layang-layang hias. Dely Rifki dari Lambaro Samahani menempati posisi kedua, sedangkan Grup Peng Bicah dari Weubada meraih posisi ketiga. Total hadiah untuk kategori layang-layang hias mencapai Rp 500.000.
Melalui festival ini, tradisi yang dahulu mengisi waktu selepas panen kembali hadir di tengah masyarakat.










Discussion about this post