MASAKINI.CO – Pemerintah Kota Banda Aceh mengelola sampah rumah tangga melalui fasilitas Waste Collection Point (WCP) dengan mengandalkan pemilahan berdasarkan jenis sampah. Sistem ini juga memungkinkan sampah organik diolah menjadi kompos, sementara fasilitas depo WCP akan ditambah atau diperbaiki secara bertahap.
Kepala Bidang Sampah Dinas Lingkungan Hidup (DLHK) Banda Aceh, Asnawi, mengatakan sampah yang dikumpulkan melalui WCP dipilah menjadi tiga kategori, yakni organik, nonorganik, dan residu. Sampah tersebut kemudian dibawa ke depo untuk dikelola lebih lanjut.
Sampah organik dimanfaatkan sebagai bahan kompos untuk mendukung kegiatan berkebun masyarakat dan Kelompok Wanita Tani (KWT) di kebun gampong sekitar depo.
Namun, pengelolaan sampah dari sumbernya masih perlu diperkuat. Menurut Asnawi, kebiasaan memilah sampah dari rumah tangga perlu terus diperluas agar pengelolaannya berjalan lebih optimal.
“Secara umum budaya memilah sampah dari rumah tangga dinilai masih terus ditingkatkan dan diperluas agar pengelolaan sampah di sumber dapat berdaya,” ujar Asnawi kepada masakini.co, Rabu (21/10/2026).
Selain mendorong pemilahan dari rumah, Pemko Banda Aceh berencana menambah atau memperbaiki fasilitas depo WCP secara bertahap. Pembenahan ini ditujukan untuk meningkatkan kelayakan fasilitas pengelolaan sekaligus mengurangi volume sampah yang dibuang ke tempat pemrosesan akhir (TPA).
Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal, sebelumnya meninjau tiga lokasi WCP pada Jumat (2/10/2026). Dalam kunjungan tersebut, ia melihat kegiatan pemilahan sampah yang melibatkan kelompok masyarakat, terutama kaum perempuan.
Illiza mengatakan pengelolaan sampah membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, masyarakat, dunia usaha, hingga komunitas.
“Dengan semangat Banda Aceh Kota Kolaborasi, saya yakin persoalan sampah dapat kita atasi apabila seluruh unsur bergerak bersama. Pemerintah menyediakan kebijakan dan fasilitas, masyarakat membangun budaya disiplin, dunia usaha berpartisipasi, dan komunitas menjadi penggerak di lapangan,” kata Illiza.
Penulis: Alya Ulfa








Discussion about this post