KontraS Aceh: Pemberhentian Achmad Marzuki dari TNI Tak Transparan

Proses pelantikan Achmad Marzuki jadi Pj Gubernur Aceh di gedung DPRA, Rabu 6/7/2022. (foto: dok DPRA)

Bagikan

Share on facebook
Share on twitter
Share on telegram
Share on whatsapp

KontraS Aceh: Pemberhentian Achmad Marzuki dari TNI Tak Transparan

Bagikan

Share on facebook
Share on twitter
Share on telegram
Share on whatsapp
Proses pelantikan Achmad Marzuki jadi Pj Gubernur Aceh di gedung DPRA, Rabu 6/7/2022. (foto: dok DPRA)

MASAKINI.CO – Dua pekan berlalu sejak Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) Aceh melayangkan surat permintaan informasi kepada Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID) TNI, untuk mempertanyakan status pemberhentian Mayjen TNI (Purn) Achmad Marzuki dari statusnya sebagai perwira TNI.

Surat itu dikirimkan tepat pada Rabu, 13 Juli 2022 secara elektronik ke Mabes TNI dengan nomor 20/BP-KontraS Aceh/VII/2022, ke permintaaninformasi@gmail.com. Namun, hingga kini belum ada tanggapan dari permintaan itu.

“14 hari berlalu sejak surat itu dikirimkan, untuk itu kami mengajukan keberatan atas tidak diresponnya surat tersebut. Padahal informasi yang diminta bukanlah informasi yang dikecualikan,” ujar Kepala Divisi Advokasi dan Kampanye KontraS Aceh, Azharul Husna dalam keterangannya, Rabu (4/8/2022).

Menurut KontraS Aceh, informasi terkait kejelasan status Achmad Marzuki yang dikabarkan pensiun dari TNI sebelum diangkat menjadi Staf Ahli Menteri Dalam Negeri, bukan lah informasi yang dikecualikan, karena itu seharusnya bisa dibuka kepada publik.

“Berdasarkan Undang-undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik informasi tersebut dapat diberikan,” tegas Husna.

Lebih jauh, KontraS Aceh juga mengingatkan bahwa transparansi status Achmad berkaitan dengan pengangkatannya sebagai Penjabat (Pj) Gubernur Aceh, yang dilantik pada 6 Juli lalu.

“Diduga terjadi proses ‘kilat’, yakni ketika Marzuki dinyatakan pensiun pada Jumat 1 Juli 2022 dari institusi TNI,” sebutnya.

Husna melanjutkannya, pada 4 Juli Marzuki diangkat Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian sebagai Staf Ahli Mendagri Bidang Hukum dan Kesatuan Bangsa, dengan pangkat pimpinan tinggi madya. Selang dua hari, ia langsung ditunjuk Mendagri sebagai Pj Gubernur Aceh.

“Kami tetap menagih informasi ini sebagai bagian dari menuntut akuntabilitas negara atas proses pengangkatan tersebut. Apalagi, berbagai persoalan muncul, bahkan diduga terjadi maladministrasi. Sehingga publik berhak mengetahui bagaimana proses itu berjalan sejak awal,” pungkasnya.

Jika keberatan ini tak juga direspon, tegas Husna, KontraS Aceh bakal melayangkan gugatan selanjutnya, sesuai mekanisme UU Keterbukaan Informasi Publik.

TAG

Bagikan

Share on facebook
Share on twitter
Share on telegram
Share on whatsapp

Berita Terkait

Tinggalkan Komentar

Berita Terbaru

Berita terpopuler

Add New Playlist