MASAKINI.CO
No Result
View All Result
Jumat, Februari 20, 2026
  • Beranda
  • News
  • Daerah
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Beranda
  • News
  • Daerah
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
MASAKINI.CO
Home Headline

Konflik Satwa Liar di Aceh Terus Meningkat

Masa Kini by Masa Kini
25 Januari 2020
in Headline, News
0

Hadi Sofyan (kanan), menjelaskan konflik satwa di Aceh.

Share on FacebookShare on Twitter

MASAKINI.CO – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh menyebutkan angka konflik satwa liar dengan manusia terus meningkat dari tahun ke tahun di Aceh.

“Konflik dengan satwa sering terjadi di wilayah Aceh Jaya, Aceh Barat, Nagan Raya paling tinggi konflik satwa gajah,” kata Seksi wilayah II BKSDA Aceh, Hadi Sofyan, Jumat (24/1).

RelatedPosts

UIN Ar-Raniry Siapkan 2.000 Paket Iftar per Hari, Terbuka untuk Mahasiswa dan Warga Sekitar

Keutamaan Tadarus Al-Qur’an di Bulan Ramadhan, Ustaz Razi: Menjadi Syafaat di Hari Kiamat

Tubuh Terasa Berenergi atau Lelah saat Puasa? Ini Penyebabnya

Data BKSDA menunjukkan kasus konflik dengan gajah tertinggi tahun 2017 mencapai 103 kasus, penurunan terjadi tahun 2018 menjadi 73 kasus.

Namun, pada tahun 2019 kasus konflik dengan gajah kembali meningkat sebanyak 90 kasus. Kenaikan juga terjadi terhadap kasus konflik dengan harimau.

Data menunjukkan pada tahun 2018 terjadi sebanyak sembilan kasus dan ditahun 2019 meningkat sebanyak dua kali lipat menjadi 18 kasus konflik.

Data juga menunjukan kenaikan jumlah konflik dengan orangutan pada tahun 2018 ada 23 kasus dan tahun 2019 sebanyak 42 kasus.

Menurut Hadi, konflik tersebut terjadi dikarenakan beberapa sebab seperti satwa yang keluar dari habitatnya, serta pembukaan lahan baru yang terus dilakukan secara masif.

“Ada juga beberapa kasus yang habitatnya berada di kawasan hutan tetapi di luar SM (Suaka Margasatwa) Rawa Singkil. Biasanya ada yang terisolir dengan perkebunan sawit makanya terjadi konflik,” katanya.

Mencegah terjadinya konflik satwa, BKSDA Aceh membangun Conservation Respon Unit (CRU), memasang GPS collar pada gajah, menanam komoditi pangan yang tidak disukai satwa, serta membuat barier penghalau gajah masuk ke pemukiman.

Contracting Officer Representative USAID Indonesia, Amin Budiarjo menegaskan dalam sepuluh tahun terakhir peningkatan konflik terjadi signifikan dan merugikan masyarakat baik itu nyawa maupun ternak dan hasil panen.

“Sehingga ini menjadi masalah yang serius kalau tidak diantisipasi,” katanya.

Menurutnya, Konflik tersebut terjadi akibat terjadinya tabrakan antara jalur satwa dengan kegiatan ekonomi seperti perkebunan, perumahan ataupun kegiatan industri lainnya.

“Intinya sih, hewan ada lebih dulu jadi alam ini rumah hewan duluan, kumpulan gajah itu terus bergerak begitu juga harimau tapi di sisi lain kegiatan pembangunan, kegiatan ekonomi yang terus diekspansi seperti peningkatan jumlah penduduk, pertambahan lahan perkebunan,” kata Amin.

Ia menyebutkan, masalahnya ini tidak cukup menjadi perhatian pemerintah daerah, apalagi di Aceh ini lumayan jauh antara pusat pemerintahan dengan lokasi-lokasi konflik di daerah.

“Sehingga perlu kerja bareng-bareng dengan masyarakat di desa, organisasi non-pemerintah, pemerintah daerah ataupun dengan unit-unit di bawah KLHK,” lanjutnya.

Amin menjelaskan program Masyarakat Desa Mandiri (MDM) dengan membentuk Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) dalam menangani konflik satwa, bisa menjadi salah satu solusi untuk menekan angka konflik dengan satwa liar.

“Intinya sih MDM bagaimana membuat masyarakat di desa untuk bisa menyiapkan antisipasi supaya satwa liat itu tidak masuk atau mengganggu kegiatan masyarakat desa,” kata Amin.[Ahlul Fikar]

Tags: BKSDA AcehKonflik Satwa Liar
Previous Post

Hendak Jual Orangutan, Warga Gayo Lues Ditangkap Gakkum KLHK

Next Post

Warga Aceh di Wuhan Bebas dari Virus Corona

Related Posts

Populasi Orang Utan Sumatra Terancam, Habitat Alami Kian Menyempit

Populasi Orang Utan Sumatra Terancam, Habitat Alami Kian Menyempit

by Redaksi
24 Agustus 2025
0

MASAKINI.CO - Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh mengungkapkan bahwa populasi orang utan sumatra (Pongo abelii) di provinsi ini...

Populasi Gajah Sumatra di Aceh Tinggal 550-600 Ekor, 11 Mati dalam Satu Tahun

Populasi Gajah Sumatra di Aceh Tinggal 550-600 Ekor, 11 Mati dalam Satu Tahun

by Riska Zulfira
14 Agustus 2025
0

MASAKINI.CO - Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) mengungkapkan populasi gajah Sumatra di Provinsi Aceh kian mengkhawatirkan. Saat ini, jumlahnya...

Sempat Diobati, Gajah Sumatera Akhirnya Mati di Aceh Timur

Sempat Diobati, Gajah Sumatera Akhirnya Mati di Aceh Timur

by Alfath Asmunda
1 Februari 2025
0

MASAKINI.CO - Seekor gajah Sumatera liar mati di salah satu desa dalam Kecamatan Indra Makmur, Aceh Timur pada Jumat (31/1/2025)...

Next Post
Pemerintah Aceh Targetkan Investasi 42 Triliun dari Uni Emirat Arab

Warga Aceh di Wuhan Bebas dari Virus Corona

Meluapkan Gembira, Lewat Menjaga Tradisi Raja

Discussion about this post

CERITA

Ismatul Rahmi pemeran Hasanah dalam dokudrama NOEH | Foto: dok pribadi

Air Mata Hasanah, Luka yang Tak Terlihat dalam Film Noeh

17 Februari 2026

Menembus Batas Negeri, Perjalanan Naufal Maulana Menggapai Beasiswa Pemerintah Rusia

14 Februari 2026

Meugang, Tradisi Turun-Temurun Aceh Menyambut Ramadan

4 Februari 2026

Ramadan di Tenda: Harapan Pengungsi Kalasegi untuk Rumah yang Terlambat Datang

3 Februari 2026

TERPOPULER

Plugin Install : Popular Post Widget need JNews - View Counter to be installed
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy

Copyright © 2025 - masakini.co

No Result
View All Result
  • Daerah
  • News
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video

Copyright © 2025 - masakini.co