MASAKINI.CO
No Result
View All Result
Kamis, Maret 5, 2026
  • Beranda
  • News
  • Daerah
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Beranda
  • News
  • Daerah
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
MASAKINI.CO
Home Headline

Serambi Mekkah dalam Kepungan Bencana Ekologi

Masa Kini by Masa Kini
7 September 2021
in Headline
0
Serambi Mekkah dalam Kepungan Bencana Ekologi

Aktivitas galian C pada salah satu aliran sungai di Aceh. (foto: Junaidi Hanafiah untuk masakini.co)

Share on FacebookShare on Twitter

MASAKINI.CO – Kasus bencana ekologi di Aceh kian masif. Sejak 2018 hingga 2020 bencana banjir, longsor, dan banjir bandang terjadi sebanyak 423 kali. Kerugian akibat bencana tersebut mencapai Rp 874,1 miliar. Keseluruhan bencana tersebut berakar dari rusaknya Daerah Aliran Sungai (DAS) di tanah Serambi Mekkah.

Hal tersebut mengemuka dalam diskusi “Daerah Aliran Sungai Kritis, Menanti Bencana” yang digelar oleh Forum Jurnalis Lingkungan (FJL) Aceh dan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Aceh, Selasa (7/9/2021).

RelatedPosts

Gamis Melayu “Bini Orang” Jadi Primadona Lebaran Tahun 2026

Sampel MBG Simpang Mamplam Diuji BBPOM Aceh, Hasil Keluar 4–5 Hari

Nyaris 200 Anak Diduga Keracunan MBG di SP Mamplam, Polisi Segel Lokasi

Kepala Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung (BPDASHL) Krueng Aceh, Eko Nurwijayanto mengatakan 20 dari 954 DAS di Aceh mengalami kerusakan. Katanya, meski 60% Daerah Aliran Sungai berada di kawasan hutan, namun peran hutan itu sendiri pun kini banyak berubah menjadi ladang, perkebunan, dan pertambangan ilegal.

Kata Eko, BPDASHL Krueng Aceh setiap tahun melakukan penanaman pohon di DAS yang kritis. Namun, laju kerusakan tidak sebanding dengan upaya pemulihan. “Kalau tutupan hutan ada areal sungai yang masih baik, tentu potensi bencana juga bisa diminimalisir, begitupun sebaliknya,” ungkapnya.

Senada dengan Eko, Koordinator Walhi Aceh, Muhammad Nur mengatakan selama aktivitas tambang ilegal terus dibiarkan beroperasi, bencana ekologi ini tidak akan pernah selesai. “Selama izin pertambangan galian C tidak berhenti, wilayah sungai akan terus menjadi wilayah ancaman,” ujarnya.

Menurutnya, pemerintah dan dinas berwenang harusnya membuat kajian rinci tentang sungai yang boleh dikeruk dan tidak. Jika pemerintah terus abai dengan aktivitas tambang dan penebangan ilegal, tidak menutup kemungkinan kerugian dan kerusakan yang terjadi di Daerah Aliran Sungai akan terus bertambah setiap tahun.

“Harusnya semua dinas melihat bencana sebagai peluang perbaikan, perbaikan lahan, perbaikan hutan. Mitigasi itu penting. Kita belum melihat langkah konkrit dalam masalah sungai dan lahan ini,” tegasnya.

Muhammad Nur menyebut, hingga kini praktik penebangan liar (illegal logging) dan aktivitas tambang ilegal di hulu sungai dan galian C masih terus menjadi penyebab utama rusaknya DAS dan beruntun kepada kerusakan lain yang merugikan masyarakat sekitar.

“Pertambangan di kawasan hutan harus ditindak. Selama ini seperti ada pembiaran. Tambang ilegal maupun legal itu berdampak pada kerusakan sungai dan airnya tercemar,” katanya.

Sementara itu, Teknik Pengairan Madya Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera I Banda Aceh, Agustian menyebutkan, untuk saat ini daerah paling rawan bencana banjir bandang di Aceh meliputi Aceh Singkil dan Aceh Utara. Hal itu dikarenakan Sungai Jambo Aye di Aceh Utara dan Sungai Alas yang terletak di Singkil sedang dalam kondisi tidak sehat.

“Itu karena perambahan hutan, ilegal logging, dan perusakan aliran sungai,” ucap Agustian.

Dia menambahkan beberapa sungai telah direhab dengan dibangun tanggul. Langkah ini untuk mencegah banjir meluap ke pemukiman warga. Sayangnya, usaha tersebut tidak akan berdampak besar jika kawasan hulu sungai tidak dipulihkan.

Kepala Seksi Pencegahan, Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA), Yudhie Satria, mengamini bencana ekologi seperti banjir dan longsor adalah dampak dari kerusakan daerah hulu sungai. Yudhie mengatakan BPBA hanya bisa membangun kesiapsiagaan warga dalam menghadapi bencana.

“Sebab di Aceh sendiri saat ini bencana alam berupa banjir dan tanah longsor sudah menjadi langganan,” ujar Yudhie.

Dosen Teknik Geologi Universitas Syiah Kuala (USK), Ibnu Rusidy menyebut, selain curah hujan tinggi, pembangunan di daerah rawan longsor, gempa bumi, dan kondisi lereng yang curam juga sering kali menjadi sebab terjadinya longsor. Kondisi tersebut diperparah oleh hilangnya pohon berakar kuat yang menahan laju air dan memperkuat daya tahan tanah.

“Potensi longsor dan banjir bisa dihindari kalau kawasan hulu, hutan lindung ditanami tumbuhan berakar kuat, apalagi kalau akarnya sampai mengikat ke dasar batu,” ujar Ibnu.

Reporter: Missanur Refasesa 

Tags: acehBanjirBencana EkologiDaerah Aliran Sungai (DAS)
Previous Post

Sosialisasi Beasiswa PIP, Illiza Terima Curhatan Kepala Sekolah

Next Post

Rights Issue BBRI Topang Pembentukan Holding BUMN UMi

Related Posts

Hujan Guyur Wilayah Aceh Selatan, Simpang Mutiara Sempat Tergenang Banjir

by Aininadhirah
12 Februari 2026
0

MASAKINI.CO - Derasnya hujan yang mengguyur wilayah Kecamatan Sawang, Kabupaten Aceh Selatan, menyebabkan banjir di Desa Simpang Mutiara pada Rabu...

Lebih dari Dua Bulan Pascabencana, 13 Desa di Aceh Masih Gelap Tanpa Listrik

by Riska Zulfira
11 Februari 2026
0

MASAKINI.CO - Sebanyak 13 desa di wilayah terdampak bencana di Aceh hingga kini masih belum teraliri listrik. Padahal, bencana telah...

Meugang, Tradisi Turun-Temurun Aceh Menyambut Ramadan

by Aininadhirah
4 Februari 2026
0

MASAKINI.CO - Setiap dua hari menjelang Ramadan, Aceh memasuki babak waktu yang berbeda. Jalanan menuju pasar menjadi lebih padat, suara...

Next Post
Rights Issue BBRI Topang Pembentukan Holding BUMN UMi

Rights Issue BBRI Topang Pembentukan Holding BUMN UMi

BRI Dinobatkan sebagai ‘Tempat Bekerja Terbaik di Asia’ versi HR Asia

BRI Dinobatkan sebagai 'Tempat Bekerja Terbaik di Asia' versi HR Asia

Discussion about this post

CERITA

Kisah Saidah: Hanya Sempat Menyusui Sehari, Lalu Kehilangan Selamanya

3 Maret 2026

Singkirkan 4.000 Peserta, Reza Wakili Indonesia ke Rusia

27 Februari 2026
Ismatul Rahmi pemeran Hasanah dalam dokudrama NOEH | Foto: dok pribadi

Air Mata Hasanah, Luka yang Tak Terlihat dalam Film Noeh

17 Februari 2026

Menembus Batas Negeri, Perjalanan Naufal Maulana Menggapai Beasiswa Pemerintah Rusia

14 Februari 2026

TERPOPULER

Plugin Install : Popular Post Widget need JNews - View Counter to be installed
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy

Copyright © 2025 - masakini.co

No Result
View All Result
  • Daerah
  • News
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video

Copyright © 2025 - masakini.co