MASAKINI.CO – Sebanyak 13 desa di wilayah terdampak bencana di Aceh hingga kini masih belum teraliri listrik. Padahal, bencana telah terjadi sejak akhir November 2025 atau lebih dari dua bulan lalu.
Wakil Gubernur Aceh, Fadhlullah, mengatakan keterlambatan pemulihan listrik terjadi karena akses dan jaringan di sejumlah lokasi masih terputus. Kondisi medan yang sulit membuat perbaikan belum bisa dilakukan secara maksimal.
“Sejak bencana sampai hari ini masih ada 13 desa yang belum menyala listriknya. PLN berkomitmen akan mendrop genset lebih dulu agar masyarakat bisa mendapatkan aliran listrik sementara,” kata Fadhlullah, Rabu (11/2/2026).
Menurutnya, pengiriman genset menjadi solusi darurat agar warga tidak terus hidup dalam gelap sambil menunggu perbaikan jaringan permanen. Pemerintah Aceh menargetkan pemulihan layanan dasar, termasuk listrik, bisa segera dirasakan merata.
Selain persoalan listrik, pemerintah juga mempercepat pembangunan hunian sementara (huntara) dan hunian tetap (huntap). Untuk rumah rusak kategori sedang, pembayaran bantuan ditargetkan cair dalam minggu ini.
Data terbaru mencatat sekitar 17 ribu kepala keluarga atau 69 ribu jiwa masih mengungsi. Jumlah tersebut perlahan menurun karena sebagian warga sudah kembali ke rumah atau menempati huntara. Namun, pemerintah pusat mencatat angka pengungsi masih sekitar 74 ribu orang.
Fadhlullah juga meminta percepatan penyaluran bantuan dari Kementerian Sosial, termasuk bantuan hidup bagi warga di huntara, bantuan perabotan, serta dana pemulihan ekonomi. Ia berharap bantuan tersebut bisa cair sebelum meugang Ramadan.
Di sisi lain, Menteri Dalam Negeri, Tito Karnavian menyebut sejak Satgas Rehabilitasi dan Rekonstruksi dibentuk pada 8 Januari 2026, sejumlah sektor mulai pulih, seperti layanan pemerintahan, pendidikan, akses jalan, hingga aktivitas ekonomi masyarakat.
Namun, ia menegaskan percepatan bantuan sangat bergantung pada validitas data penerima. Pemerintah daerah diminta segera menyerahkan data yang telah diverifikasi agar penyaluran bantuan tidak menimbulkan persoalan di kemudian hari.
“Data yang valid menjadi kunci agar prosesnya cepat dan akuntabel,” ujar Tito.










Discussion about this post