MASAKINI.CO
No Result
View All Result
Sabtu, Mei 2, 2026
  • Beranda
  • News
  • Daerah
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Beranda
  • News
  • Daerah
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
MASAKINI.CO
Home Daerah

Posyandu dan Puskesmas, Garda Depan Pengendali Stunting

Ahlul Fikar by Ahlul Fikar
9 November 2022
in Daerah
0
Cegah Stunting dengan Kenali Penyebabnya

Illustrasi stunting. (foto: dok suara.com)

Share on FacebookShare on Twitter

MASAKINI.CO – Posyandu dan Puskesmas jadi garda paling depan untuk mempercepat penurun stunting. Di sana, para balita dipantau pertumbuhannya melalui penimbangan dan pengukuran. Selain itu, pengisian Kartu Menuju Sehat (KMS), pemberian kapsul vitamin A, praktik Pemberian Makan Bayi dan Anak (PMBA).

Di Posyandu dan Puskesmas juga ada pendidikan gizi bagi ibu yang sedang punya balita dan kelas ibu hamil. Kemudian, pemberian tablet tambah darah (TTD) kepada remaja putri untuk atasi anemia.

RelatedPosts

Rencong Aceh, Dari Senjata Bersejarah Menjadi Simbol Identitas yang Terlindungi

Wagub Aceh Tinjau Jalan Rp24 Miliar di Pidie, Warga Tak Lagi Gunakan Sampan

Temuan 20 Hektare Ladang Ganja di Aceh Besar, Tiga Hektare Dimusnahkan

Kader Posyandu dan tenaga kesehatan di Puskesmas senantiasa  mengingatkan masyarakat yang memiliki bayi untuk memberi ASI eksklusif, yaitu bayi usia 0 sampai 6 bulan hanya mendapat ASI saja.

Selanjutnya, bayi dapat mengonsumsi Makanan Pendamping ASI mulai usia 6 bulan serta meneruskan pemberian ASI sampai anak berusia 2 tahun atau lebih.

Para kader di Posyandu juga memberi Penyuluhan PMBA yang diberikan di Posyandu. Hasil dari penyuluhan ini harus dipraktikkan di rumah supaya Balita mendapatkan asupan makanan bergizi yang sesuai dengan kebutuhannya.

Sehingga, daya tahan tubuhnya menjadi lebih baik, dan anak jarang sakit, terhindar dari risiko stunting.

Tak hanya kepada bayi dan balita, para ibu hamil dianjurkan untuk rutin mengikuti kelas ibu hamil agar ibu dan calon anak sehat serta terhindar dari risiko stunting.

Demikian pula pada remaja. Mereka ditekankan untuk mengonsumsi TTD secara teratur agar terhindar dari Anemia (kurang darah). Konsumsi TTD ini sangat bermanfaat untuk meningkatkan konsentrasi belajar dan sebagai persiapan menjadi calon ibu kelak yang sehat.

Kabid Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Aceh dr. Sulasmi, mengatakan bahwa ada 10 program penurunan stunting yang dilaksanakan baik sebelum hamil, saat hamil, dan setelah lahir.

“Pencegahan awal ada pada remaja putri terlebih dahulu. Sebab remaja putri ini, masuk tiga sasaran program penurunan stunting, selain ibu hamil dan balita,” kata Sulasmi, Sabtu (9/11).

Melalui sepuluh program penurunan stunting itu, ungkap Sulasmi, sasaran yang ditujukan kepada remaja putri yakni pemberian TTD seminggu satu kali untuk satu tablet dan pemeriksaan kesehatan termasuk kadar hemagoblin pada siswa kelas tujuh dan kelas sepuluh.

“Kalau untuk ibu hamil itu pemeriksaan kehamilan dengan antenatal care sebanyak enam kali dan dua kali dengan dokter termasuk USG, selanjutnya juga memberikan TTD minimal 90 tablet setelah kehamilan, dan ibu hamil juga perlu makanan tambahan. Jadi kita berikan makanan tambahan KEK berupa protein hewani,” sebutnya.

Sementara program yang dilakukan setelah lahir, yakni pemantauan tumbuh kembang anak dengan penimbangan, pengukuran panjang badan dan pemantauan pertumbuhan balita di Posyandu.

“Program pemberian ASI ekslusif juga termasuk dari sejak lahir hingga umur enam bulan, program memberikan makanan tambahan protein hewani bagi anak 12 hingga 23 bulan berupa telur dan protein lainnya,” kata Sulasmi.

“Dan pemberian makanan tambahan balita di usia kurang dari enam bulan formula 75 dan 100 untuk balita kurang gizi,” tambahnya.

Selain itu, ungkap Sulasmi, peningkatan cakupan dan imunisasi baik pelayanan rutin kampanye bulan imunisasi dasar dan tiga imunisasi tambahan.

“Ingat pentingnya imunisasi terhadap anak sehingga dapat mencegah terjadi stunting,” tutup Sulasmi.

Tags: Dinkes AcehPosyanduPuskesmasStunting
Previous Post

Lagi! BNI Dukung UMKM Diaspora Ekspansi di Inggris

Next Post

FKKS Diminta Aktif Gemakan Wisata Sejarah di Sabang

Related Posts

Imunisasi Rendah Penyebab Kasus Campak di Aceh

Imunisasi Rendah Penyebab Kasus Campak di Aceh

by Redaksi
15 April 2026
0

MASAKINI.CO - Dinas Kesehatan Aceh menyebutkan kasus campak di Aceh disebabkan rendahnya cakupan imunisasi pada anak. Tahun 2026, kasus campak...

Dinkes Aceh Besar Fokus Tangani Stunting pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan

by Redaksi
23 Januari 2026
0

MASAKINI.CO - Pemerintah Kabupaten Aceh Besar melalui Dinas Kesehatan memfokuskan penanganan stunting pada periode 1.000 hari pertama kehidupan (HPK), mulai...

Kasus Campak Ditemukan, Tim Vaksinasi Dikerahkan ke 9 Daerah Terdampak

by Riska Zulfira
19 Januari 2026
0

MASAKINI.CO - Dinas Kesehatan Aceh kembali mengerahkan tim vaksinasi dan pengendalian penyakit menular ke sembilan kabupaten/kota guna mencegah penyebaran campak...

Next Post
FKKS Diminta Aktif Gemakan Wisata Sejarah di Sabang

FKKS Diminta Aktif Gemakan Wisata Sejarah di Sabang

Di Phnom Penh, Jokowi Audiensi Tertutup Dengan Raja Kamboja

Discussion about this post

CERITA

Dari Kuli Panggul ke Pencerita Visual, Perjalanan Sunyi Yulzi di Balik Lensa

1 Mei 2026

Berawal dari Angka Impor, Lahir Tempe Koro dari Dapur Aceh

1 Mei 2026

Latela Donut Olah Labu Jadi Produk Kekinian, Laris di Bazar Banda Experience

23 April 2026

Rumah Dibakar Ayah, Ibu dan Dua Anak Selamat dari Amukan Dini Hari

7 April 2026

TERPOPULER

Plugin Install : Popular Post Widget need JNews - View Counter to be installed
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy

Copyright © 2025 - masakini.co

No Result
View All Result
  • Daerah
  • News
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video

Copyright © 2025 - masakini.co