Posyandu dan Puskesmas, Garda Depan Pengendali Stunting

Illustrasi stunting. (foto: dok suara.com)

Bagikan

Posyandu dan Puskesmas, Garda Depan Pengendali Stunting

Illustrasi stunting. (foto: dok suara.com)

MASAKINI.CO – Posyandu dan Puskesmas jadi garda paling depan untuk mempercepat penurun stunting. Di sana, para balita dipantau pertumbuhannya melalui penimbangan dan pengukuran. Selain itu, pengisian Kartu Menuju Sehat (KMS), pemberian kapsul vitamin A, praktik Pemberian Makan Bayi dan Anak (PMBA).

Di Posyandu dan Puskesmas juga ada pendidikan gizi bagi ibu yang sedang punya balita dan kelas ibu hamil. Kemudian, pemberian tablet tambah darah (TTD) kepada remaja putri untuk atasi anemia.

Kader Posyandu dan tenaga kesehatan di Puskesmas senantiasa  mengingatkan masyarakat yang memiliki bayi untuk memberi ASI eksklusif, yaitu bayi usia 0 sampai 6 bulan hanya mendapat ASI saja.

Selanjutnya, bayi dapat mengonsumsi Makanan Pendamping ASI mulai usia 6 bulan serta meneruskan pemberian ASI sampai anak berusia 2 tahun atau lebih.

Para kader di Posyandu juga memberi Penyuluhan PMBA yang diberikan di Posyandu. Hasil dari penyuluhan ini harus dipraktikkan di rumah supaya Balita mendapatkan asupan makanan bergizi yang sesuai dengan kebutuhannya.

Sehingga, daya tahan tubuhnya menjadi lebih baik, dan anak jarang sakit, terhindar dari risiko stunting.

Tak hanya kepada bayi dan balita, para ibu hamil dianjurkan untuk rutin mengikuti kelas ibu hamil agar ibu dan calon anak sehat serta terhindar dari risiko stunting.

Demikian pula pada remaja. Mereka ditekankan untuk mengonsumsi TTD secara teratur agar terhindar dari Anemia (kurang darah). Konsumsi TTD ini sangat bermanfaat untuk meningkatkan konsentrasi belajar dan sebagai persiapan menjadi calon ibu kelak yang sehat.

Kabid Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Aceh dr. Sulasmi, mengatakan bahwa ada 10 program penurunan stunting yang dilaksanakan baik sebelum hamil, saat hamil, dan setelah lahir.

“Pencegahan awal ada pada remaja putri terlebih dahulu. Sebab remaja putri ini, masuk tiga sasaran program penurunan stunting, selain ibu hamil dan balita,” kata Sulasmi, Sabtu (9/11).

Melalui sepuluh program penurunan stunting itu, ungkap Sulasmi, sasaran yang ditujukan kepada remaja putri yakni pemberian TTD seminggu satu kali untuk satu tablet dan pemeriksaan kesehatan termasuk kadar hemagoblin pada siswa kelas tujuh dan kelas sepuluh.

“Kalau untuk ibu hamil itu pemeriksaan kehamilan dengan antenatal care sebanyak enam kali dan dua kali dengan dokter termasuk USG, selanjutnya juga memberikan TTD minimal 90 tablet setelah kehamilan, dan ibu hamil juga perlu makanan tambahan. Jadi kita berikan makanan tambahan KEK berupa protein hewani,” sebutnya.

Sementara program yang dilakukan setelah lahir, yakni pemantauan tumbuh kembang anak dengan penimbangan, pengukuran panjang badan dan pemantauan pertumbuhan balita di Posyandu.

“Program pemberian ASI ekslusif juga termasuk dari sejak lahir hingga umur enam bulan, program memberikan makanan tambahan protein hewani bagi anak 12 hingga 23 bulan berupa telur dan protein lainnya,” kata Sulasmi.

“Dan pemberian makanan tambahan balita di usia kurang dari enam bulan formula 75 dan 100 untuk balita kurang gizi,” tambahnya.

Selain itu, ungkap Sulasmi, peningkatan cakupan dan imunisasi baik pelayanan rutin kampanye bulan imunisasi dasar dan tiga imunisasi tambahan.

“Ingat pentingnya imunisasi terhadap anak sehingga dapat mencegah terjadi stunting,” tutup Sulasmi.

TAG

Bagikan

Berita Terkait

Tinggalkan Komentar

Berita Terbaru

Berita terpopuler

Add New Playlist